Kemarin landlady rumah kami datang dan mengecek semua ruangan mulai dari dapur, kamar2, dan tak terkecuali kamar mandi. kondisi kamar mandi kami selalu bersih, saya yg bertanggung jawab akan kebersihannya. karena udara Nottingham dingin, maka sehari-hari kami mandi menggunakan air hangat dan bisa dipastikan uap airnya selalu memenuhi kamar mandi dan membuat dinding kamar mandi basah. ini membuat keramik dinding kamar mandi berlumut dibeberapa sudutnya. setiap bertugas membersihkan kamar mandi, saya selalu berusaha keras membersihkannya namun tetap saja dia sulit hilang.

kemarin landlady kami berkomentar tentang lumut tersebut dan menyalahkan kami karena tidak bisa membuat kamar mandi selalu kering. hikss.. dan karena beberapa hal yang bersangkutan dengan kondisi rumah, maka kami diminta untuk move from the house on Wednesday, 3 days earlier from the day that we suppose to leave.

so, this morning, I tried to clean the bathroom.. saya mencoba membersihkannya menggunakan pembersih harpic and then setelah sekian lama tidak bergelut dengan pembersih yang agak ‘keras’, tadi beberapa bagian di tangan dan jari saya terasa perih terkena cairan harpic. belum lagi yang mengenai luka di sekitar jari. satu jam lebih rasanya saya membersihkan kamar mandi. selepasnya saya kemudian ke kampus. sebelum memulai pekerjaan mengetik di laptop, saya memperhatikan jari-jari saya, rasa perihnya masih terasa. kemudian saya teringat ayah dan ummi.

setiap pulang ke rumah, saya selalu menyempatkan diri membersihkan dua kamar mandi di rumah. sebelum merantau, hal itu sudah menjadi tugasku. setelah merantau dan pulang, kondisi kamar mandi terutama bak selalu dipenuhi lumut yang sulit hilang, ummi selalu membersihkannya cuma dengan kapasitasnya tidak sanggup membuatnya cling seperti baru. Alhamdulillah nya saya mempunyai tekad yang begitu kuat setiap pulang ke rumah untuk membersihkan kamar mandi sampai cling dan ini akan saya lakukan saat ayah dan ummi tidak d rumah. ceritanya mau surprise.

dan ketika ayah dan ummi pulang dan menggunakan kamar mandi, barulah mereka tahu klo saya telah membersihkan kamar mandi. tapi, kalimat yang selalu keluar dari mulut ayah dan ummi setiap menyadari kebersihan kamar mandi adalah “tanganmu gak papa nak?” atau “apa gak lecet2 tanganmu nak?” atau pertanyaan senada yang intinya yang selalu terlintas dalam benak mereka selepas melihat kebersihan kamar mandi hasil jerih payahku adalah kondisi tanganku. mereka tahu betul bahwa saya pasti menggunakan portex dan sudah pasti tangan saya luka2 dan lecet2.

another little thing that reminds me of them :’)

Advertisements

Bila Rindu…

Dua hari yg lalu, Ayah memposting ini di grup whatsapp keluarga:

“Takdir rumah sepanjang sejarah bagi pemilik jiwa pecita-cita adalah lengang dan sepi. Bukan karena tanpa suara dan gerakan.. tapi karena itu bukan oleh kalian anak-anakku. Tangis masa kecilmu sudah lama berlalu, riuh suara rupa-rupa ekspresimu pun tak lagi terdengar live di sini. Itulah takdir sejarah rumah pemilik cita-cita yang mesti ditinggal pergi oleh anggotanya demi cita-cita yang lebih baik dari sang Ayah dan Ibu di rumah. Suatu saat kalian akan punyai rumah seperti itu dan para pemburu cita-cita itu”

Kemudian kemarin ummi juga mengirim hal yg serupa..

“Sepi rumah tanpa kalian anak-anakku, begitulah Allah berkehendak. Terngiang akan sapaan Tikhar juga yang membuat semakin sepi. Raihlah cita-cita semampu kalian. Sukses selalu anak-anakku. Do’a Ummi dan Ayah selalu untuk kalian”

Rupanya adik saya Raji sudah saatnya kembali ke jakarta, menuntut ilmu. Maka.. Rumah kini benar2 sepi, hanya ada Ayah dan ummi. Adek bungsuku Tiar Alhamdulillah Allah takdirkan merantau ke Bandung, menuntut ilmu di kampus gajah.. Tiar yg paling setia menemani hari2 ayah dan ummi pun kini tak lg ada bersama ayah dan ummi.. Tiar pergi ke Bandung sejak 2 Agustus lalu.

Saya tak mampu membendung air mata kala membaca pesan ummi, susah payah menahan agar tangis tak sesegukan. Jurus ampuh memencet hidung berhasil membatalkan niat air mata untuk jatuh deras membasahi pipi. Jika bukan sedang di kampus, sudah berlembar2 tissue kupakai untuk menyeka air mata. Ah.. Sudah sejak lama air mata ini gampang sekali mengalir hanya krn pesan dr ayah dan ummi. Tahun ini rasanya haru sekali ketika menyadari bahwa kami anak2 ayah dan ummi telah meninggalkan ayah dan ummi merantau jauh..

Bila rindu… maka saya akan mengecek satu persatu media sosial kakak dan adik2 ku, mulai dari facebook, line, whatsapp, atau twitter. Blog mereka pun saya kunjungi. Terkadang dgn sekedar membaca status saja sudah cukup, lalu rindu mengalir dalam do’a, yg pasti dan selalu.

Semalam tidak seperti biasa saya mengecek twitter raji. Satu per satu tweet terbarunya saya baca sampai pada tweet ini.

Capture

Ekspresi pertama entah kenapa saya sedih.. Tapi juga bangga.. Lagi2 air mata menetes.. Ya Allah.. Raji ingin sekali rupanya ke Madinah..beberapa saat yg lalu memang ummi bercerita klo raji ikut daurah sekaligus tes masuk madinah lagi.. Yaa.. lagi, karena tahun sebelumnya pun Raji melalui tes masuk universitas Madinah namun takdir Allah belum meluluskannya.

