Lelah Bukan Berarti Berhenti

Lelah bukan berarti berhenti

Status adik saya di LINE ini mengingatkan saya kembali..

Belakangan ini rasanya saya lelah.. Lelah bersabar, lelah mengalah, lelah bersikap kuat, lelah menahan segala gejolak dalam dada, lelah memahami tanpa berbalik dipahami, lelah mendengar tanpa berbalik didengar, lelah menanti sebuah kepastian, dan puncaknya saya lelah tersenyum..

Saya menjadi sangat menikmati waktu tidur saya karena semua rasa lelah itu menguras tenaga dan pikiran saya..

Biasanya saya tidak ambil pusing dengan semua perihal hati tersebut karena saya selalu menanamkan dalam diri saya bahwa cukuplah Allah bagiku dan jangan pernah berharap apapun dari manusia..

Biasanya dengan mengingat hal itu rasa lelah saya sirna, tetapi kali ini hati saya begitu sedih dan sedikit bergejolak. Saya tetap mencoba tidak menunjukkan perasaan saya yg sesungguhnya pada dunia.. Lagi-lagi dan seperti biasa, saya mencoba sekuat tenaga berpura-pura dan hanya bergantung pada Allah..

Di saat seperti ini, saya sempat terpikir untuk berhenti, berhenti bersabar, berhenti mengalah, berhenti berpura-pura, berhenti bersikap kuat dsb..

Tapi, hati kecil saya selalu berkata itu bukan tindakan yang benar.. Dan adik saya mengingatkan saya.. Sebagai seorang muslim, tak ada kata berhenti..

Lelah bukan berarti berhenti.. Saya hanya perlu istirahat sejenak, merenung, meluruskan kembali niat2 saya, membersihkan hati saya, menguatkan azam saya, memohon sebanyak-banyak ampunan Allah..

Saya hanya perlu istirahat, menyendiri dan menikmati kesendirian saya dengan bermesra padaNya.. Dan memohon pada Allah untuk menyembuhkan luka di hati saya..

Lelah bukan berarti berhenti..

Advertisements

Aku Memilih Merahasiakan

Aku memilih merahasiakan perkara-perkara penting dalam hidupku..

Dan cukuplah ia mengalir dalam do’a-do’a di sepertiga malam ku, selepas shalat ku, di sujud panjang ku, di perjalanan ku, dalam keterdzaliman, dan di tengah derasnya hujan..

Aku memilih merahasiakan rasa yg nyatanya memang sulit dibahasakan kepada semesta..

Tapi, Allah sangat mengerti setiap rasa yg hadir menyesak dalam dada.. Bahkan bila diri sendiri tak mampu mendeskripsikannya, Allah tahu.. Sangat tahu..

Aku memilih merahasiakan..untuk memperoleh ketenangan..

Aku memilih merahasiakan..lalu sibuk berbenah dan berharap..

Aku memilih merahasiakan hingga takdir yg membuka tabirnya..

Sosok yang menuntun ku meraih SurgaNya

Suatu saat, saya menelepon ummi untuk menyampaikan sesuatu hal penting tentang masa depan, sekaligus ingin mendengar pandangan ummi saat itu karena selama ini kami tidak pernah membicarakn topik masa depan itu.

Sebut saja itu tentang pernikahan. Belum sempat selesai saya berbicara, ummi sudah memotong. hehe.. banyak hal yang ummi jelaskan tentang memilih pasangan hidup. terselip pula beberapa kriteria idaman ummi dan Ayah.. dan saya.. hanya bisa diam dibuatnya.. ku sampaikan juga pendapatku pada ummi. hingga akhirnya kesimpulan ummi sampaikan.. Ummi mau nida dapat suami yang bisa menuntun ke surgaNya, karena sesungguhnya pernikahan itu harus berorientasi pada kehidupan akhirat..

Terlepas dari kriteria yang terkesan duniawi, yang paling utama bagi ummi dan ayah adalah kehadiran sosok yang dapat menuntun ku meraih surgaNya. ah.. siapa yang tidak ingin, saya pun 100% ingin sosok seperti itu.

Jika berbicara tentang orientasi akhirat, maka kita tak akan menemukan celah perbedaan. Saya tak pernah sanggup untuk menolak walau dalam hati karena sesungguhnya saya setuju sepenuhnya akan pendapat ummi tentang hal-hal yang berujung pada akhirat.

Akhir-akhir ini Ayah dan Ummi sedang amat sangat sibuk dengan tugas mulia yg sedang mereka jalankan dengan cinta..  Cinta yg begitu kuat yg juga mempersatukan mereka hingga saat ini… Indah sekali melihat Ayah dan Ummi berjuang di jalan da’wah bersama.. Jalan yg mereka sangat cintai, yg mereka ingin kelak anak-anak mereka juga menjalaninya dengan penuh cinta bersama pasangannya masing-masing..

Ah.. Bismillah saja dengan urusan pernikahan.. Karena ianya akan terjadi di waktu yang tepat.. Dan berbagai kejadian dan peristiwa yang terjadi belakangan ini kepada saya, saya percaya semuanya bagian dari skenario Allah dalam mempertemukan saya dengan sosok yg kelak akan menuntunku meraih surgaNya..

Kemarin landlady rumah kami datang dan mengecek semua ruangan mulai dari dapur, kamar2, dan tak terkecuali kamar mandi. kondisi kamar mandi kami selalu bersih, saya yg bertanggung jawab akan kebersihannya. karena udara Nottingham dingin, maka sehari-hari kami mandi menggunakan air hangat dan bisa dipastikan uap airnya selalu memenuhi kamar mandi dan membuat dinding kamar mandi basah. ini membuat keramik dinding kamar mandi berlumut dibeberapa sudutnya. setiap bertugas membersihkan kamar mandi, saya selalu berusaha keras membersihkannya namun tetap saja dia sulit hilang.

kemarin landlady kami berkomentar tentang lumut tersebut dan menyalahkan kami karena tidak bisa membuat kamar mandi selalu kering. hikss.. dan karena beberapa hal yang bersangkutan dengan kondisi rumah, maka kami diminta untuk move from the house on Wednesday, 3 days earlier from the day that we suppose to leave.

so, this morning, I tried to clean the bathroom.. saya mencoba membersihkannya menggunakan pembersih harpic and then setelah sekian lama tidak bergelut dengan pembersih yang agak ‘keras’, tadi beberapa bagian di tangan dan jari saya terasa perih terkena cairan harpic. belum lagi yang mengenai luka di sekitar jari. satu jam lebih rasanya saya membersihkan kamar mandi. selepasnya saya kemudian ke kampus. sebelum memulai pekerjaan mengetik di laptop, saya memperhatikan jari-jari saya, rasa perihnya masih terasa. kemudian saya teringat ayah dan ummi.

setiap pulang ke rumah, saya selalu menyempatkan diri membersihkan dua kamar mandi di rumah. sebelum merantau, hal itu sudah menjadi tugasku. setelah merantau dan pulang, kondisi kamar mandi terutama bak selalu dipenuhi lumut yang sulit hilang, ummi selalu membersihkannya cuma dengan kapasitasnya tidak sanggup membuatnya cling seperti baru. Alhamdulillah nya saya mempunyai tekad yang begitu kuat setiap pulang ke rumah untuk membersihkan kamar mandi sampai cling dan ini akan saya lakukan saat ayah dan ummi tidak d rumah. ceritanya mau surprise.

dan ketika ayah dan ummi pulang dan menggunakan kamar mandi, barulah mereka tahu klo saya telah membersihkan kamar mandi. tapi, kalimat yang selalu keluar dari mulut ayah dan ummi setiap menyadari kebersihan kamar mandi adalah “tanganmu gak papa nak?” atau “apa gak lecet2 tanganmu nak?” atau pertanyaan senada yang intinya yang selalu terlintas dalam benak mereka selepas melihat kebersihan kamar mandi hasil jerih payahku adalah kondisi tanganku. mereka tahu betul bahwa saya pasti menggunakan portex dan sudah pasti tangan saya luka2 dan lecet2.

another little thing that reminds me of them :’)

Pesan Ayah untuk Kami, anak-anak Ayah.