Malu sekali rasanya, menyadari bahwa semangat saya masih sgt jauh dibanding Raji. Dan membaca harapan nya untuk memiliki akhir yg baik, bertambah lah rasa malu saya.. Raji ini selalu mampu mengingatkan saya tentang akhirat..

Kemudian saya juga mengecek facebook Tiar. Untuk adikku yg satu ini, dia selalu mampu membuat saya tertawa.. Tapi belakangan saya sering dibuatnya terharu dan bangga.. Tiar ini sampai sekarang selalu saya anggap adik kecil padahal dia sudah dewasa.. Rajinnya dia ke mesjid, rajinnya dia tilawah, dan besarnya tekad untuk menjadi lebih baik.. Lagi2 saya malu.. Dia bukan lagi Tiar kecil yang dulu bisa saya gendong, saya gandeng tangannya, dan saya cubit pipinya..

Saya merupakan kakak yang paling dekat dengan Tiar. dan karena Tiar juga kini berada di kampus yang sama dengan kampus saya dulu, maka berbagai pertanyaan seputar perantauan di Bandung dan perkuliahan dia tanyakan kepada saya. dan dalam obrolan kami, beberapa pesan saya sampaikan kepadanya. terdengar seperti dia tidak mendengar dengan serius tapi kemudian tindakan yang ia lakukan beberapa hari belakangan menunjukkan klo nasehat saya ia dengar dengan baik.

Bila rindu, maka do’a2 mengalir semakin kuat. Saya bercita2 ingin umroh di 10 malam terakhir Ramadhan bersama Ayah, ummi, kak Ehsan, Raji, dan Tiar. Dan semoga yg berangkat dr indo hanya kami berlima kecuali Raji yg berangkatnya dari madinah.. Semoga Allah melindungi dan menyayangi Ayah, Ummi, Kak Ehsan, Raji, Tiar.. Semoga sedikitnya pertemuan kami di dunia terganti dengan kekalnya pertemuan kami di jannahNya.

Nobody cares?

I was walking down the stairs when I saw my friend. We are under the same supervisor. So, I talked to him in his experiment room. He is still preparing all the stuffs for his research experiment. He designed a mini warehouse at the Human Factors simulation room. He prepared all the things alone.

Well, I was upset after meeting my supervisor. It seems like he doesn’t ‘care’ so much about my work. Previously, my friend said the same thing to me. He found out that our supervisor didn’t check the entire work that he sent to him. At first, I didn’t believe it. So far my relationship with my supervisor is just fine. But after I sent him my ethics form with a file containing the detail of my study design, he didn’t read it. He only checked my ethic form which is only 5 pages with almost questions and answers things. But actually, it’s not my point. He ignored important thing that I wrote on my study design document and that made me repeat one step of my questionnaire design which I believe I don’t have to do that if my supervisor read it or at least answer my email in advance. Somehow I feel that he doesn’t consider me seriously.. Or maybe he is just too busy and as a master student I should be more independent (?).

Anyway, Back to my friend… That day, he talked much about his problems, complained about our supervisor, and at the end of his ‘curhatan’, he said “Nobody cares.. What am I gonna do when nobody cares?”. I heard him saying that in a hopeless intonation. This was the first time I saw him talking desperately with head facing down.

At that moment, I really wanna say to him that “yes, it might be true that nobody cares. Our supervisor, our course director, they might be busy. Our colleagues, they all are busy doing their dissertation. But, I know Allah cares. He will never leave you alone, struggling on your own, He will definitely help you”.

But ya.. I couldn’t give him that kind of advise as he doesn’t believe in Allah, the one and only God for me.

I tried to show my empathy and recommend him some solutions even though I know he is already tried those solutions.

So.. Here I am, just 1 month left before the presentation and I am still struggling with my questionnaire. On 29th July, I went to the Network Rail, doing my first visit that supposed to happen on the first week of July.

Based on the interview results and what I observed, I have to restructure my questionnaire. I have to work again and again on my Q. And my spv said it is impossible to get the responses by the end of the first week of August. I know, he pretend to be realistic by saying that. So I give up and ask him if I could extend my dissertation period. He said “I don’t know but I’ll try to speak with Gary (my course director) and ask him if you could be given a couple of weeks after the deadline to finish your work. This is not your fault after all”.

Allah.. I came home with so many things on my mind. Couldn’t create my own spirit and start doing my work again. I just don’t know where to start and what to do next. I kept calm and positive thinking in front of my spv, in front of everyone. But when I am alone, I start crying and negative thinking.

But, as I am thinking after my shalat, I realise that Allah will never put me in a situation that beyond my capacity. And as I always believe, this is the way to make me closer to Him.

Now, I am waiting for all completed questionnaire. I am waiting for an email from survey monkey to say ‘you’ve got a new response’..

I do hope that I can finish my dissertation on time. Hikss…

Allah.. Guide me.. Help me..🙏

Catching Dream

Bismillahirrahmanirrahim…

Alhamdulillah.. sudah 6 bulan saya berada di Nottingham, UK. Allah menakdirkan salah satu mimpi besar ini menjadi kenyataan. Dengan izinNya, saya berkesempatan melanjutkan studi saya ke jenjang S2 dengan beasiswa full dari LPDP. Mimpi yang tertulis di dinding kamar kost dulu terwujud sebagaimana ia tertulis. Alhamdulillah…

Perjalanan panjang meraih mimpi ini saya lalui selama kurang lebih satu tahun. Dengan banyak pengorbanan, do’a, dan air mata.. dan yang pasti kesabaran dalam setiap langkah proses meraihnya. Perjalanan panjang itu saya namakan “Catching Dream” dengan tagline “go catch your dream nid, Bismillah :)”

Saya akan coba merangkum kisahnya dalam tulisan ini. Semoga bisa menginspirasi dan mengobarkan kembali semangat yang mungkin sedang padam.