Ku tulis ulang pesan darimu Ayah, agar dalam setiap perjalanan hidupku aku tak melupakannya..

“Jika diingat-ingat, tentu banyak sudah kejadian dan peristiwa di begitu banyak ruang dan waktu yg telah dialami oleh keluarga kita.Terkininya adalah Ramadhan dan upaya kita mencapai Taqwa. Atmosfirnya begitu kental dan hingga kini masih terasa. Dia semakin jauh namun sekaligus bagi kita semoga ia semakin dekat di tahun yang akan datang. Ada syahdu dan haru biru, serasa masih ingin dibersamainya. Namun, niscaya harus berlalu membawa kita ke alam nyata bahwa inilah hidup dalam keseluruhannya.

Begitu pula dengan kalian anak-anakku. Mengenang masa kecil kalian yg indahnya menenggelamkan kesulitan hidup kita ketika itu. Kini kalian -tanpa kecuali- dengan si bungsu di gerbang Perguruan Tinggi, berarti telah menapak di jalan kedewasaan. Pesan Ayah :

1.Tauhidkan Allah dalam ibadah kalian dan jangan sekali-sekali sekutukanNya dgn lain.

2.Baktilah pada orang tuamu terutama Ibumu.

3.Allah senantiasa bersamamu, melihat, mendengar, mengetahui apapun perbuatanmu…dan kelak akan membalasmu secermat dan seadil-adilnya.

4.Tegakkan shalat melebihi orang kebanyakan…shalat yang mencegahmu menjadi hina di mata Allah dan manusia.

5.Lakukan Da’wah dengan amar ma’ruf nahi munkar dan bersabarlah atas konsekuensinya.

6.Jangan berpaling dari manusia, pertanda kesombonganmu. serta tata dan ukur langkah juga suaramu, engkau manusia bukan keledai.

7. Anak2ku…akrabilah Qur’an dan anak-anak lelakiku akrabilah Masjid.

8.Jika rezeqi mendatangimu…jangan lupa bershadaqah secara proporsional. Itu tradisi besar orang-orang kaya beriman maupun kafir. Rahasia penakluk hati manusia. Garis hidup penguasa.

Ayah bangga jika kalian mengalahkan ayah…sementara ayah akan tetap bertahan melawan kalian di kebajikan2 itu dgn tulang yg semakin rapuh, mata yg semakin buram hingga akhir babakan ayah. FASTABIQUL KHAIRAAT.

Jika ada curahan rasa ayah maupun ibu pada kalian…itu semata karena kalianlah orang terbaik dan tetutama bagi kami untuk dipercaya.Tak ada maksud membebani kalian. Bahkan seluruh ketenangan batin kami…saat kalian konsen pada cta-cita dan masa depan. Itulah urusan utama kalian. Itulah misi kalian.

Selamat berjuang anak2…Entah kelak siapa diantara kalian yg paling beruntung dan siapa pula yg beruntung.
“Aku mencintai kalian”…semoga tak terlalu terlambat utk mengatakannya.
Shalat…Tilawah…Tarbiyah…Kuliah……You all must be smart.”