Saya merupakan orang yang sangat menikmati proses dengan jerih payah saya sendiri. Dalam proses meraih mimpi-mimpi saya, saya berusaha semaksimal saya, mengerjakan apa yang saya bisa sebagai hambaNya dan menyerahkan selebihnya kepada Allah.

Tepat setelah saya lulus oktober 2013 lalu, saya segera mulai mengumpulkan informasi mengenai universitas yang akan saya daftar. Yang pertama kali saya lakukan adalah mencari melalui google dengan keyword “master of ergonomics in Europe”. Saya berfokus pada jurusan. Sejak lama saya telah menetapkan untuk mengambil jurusan ergonomi. Menurut dosen saya, jurusan ini sangat mudah ditemui hampir di semua universitas di Amerika, beberapa di eropa dan juga Australia. Karena alasan kecenderungan dan restu ortu, saya akhirnya memilih Eropa. Lagipula saat itu saya merasa tidak mampu mendaftar di US yang mana persyaratannya konon katanya lebih susah dan ribet. But.. alasan utama saya tetap restu orang tua yang tidak mengizinkan saya untuk ke US.

Dari pencarian saya di google, saya menemukan 3 universitas namun akhirnya hanya mendaftar di dua universitas yaitu university of Nottingham dan Loughbrough University. Pendaftaran dilakukan secara online. Saya catat semua syarat-syaratnya dan mulai mempersiapkannya.

Saat itu, saya memang sedang menganggur. Alhamdulillah, orang tua mendukung penuh dan mengizinkan saya untuk tetap berada di Bandung demi mempersiapkan segala sesuatu untuk S2 saya.

Langkah pertama yang saya lakukan saat itu adalah les IELTS untuk mempersiapkan diri menghadapi tes IELTS.. Saya mengikuti les intensif 1 bulan.. Di Bandung, ada beberapa alternatif tempat les yang bagus. Saya sendiri membandingkan dua tempat les yaitu IEDUC dan TBI. Pilihan saya akhirnya jatuh pada IEDUC karena budget yang disanggupi ortu dan jam belajar yang lumayan lama (3 jam setiap hari senin-jum’at). Saya sadar uang senilai hampir 3 juta untuk les itu cukup memberatkan orang tua saya. Namun, saya sangat bersyukur karena setiap kali saya meminta maaf karena merepotkan mereka, mereka hanya berkata “gak perlu minta maaf, ini kan sudah menjadi kewajiban kami sebagai orang tua nida, yang penting nida sungguh-sungguh menjalaninya”. Yaa.. orang tua saya adalah orang yang paling mendukungku lahir batin untuk meraih mimpi melanjutkan S2 di luar negeri.

Setelah menyelesaikan les IELTS, saya kemudian mendaftar tes IELTS dengan jadwal 3 minggu setelah les berakhir. Satu minggu setelah les, saya cukup berleha-leha dan tidak belajar. 2 minggu sebelum tes barulah saya mulai kembali mengintensifkan diri belajar. Saya copy semua bahan IELTS dari teman saya, saya print beberapa yang penting, saya kerjakan soal-soal IELTS tahun-tahun sebelumnya. Pagi..siang..sore..malam saya berkutat dengan buku, laptop, dan lembar-lembar kertas yang sudah saya print. Saya selingi dengan aktivitas menelepon ummi untuk memperoleh tambahan semangat dan rasa percaya diri. Saya biasanya menelepon di balkon kost sambil menatap langit.. sambil bercerita progress persiapan saya kepada ummi, saya tak henti2nya berdo’a dalam hati. “Ya Allah.. izinkan saya menatap langitMu di belahan bumi-Mu yang lain” itu salah satu do’a saya.

Ayah dan Ummi bilang “Kalau nilai IELTS nida belum sampai syarat, tes lagi dan lagi sampai nida berhasil”. Saya saat itu tidak tahu lagi harus berkata apa.. sangat terharu memiliki orang tua yang benar-benar mendukung luar biasa. Kakak saya pun dikesempatan lain melalui telepon mencoba menyemangati dengan statement yang agak berbeda. “Gini aja, nida kan les dan tes pakai uang Ayah Ummi kan. Berarti harus belajar bener2 supaya score IELTS nya bagus. Nanti kalau gagal, tes lagi tapi syaratnya harus pakai uang sendiri” dari mana coba uang sendiri?? “Nah atau sekalian aja lupain tuh S2 ke luar dan langsung daftar S2 di dalam negeri” huaaaa.. jahatnya. Tapi.. kata-kata kakak saya itu salah satu yang memotivasi saya untuk bisa meraih score IELTS sesuai syarat dalam satu kali tes. Bismillah..

Setelah menunggu 2 minggu, hasil IELTS keluar dan rasanya luar biasa deg2an ketika hendak membuka melalui website. Alhamdulillah.. nilai IELTS ku memenuhi syarat daftar univ dan LPDP. Sangat cukup… Allah benar-benar mengabulkan do’aku… Nilai IELTS saya 6.5, syarat univ of Nottingham 6.0, syarat Loughborough univ 6.5, dan syarat LPDP 6.5. Ya Allah.. rasanya begitu Allah mudahkan hingga tahap ini.

Setelah memperoleh nilai IELTS, barulah saya mendaftar di kedua univ secara online.. saya isi setiap data diri yang dibutuhkan dan kemudian meng-upload satu per satu dokumen yang dibutuhkan. Saya bolak balik ke kampus, berurusan dengan tata usaha fakultas, sekretaris lab, dan tentu saja dosen. Saya juga sangat bersyukur karena dosen-dosen sangat baik meluangkan waktu untuk membantu membuatkan surat rekomendasi, menjadi tempat saya untuk berkonsultasi bahkan salah satu dosen bersedia mereview personal statement saya. Alhamdulillah..

Saya kemudian mendapat informasi bahwa deadline submit dokumen LPDP periode saat itu tanggal 19 Mei. Saat saya mendaftar LPDP, belum ada kabar dari kedua univ yang saya daftar. Saya mendaftar LPDP tanpa LoA (Letter of Acceptance). Tepat seminggu setelah penutupan pendaftaran, hasil seleksi administrasi keluar. Alhamdulillah.. nama saya ada di dalamnya. Tahapan selanjutnya adalah seleksi wawancara. Saya memperoleh jadwal wawancara tanggal 10-11 Juni 2014 bertempat di Unpad Dipati Ukur, Bandung.

Tanggal 27 Mei 2014, saya mendapat email dari Loughborough yang menyatakan bahwa saya diterima sebagai mahasiswa di sana dengan syarat saya harus melengkapi satu lagi surat rekomendasi yang memang belum saya upload. Saya cukup lega dan bersyukur menerima email tersebut. Saat menerima email itu, orang tua sedang berada di Jakarta bersama saya, mereka datang menemani saya mengurus persiapan dan kebetulan memang sedang ada urusan juga.

lough

Beberapa jam kemudian, saya memperoleh email dari University of Nottingham yang menyatakan bahwa saya diterima. Alhamdulillah… benar-benar rasanya tidak percaya sehingga saya berkali-kali membaca email tersebut, kata demi kata. Saya begitu takut jikalau saya salah membacanya atau salah menginterpretasikan maksud dari email tersebut. :’)

notts offer

Saya harus segera merespon email dari kedua univ dengan balasan menerima offer mereka, menolak, atau menundanya. Setelah berbicara kepada orang tua dengan mempertimbangkan bahwa Loughborough univ tidak masuk dalam list univ LPDP, maka saya memutuskan untuk “accept offer” dari univ of Nottingham.

Tanggal 26 Juni saya memperoleh email dari LPDP yang menyatakan bahawa saya terpilih sebagai calon penerima beasiswa dan WAJIB mengikuti Program Kepemimpinan (PK).

Melewati satu demi satu tahapan seperti melewati lorong gelap, perasaan takut dan ingin segera melihat setitik cahaya itu yang saya rasakan. Dan saat saya berhasil keluar dari lorong itu rasanya sangat lega dan bersyukur, namun saya harus kembali fokus untuk bisa melewati tahapan selanjutnya.

Bukan perjuangan namanya tanpa rintangan, pada proses menuju PK inilah beberapa rintangan saya hadapi. Dalam proses ini, Allah menguji saya.. penentuan jadwal PK dilakukan dengan mengisi kuesioner dan jadwal akan ditetapkan oleh panitia LPDP dengan merujuk pada hasil kuesioner. Saya mendapat jadwal PK di bulan November padahal saya mulai kuliah bulan September. Saya mencoba mengganti jadwal dengan mengirim email dan pihak LPDP menyarankan saya untuk menukar jadwal dengan teman atau sesama calon penerima beasiswa lainnya. Saya coba menghubungi beberapa teman, memposting di grup FB LPDP tetapi tidak ada yang bersedia menukar jadwalnya. Saya paham betul semua calon awardee sedang berada di posisi yang sama dengan saya. Mereka semua juga akan segera memulai perkuliahan. Saya akhirnya mencoba menelepon LPDP ke bagian customer service. Saya coba sampaikan kondisi saya, tetapi saya disarankan untuk menunda keberangkatan setahun lagi. Ini ujian bagi saya, karena terus terang mimpi saya bergantung dari beasiswa ini. Saat itu saya sedih luar biasa, Ayah saya bilang “kamu sudah mengorbankan satu tahun demi ini. dan ini harus kamu perjuangkan. Ayah akan bantu juga. tetap berbaik sangka sama Allah ya nak”.

Saya semangat kembali dan saya bertekad untuk tidak menyerah. Saya coba datangi kantor LPDP untuk bertemu langsung dengan PIC PK dan ternyata sangat mudah.. sangat mudah bagi Allah untuk menjadikan semua urusan mudah. Di tengah menjalani rapat, Pak Kamil, PIC PK mau menemui saya dan tanpa basa basi mengganti jadwal PK saya. Saya akhirnya diperbolehkan megikuti PK 16 tanggal 24-30 Oktober. Alhamdulillah…

Setelah urusan jadwal PK selesai, saya benar-benar bias bernafas lega dan mulai melangkah pasti mempersiapkan keberangkatan. Saya mulai disibukkan dengan aktivitas bolak balik Jakarta Bandung, mengurus segala persiapan. Saya harus menjalani tes TB sebagai syarat untuk apply VISA. Saya juga harus kembali ke Jakarta untuk menghadiri briefing yang diadakan oleh University of Nottingham. Saya bolak balik Jakarta seorang diri, menumpang di kost teman, di rumah teman, menumpang di rumah tante.. saat itu saya merepotkan banyak orang tapi Alhamdulillah Allah menggerakkan mereka untuk membantu saya menyelesaikan satu per satu urusan tanpa orang tua di samping saya.

Saya juga harus mengosongkan dan pindah dari kost di Bandung. Ayah yang kebetulan sedang ada dinas di Jakarta, mampir ke Bandung untuk membantu pindahan saya. Semua barang saya di bawa ke Jakarta, dititip di rumah tante. Ayah bilang beliau sedih sepanjang perjalanan dari Bandung ke Jakarta. Ayah teringat beberapa kenangan sejak pertama kali puterinya merantau ke Bandung hingga kini harus meninggalkan Bandung. Bandung menyisakan kenangan mendalam juga bagi Ayah.. :’) Saya pun sedih luar biasa harus meninggalkan Bandung. Rasanya saya akan menulis episode khusus untuk ini.

Tsaaah… Alhamdulillah dengan meninggalkan Bandung, artinya semua urusan beres dan akhirnya saya bisa pulang ke rumah, di Pangkep, Sul-Sel. Pulang kali ini adalah kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga dan teman sebelum berangkat. Ini juga kesempatan untuk meminta do’a restu dari semua orang. Sebulan sebelum PK saya habiskan di rumah dan juga disibukkan dengan tugas-tugas pra PK.