Bila Rindu…

Dua hari yg lalu, Ayah memposting ini di grup whatsapp keluarga:

“Takdir rumah sepanjang sejarah bagi pemilik jiwa pecita-cita adalah lengang dan sepi. Bukan karena tanpa suara dan gerakan.. tapi karena itu bukan oleh kalian anak-anakku. Tangis masa kecilmu sudah lama berlalu, riuh suara rupa-rupa ekspresimu pun tak lagi terdengar live di sini. Itulah takdir sejarah rumah pemilik cita-cita yang mesti ditinggal pergi oleh anggotanya demi cita-cita yang lebih baik dari sang Ayah dan Ibu di rumah. Suatu saat kalian akan punyai rumah seperti itu dan para pemburu cita-cita itu”

Kemudian kemarin ummi juga mengirim hal yg serupa..

“Sepi rumah tanpa kalian anak-anakku, begitulah Allah berkehendak. Terngiang akan sapaan Tikhar juga yang membuat semakin sepi. Raihlah cita-cita semampu kalian. Sukses selalu anak-anakku. Do’a Ummi dan Ayah selalu untuk kalian”

Rupanya adik saya Raji sudah saatnya kembali ke jakarta, menuntut ilmu. Maka.. Rumah kini benar2 sepi, hanya ada Ayah dan ummi. Adek bungsuku Tiar Alhamdulillah Allah takdirkan merantau ke Bandung, menuntut ilmu di kampus gajah.. Tiar yg paling setia menemani hari2 ayah dan ummi pun kini tak lg ada bersama ayah dan ummi.. Tiar pergi ke Bandung sejak 2 Agustus lalu.

Saya tak mampu membendung air mata kala membaca pesan ummi, susah payah menahan agar tangis tak sesegukan. Jurus ampuh memencet hidung berhasil membatalkan niat air mata untuk jatuh deras membasahi pipi. Jika bukan sedang di kampus, sudah berlembar2 tissue kupakai untuk menyeka air mata. Ah.. Sudah sejak lama air mata ini gampang sekali mengalir hanya krn pesan dr ayah dan ummi. Tahun ini rasanya haru sekali ketika menyadari bahwa kami anak2 ayah dan ummi telah meninggalkan ayah dan ummi merantau jauh..

Bila rindu… maka saya akan mengecek satu persatu media sosial kakak dan adik2 ku, mulai dari facebook, line, whatsapp, atau twitter. Blog mereka pun saya kunjungi. Terkadang dgn sekedar membaca status saja sudah cukup, lalu rindu mengalir dalam do’a, yg pasti dan selalu.

Semalam tidak seperti biasa saya mengecek twitter raji. Satu per satu tweet terbarunya saya baca sampai pada tweet ini.

Capture

Ekspresi pertama entah kenapa saya sedih.. Tapi juga bangga.. Lagi2 air mata menetes.. Ya Allah.. Raji ingin sekali rupanya ke Madinah..beberapa saat yg lalu memang ummi bercerita klo raji ikut daurah sekaligus tes masuk madinah lagi.. Yaa.. lagi, karena tahun sebelumnya pun Raji melalui tes masuk universitas Madinah namun takdir Allah belum meluluskannya.

Malu sekali rasanya, menyadari bahwa semangat saya masih sgt jauh dibanding Raji. Dan membaca harapan nya untuk memiliki akhir yg baik, bertambah lah rasa malu saya.. Raji ini selalu mampu mengingatkan saya tentang akhirat..

Kemudian saya juga mengecek facebook Tiar. Untuk adikku yg satu ini, dia selalu mampu membuat saya tertawa.. Tapi belakangan saya sering dibuatnya terharu dan bangga.. Tiar ini sampai sekarang selalu saya anggap adik kecil padahal dia sudah dewasa.. Rajinnya dia ke mesjid, rajinnya dia tilawah, dan besarnya tekad untuk menjadi lebih baik.. Lagi2 saya malu.. Dia bukan lagi Tiar kecil yang dulu bisa saya gendong, saya gandeng tangannya, dan saya cubit pipinya..