Saya kembali lagi ke Jakarta untuk menjalani PK. Setelah PK, saya hanya punya waktu 2 minggu untuk mempersiapkan keberangkatan saya. Ayah dan Ummi datang kembali ke Jakarta menemani saya menyelesaikan urusan yang belum selesai seperti berbelanja kebutuhan keberangkatan dan packing. Ayah, Ummi, adik saya yang kuliah di Jakarta, serta Om dan Tante mengantar saya ke bandara tanggal 14 September 2014. Rasanya campur aduk sekali.. Pesawat terbang, kami tiba dan naik kereta dari Birmingham menuju Nottingham. Masih tidak percaya saat itu kalau saya telah berada di negeri orang. Sampai akhirnya tiba di Nottingham dan di sambut dengan tulisan Nottingham di stasiun juga delamat datang dari Univ of Nottingham. 😀

notts station

birmi

Alhamdulillah.. saat ini sudah 6 bulan lebih saya berada di Nottingham, UK. Hari demi hari, saat saya bangun tidur, berjalan ke kampus, dan berkelana, sering terbesit dalam hati “apakah ini nyata? Atau hanya mimpi?”

Yaa.. ini mimpi, mimpi yang menjadi kenyataan. Mimpi yang dengan izinNya, hanya dengan izinNya menjadi nyata. Hari demi hari selepas mimpi itu menjadi kenyataan, Allah tak pernah berhenti mengaruniakan nikmat yang membuat haru diri ini. Saya sadar betul bahwa mimpi-mimpi ini terwujud sebagian besar karena do’a orang-orang tercinta, orang tua, teman, kerabat, dan semesta.. Semesta mendukung jika mimpi itu memang ditakdirkan untuk menjadi kenyataan 🙂

oh yaa.. saya pernah menulis ini https://indispira.wordpress.com/2013/01/11/my-dreams-soon-come-true-aamiin/.

Alhamdulillah, saya lulus dan wisuda S1 bulan oktober 2013. Saya juga sempat les biola dan ikut dalam konser tahunan komunitas Biola Bandung (ini langkah awal untuk mencoret mimpi menjadi violist..hehe), merajut pun saya telah lakukan dan hasilnya berupa syal sudah saya hadiahi ke dua orang sahabat. Mimpi S2 di Eropa beasiswa full alhamdulilah juga terkabul.. sebelum berangkat ke UK, saya pun telah membeli kamera dengan uang sendiri.. jelajah dunia pelan-pelan saya jalani dengan diawali dari UK, Turki (alhamdulillah ini impian sejak SMA dan telah terealisasi bulan Desember 2014 lalu), dan insya Allah selepas kuliah selesai saya ingin menjelajah Eropa.. mimpi bisa main angklung saya ganti dengan bisa tampil tari saman dan insya Allah saya bersama teman2 di sini akan menampilkan tari saman pada acara Indofest bulan Juni nanti.. semoga Allah berkenan mengabulkan mimpi-mimpi lain saya dan juga teman-teman semua 🙂

Si Garong :)

Namanya Garong..

Entah siapa yang pertama kali memberinya nama itu, saya lupa..

Yang unik dari Garong adalah tingkahnya yang sangat “merdeka”

Kalau berjalan sangat lambat, jika kami (atau salah satu dari kami) mencoba mengusirnya dengan senjata andalan (sapu), dia tak pernah merasa terancam, apalagi hanya dengan kata “hush..hush..” yang seakan menggertak..

Garong tetap berlenggok seperti tidak terjadi apa-apa di sekeliling nya.. padahal kami sudah seringkali ramai meneriakinya, membicarakannya, menertawainya, dan kadang dengan sedikit kesal memakinya.. tapi Garong tak pernah peduli.. dia tetap berlaku sesuka hatinya..

Jika sedang beruntung, maka dia akan menanggapi dengan menoleh sebentar, bergumam dengan suara serak khas Garong, lalu kembali berjalan..

Pernah Garong kami usir dengan sapu, karena dia tidak bergeming, maka saya dorong dia dengan sapu tersebut. Tubuhnya lumayan berat.. saya sedikit kesulitan di buatnya.. Garong juga tampak pasrah di dorong, tanpa perlawanan.. tapi kemudian secara tak terduga Garong bergerak berbalik dan menunjukkan tampang seperti menantang saya “Apa lo? Mau ngapain?” , spontan saya melangkahkan kaki mundur menajuhinya.. takut jika tiba-tiba Garong menyerang..

Saya yang masih kaget kemudian malah kesal dibuatnya. Maka, saya menyerah dan kembali masuk kamar.. tapi di kamar saya tak berhenti tersenyum membayangkan tingkah Garong tadi..

Pintu kost 21 selalu di kunci.. sebenarnya jika saja Garong ingin melompat, maka dia bisa saja masuk dengan cara itu melewati ruang di antara teralis pintu.. tapi sesungguhnya bukan tidak ingin, Garong nampaknya tidak sanggup mengingat tubuh tambunnya dan sifat “malas” nya yang luar biasa.. Maka, yang dilakukannya adalah menunggu seseorang membuka pintu dan dia menerobos masuk. Dengan cari itu pun, saya curiga Garong sering gagal masuk karena geraknya yang sangat lambat.

Setelah memasuki kost, yang akan dilakukan Garong adalah memulai tingkah normal kucingnya yaitu apalagi kalau bukan mengendus-endus, berjalan ke arah sumber bau (tempat sampah), dan melompat ke arah nya dan bisa kau tebak.. suasana kost yang sepi sejenak ramai oleh bunyi tempat sampah yang jatuh.. seluruh isinya tumpah dan mulailah Garong mengubrak-abrik isinya.. plastik hitam di cakar-cakarnya demi mendapatkan tulang ayam maupun ikan sisa makan anak-anak kost. Aktivitasnya ini dilakukan dari lantai satu hingga lantai 3. Mungkin juga ke lantai 4 dan menyeberang ke kost 23 yang terhubung lewat lantai 3 kost 21.

Jika sudah kenyang, maka Garong akan mengantuk.. Garong akan mulai berjalan mencari tempat untuk tidur..

Garong ini kucing yang cukup elit, harus tidur beralas “kasur” empuk.. daaannn entah sejak kapan dia seringnya memilih keset depan kamarku.. mungkin karena kesetku ada tiga lapis hingga terasa begitu empuk.. mungkin juga dia menangkap aura kepasrahan diriku setiap kali melihatnya tidur pulas di atas kesetku, ya dia berpikir saya mengizinkannya..

Lama-lama memang saya tak peduli dan meresmikannya sebagai alas tidur garong (dan saya tak akan memakainya lagi sebelum mencucinya)..

Image      Image

Maka, hari-hari berikutnya dia akan tidur di kesetku lagi.. ujug-ujug, tanpa sama sekali kusadari.. seringkali teman-teman lantai 3 (nisa, fira, hera, marini atau teh ica) yang menyadari keberadaan Garong saat mereka hendak ke kamar mandi.. dan mereka akan berteriak

“kak nidaaa… anaknya tuh tidur di depan kamar”

Saya yang sedang asik dengan tugas hanya akan bersuara lirih “he eh..”

Jika sudah penat berada di depan laptop maka pelan-pelan saya membuka pintu kamar dan mengamati wajah Garong yang tertidur pulas.. beneran pulas lah dia.. bahkan saya melangkahinya untuk ke kamar mandi, Garong tidak terusik..

Pernah suatu kali teman-teman heboh berbisik-bisik di luar kamar.. memanggilku untuk keluar sebentar melihat Garong..

Ahhh.. Garong tidur dengan posisi yang lucu.. kepalanya berada di salah satu tangannya (ikut sunnah Rasul ya Garong.. 🙂 ), mulutnya sedikit terbuka.. tampak sangat lelah.. pasti Garong habis keliling Pelesiran mencari makan.

Tidak lama dia berganti posisi, tangannya menjulur ke depan.. lucu banget pokoknya.. kayak manusia aja Garong.. menikmati sekali.. sampai di colek pakai sendal pun Garong tidak bangun..

Garong juga suka nakal.. jalan lalu tiba-tiba pipis di kanan kiri lorong kost seenaknya, dimana beberapa kardus, barang, dan koper diletakkan. Untungnya, beberapa barang kami bungkus plastik, jadi pipis Garong tidak mengenai barang kami secara langsung.. tapi tetap sajaaa.. hal ini sungguh nggak banget bagi kami.. was-was kami dibuatnya.. jangan-jangan hampir setiap sudut sudah dipipisi Garong. Heuuu…

Sudah beberapa bulan dia tidak main ke kost kami.. tapi kami masih menemuinya di sekitar jalan Pelesiran, berjalan lambat dan santai, menikmati hidup…

Suatu saat saya menemuinya sedang terlelap di kedai kecil penjual nasi kuning dekat kost. Garong sedang tertidur.. saya berjalan saja, tapi sesuatu di kepalanya membuat langkahku berbalik kembali padanya..

Kulit kepala dekat matanya terkelupas dengan bekas darah yang sudah mengering.. Astaghfirullah..

Karena sedang terburu-buru, maka ku teruskan langkahku sambil terus memikirkan Garong.. sedih banget rasanya.. setelah sekian lama tak melihat Garong, tiba-tiba bertemu dengan kondisi Garong yang seperti itu.. beberapa hari berikutnya saya kembali bertemu dan Garong sedang berjalan dengan langkah seperti biasa.. lukanya sudah lumayan berangsur lebih baik, bulu dan kulitnya sudah sedikit menempel lagi dengan kulit kepalanya..

Saya kini sungguh merindukan kehadiran Garong di kost..

Menyaksikannya mengunyah tulang dann sisa makanan dengan sampah yang berhamburan di sekelilingnya..

Menatap wajahnya yang sedang tidur pulas di atas keset.. dan kemudian membuat bibirku tersenyum bahagia.. sesekali ku bisikkan “selamat tidur” padanya dan kadang-kadang juga ke ajaknya berbicara (satu arah tentunya).. kadang yang terucap adalah “Garong, do’ain yaa.. besok mau ujian, tugas belum beres, dsb.. kamu enak bgt ya udah tidur pulas gini, saya masih harus begadang buat belajar atau nugas”

Saya juga rindu suara khas Garong yang dari lantai 1 sudah terdengar.. teman-teman sering iseng berteriak “kak nidaaa.. anaknya manggil tuh..“ “Kak nidaaa.. anaknya dateng tuh…” 🙂

Juga wajah polosnya menanti saya membuka pintu kost.. dan saat pintu terbuka maka dia berjalan dengan lambat ke dalam. Jika bukan saya, mungkin Garong tak berhasil masuk karena orang lain akan sangat cepat menutup kembali pintu agar ia tak masuk.. tapi saya tak pernah tega melakukannya kecuali jika Garong sendiri tak ingin masuk dan memilih duduk di atas keset depan kost..

Image

Saya juga rindu mengelus kepalanya yang sama sekali tak halus ketika ia sedang tidur..

Ah.. kucing ini sungguh ngangenin..

Unik.. langka.. belum pernah saya menemui kucing dengan karakter seperti Garong.. saya amat terkesan dan belajar banyak dari tingkah laku Garong.

Semoga bukan karena trauma atau takut hingga Garong tak pernah lagi “main” ke kost..

Garoooong.. Be strong!! Hiduplah dengan bahagia di luar sana.

Semoga Allah melindungi semua kucing di dunia ini.