Saya merupakan kakak yang paling dekat dengan Tiar. dan karena Tiar juga kini berada di kampus yang sama dengan kampus saya dulu, maka berbagai pertanyaan seputar perantauan di Bandung dan perkuliahan dia tanyakan kepada saya. dan dalam obrolan kami, beberapa pesan saya sampaikan kepadanya. terdengar seperti dia tidak mendengar dengan serius tapi kemudian tindakan yang ia lakukan beberapa hari belakangan menunjukkan klo nasehat saya ia dengar dengan baik.

Bila rindu, maka do’a2 mengalir semakin kuat. Saya bercita2 ingin umroh di 10 malam terakhir Ramadhan bersama Ayah, ummi, kak Ehsan, Raji, dan Tiar. Dan semoga yg berangkat dr indo hanya kami berlima kecuali Raji yg berangkatnya dari madinah.. Semoga Allah melindungi dan menyayangi Ayah, Ummi, Kak Ehsan, Raji, Tiar.. Semoga sedikitnya pertemuan kami di dunia terganti dengan kekalnya pertemuan kami di jannahNya.

Nobody cares?

I was walking down the stairs when I saw my friend. We are under the same supervisor. So, I talked to him in his experiment room. He is still preparing all the stuffs for his research experiment. He designed a mini warehouse at the Human Factors simulation room. He prepared all the things alone.

Well, I was upset after meeting my supervisor. It seems like he doesn’t ‘care’ so much about my work. Previously, my friend said the same thing to me. He found out that our supervisor didn’t check the entire work that he sent to him. At first, I didn’t believe it. So far my relationship with my supervisor is just fine. But after I sent him my ethics form with a file containing the detail of my study design, he didn’t read it. He only checked my ethic form which is only 5 pages with almost questions and answers things. But actually, it’s not my point. He ignored important thing that I wrote on my study design document and that made me repeat one step of my questionnaire design which I believe I don’t have to do that if my supervisor read it or at least answer my email in advance. Somehow I feel that he doesn’t consider me seriously.. Or maybe he is just too busy and as a master student I should be more independent (?).

Anyway, Back to my friend… That day, he talked much about his problems, complained about our supervisor, and at the end of his ‘curhatan’, he said “Nobody cares.. What am I gonna do when nobody cares?”. I heard him saying that in a hopeless intonation. This was the first time I saw him talking desperately with head facing down.

At that moment, I really wanna say to him that “yes, it might be true that nobody cares. Our supervisor, our course director, they might be busy. Our colleagues, they all are busy doing their dissertation. But, I know Allah cares. He will never leave you alone, struggling on your own, He will definitely help you”.

But ya.. I couldn’t give him that kind of advise as he doesn’t believe in Allah, the one and only God for me.

I tried to show my empathy and recommend him some solutions even though I know he is already tried those solutions.

So.. Here I am, just 1 month left before the presentation and I am still struggling with my questionnaire. On 29th July, I went to the Network Rail, doing my first visit that supposed to happen on the first week of July.

Based on the interview results and what I observed, I have to restructure my questionnaire. I have to work again and again on my Q. And my spv said it is impossible to get the responses by the end of the first week of August. I know, he pretend to be realistic by saying that. So I give up and ask him if I could extend my dissertation period. He said “I don’t know but I’ll try to speak with Gary (my course director) and ask him if you could be given a couple of weeks after the deadline to finish your work. This is not your fault after all”.

Allah.. I came home with so many things on my mind. Couldn’t create my own spirit and start doing my work again. I just don’t know where to start and what to do next. I kept calm and positive thinking in front of my spv, in front of everyone. But when I am alone, I start crying and negative thinking.

But, as I am thinking after my shalat, I realise that Allah will never put me in a situation that beyond my capacity. And as I always believe, this is the way to make me closer to Him.

Now, I am waiting for all completed questionnaire. I am waiting for an email from survey monkey to say ‘you’ve got a new response’..

I do hope that I can finish my dissertation on time. Hikss…

Allah.. Guide me.. Help me..🙏