Camera 360

Foto ini kuambil seminggu yang lalu. Garong sedang telelap di siang terik di bawah mobil yang sedang parkir di dekat kost. Lukanya belum sembuh 100%.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ditulis pada : 22 Februari 2014 (baru sempat di post di sini)

Bertemu Apil :)

Ahad, 15 Desember 2013..

Aku akhirnya bisa bertemu kembali dengan sahabatku April.. Aku biasa memanggilnya Apil, nama kesayanganku untuknya.. dan untukku, dia juga memiliki nama kesayangan.. nidut.. terdengar sedikit mengejek, tapi aku menyukainya.. (oh tidak.. tidak untuk setiap orang, hanya untuk Apil)

Kami berjanji bertemu di Margo City atau Depok Town Square, ternyata dua mall ini berhadapan.. (ini Apil yg ngasi tau sehari sebelum kami bertemu)

Apil bilang dia ingin sekali menonton 99 CDLE.. walaupun aku sudah menontonnya, tetapi ku iyakan juga ajakannya.. sesungguhnya aku memang ingin menontonnya lagi.. menontonnya seperti sedang membayangkan diriku berada di sana :’)

Oh ya.. sebelumnya, karena aku tidak terlalu menguasai Jakarta dan sekitarnya, maka ku minta Apil yg memutuskan tempat kami bertemu. Kata Apil, karena aku menginap di rumah Tante di Cibubur dan rumah Apil di cilandak, maka Apil memutuskan untuk mencari lokasi di antara lokasi kami, dan jatuhlah pilihan pada Margo City atau Detos. Karena film 99 CDLE saat itu hanya di putar di Detos, maka jadilah Detos tujuan kami…

Ukuran Cinema 21 Detos tidak terlalu besar seperti kebanyakan Cinema 21 di Bandung, dari luar kita bisa melihat seberapa panjang antrian yang ada, karena keseluruhan dinding bioskop adalah kaca transparan. Saat melihat antriannya, aku cukup kaget, betapa tidak.. ada 4 line dengan antrian yang panjangnya sekitar 7 meter.. belum lagi para pengunjung lainnya yg sedang menunggu, banyak banget.. sampe bangku yang tersedia penuh dan pengunjung yg tidak kebagian tempat duduk terpaksa duduk lesehan di kanan kiri koridor menuju studio. Wah.. aku mulai khawatir kami tidak kebagian tiket.

Kami pun mengantri.. dan Alhamdulillah kami dapat 2 tiket di posisi tempat duduk baris kelima dari atas  dengan jadwal tayang jam 15.00. Tadinya kami ingin menonton yang jam 13.00 tapi tempat duduk yang tersisa tinggal yang di depan. oh.. aku tak ingin lagi menonton di tempat duduk depan2.. leher rasanya sakit bgt.. gak ergonomis bgt posisi nontonnya. haha

Sambil menunggu jam 15.00 kami makan siang dulu, Apil mengajakku makan di Food Court Detos. Dia mengajakku makan menu western favorit mahasiswa yang harganya lumayan murah, STEAK. Namanya Steak Moen-Moen (aku membacanya persis seperti tulisannya dan Apil menertawakanku, katanya di bacanya Mun-Mun, ya what ever lah ya).. Oiya, antrian panjang kembali kami temui di Steak Moen-Moen ini, paling panjang di antara stand makanan lainnya. tempat duduk juga penuh dan karena kami malas mencari yang lebih jauh dari lokasi steak moen-moen, maka Apil menyarankan untuk nebeng seorang mba2 yang lagi makan sendiri. Dan jadilah kami makan bersama mba2 itu.. Setelah makan, Apil mengajakku membeli Moci Es Krim, bisnis kk klasnya yang di titipkan di salah satu  stand makanan pencuci mulut. Moci nya enak banget, secara isinya es krim.. apapun yg ada es krimnya pasti aku suka.. 😀

Setelah itu aku menemani Apil membeli kacamata di toko langganannya, msh di dalam Detos. Kacamata Apil hilang dan dia harus segera memiliki yang baru karena besok akan menemani bosnya di acara meeting di Bogor. Selagi memilih, Apil berkali-kali meminta pendapatku, and tentu saja aku tak dapat membantu banyak. Dulu ketika membeli kacamata, aku sampai harus menelepon Ummi sampai 15 menitan hanya untuk meminta pendapatnya akan warna apa yang harus kupilih.. ah choosing something is really difficult and complicated for me. itu menjadi kelemahanku, dan itu membuat beberapa orang tidak ingin menemaniku ketika membeli sesuatu. hehe

Kacamata Apil harus kami ambil 1 jam kemudian. Selanjutnya aku kembali menemani Apil berkeliling mencari tas untuk kerja, tapi sayang sampai pulang kami tidak menemukan yang diinginkan Apil. Jam 3 kurang kami kembali ke bioskop. Oiya, saat tiba di Detos kami membeli cemilan terlebih dahulu untuk nonton.. dan semua cemilan di masukkan ke dalam tas ranselku. kami meletakkan cemilan dan minuman yang kami beli di bagian paling bawah tas dan menutupinya dengan beberapa barang agar jika nanti “razia” makanan dan petugas memeriksa isi tas, maka harapannya cemilan kami lolos dari sitaan. haha.. tindakan ini sukses membuatku deg2an dan salting ketika masuk bisokop. beruntung suasana bioskop masih sgt ramai sehingga “razia” membuka tas tidak dilakukan. yeayy.. 😀

Sesaat setelah duduk di dalam bioskop kutanyakan pada Apil apakah gambarnya cukup terlihat jelas. katanya iya.. tapi aku tak yakin maka ku coba melihat layar tanpa kacamata dan kudapati gambar yang kurang jelas.. ah kebayang Apil yang minus 3 pasti lebih tidak jelas lagi. Aku menonton dengan perasaan gelisah.. kasian dengan Apil.. aku berinisiatif untuk meminjamkan kacamataku tapi ada perasaan enggan juga karena kali ini aku ingin menonton 99 CDLE untuk menikmati pemandangan Eropa. tapii.. akhirnya tanganku menyerahkan kacamataku padanya. “Pake aja pil.. aku masih keliatan kok, lagian kan aku udah nonton juga”.. saaahhh cukup lega akhirnya kulakukan juga niatanku, dan Apil bilang itu cukup membantu (pastinya pil :))

Mataku berakomodasi maksimal saat menonton. Sesekali aku menggunakan tanganku untuk menarik ujung kedua mataku untuk membuat penglihatanku semakin jelas.. sempat Apil menyadarinya dan ingin mengembalikan kacamataku namun kutolak .. dalam hati aku cuma bergumam “tak apa jika tidak dapat menatap Eropa dengan jelas di sini, nanti kan Nida juga bakal lihat semua dengan sangat jelas, sangat nyata”.. yap, aku berdo’a saat itu, dan semoga malaikat mengamininya.. aamiin :)Aku yakin tidak pernah ada kebaikan yang berakhir sia-sia.. that’s what i can do ya Allah and itu perihal hati, maka jika pun aku berharap balasan fisik sesungguhnya jika dengan ini Engkau membuat hatiku lembut itu sudah cukup..

Aku bahagia menikmati hari bersama Apil.. kami nonton, makan, berkeliling Detos, memilih kacamata, mencari tas, membeli jilbab di dekat rel (murah2 dan banyak macemnya, kata Apil ini langganan mahasiswa..hehe),  ngobrol haha hihi, dan nostalgia masa KP (ah aku sangat merindukan saat2 kami KP di Rimau, kapan bisa ke sana lagi ya Alllah?)..

oh yaa dan dari semua kebahagiaan itu ada haru yang kurasa saat Apil memberiku hadiah berbalut tas kecil bergambar hello kitty yang sangat pinky dengan pita pink kecil. Apil memberikanku saat kami sedang berkeliling Detos, dan dengan jahatnya aku hanya berkata “pegang dulu aja pil aku berat bawanya, kan aku bawa cemilan sama minuman di tas :p” haha jahat yaa…, bahkan rasanya aku hanya berucap makasi dengan wajah datar. dan waktu shalat maghrib, saat wudhu Apil menggantung tas yang ia tenteng di kran air, lalu ada seseorang yang entah bagaimana membuka krannya dan mengalirlah air ke dalam tas Apil itu, di dalamnya ada tas hello kitty hadiahku. saat setelah shalat Apil menyerahkannya padaku dengan keadaan tas hello kitty yang basah di beberapa bagian. Kata Apil insya Allah hadiahnya aman, hanya saja ia khawatir kertas berisi tulisannya basah dan tidak terbaca lagi. Aku jadi menyesal tidak mengambil hadiahnya saat pertama kali Apil kasi, dan kejadian ini membuat Apil merasa gak enak padahal itu salahku sejak awal. 😦

Camera 360 Camera 360

Alhamdulillah.. tulisan Apil masih bisa terbaca, bagian yang basah tepat berada di bawah tanda tangan Apil, sama sekali gak menyentuh tulisannya. Al-Qur’annya juga masih terbungkus plastik jadi gak basah. 🙂

Apiill.. sesungguhnya aku terharu bgt sampe bingung harus gimana dan aku bukan tipe yang bisa menunjukkan rasa haru itu di depanmu.. thx a lot ya pill.. aku nangis pas buka kadomu di rumah tante. you are so sweet 🙂

Kapan-kapan mari bertemu and jalan bareng lagii yaa 🙂

ceriTA : Alhamdulillah.. S.T :D

image

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah..

16 September 2013..

rasanya begitu bahagia… terlebih saat proses sidang Engkau takdirkan untuk berjalan begitu menyenangkan 🙂

gambar dan tulisan itu serta do’a-do’a dari orang terkasih yang membuat segalanya terasa begitu ringan..

seorang sahabat datang ke kosan semalam sehari sebelum sidang dan beberapa kata yang ia ucapkan mampu membuat rasa takut dan khawatirku hilang..

and at the end of our conversation, she said “just do it and have fun, senyum trus aja nid apapun yang terjadi”

so i tried to finish my presentation happily.. tanpa beban.

dan ketika sidang berlangsung, perasaan grogi cuma di rasakan saat presentasi, selebihnya.. alhamdulillah menyenangkan.. never imagine it before..

then she came and surprised me…

sahabatku itu membawa kertas bertuliskan “smile.. it looks good on you” (tanpa kacamata aku jelas tak dapat membacanya, tapi aku bisa meraba gambarnya)

yaa hampir saja lupa klo aku sudah berjanji untuk menghiasi sidangku dengan senyuman, dan sepanjang sesi tanya jawab aku berusaha melapangkan diriku, mempersembahkan senyuman terbaikku, berpikir tenang, menikmati semua prosesnya dengan santai, fun.. 😀

i don’t really know what others think of me.. bagaimana aku terlihat di depan, aku tak peduli.. but then my junior post a tweet :

“Hari ini dapet ilmu bgt dari sidang sarjananya kak Nida. Kalo lgi ngadepin dosen, senyum terus aja :D”

ah God it really works..
thx to yui and aino.. it just so sweet to bring such a great smile booster 😀

Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah :’)

terima kasih ya Rabb telah mengizinkan terkabulnya do’aku, do’a orang tuaku, do’a teman2ku..

ya Allah.. aku terharu dan bersyukur atas kasih sayangMu yang berlimpah dan gelar S.T ini ya Allah.. izinkan menjadi salah satu pemberi kebahagiaan pada orang tuaku… izinkan menjadi salah satu kisah pemacu semangat bagi teman-temanku… izinkan menjadi salah satu sarana penghambaanku padaMu.. izinkan menjadi salah satu kebermanfaatanku pada makhlukMu.. :’)

mari bersyukur pada Allah Yang Maha Pemurah, yang kejutan-kejutan Nya selalu mampu membuatku kehabisan kata..

Terima kasih Ya Allah.. Alhamdulillah aku dapat melangkah menaiki anak tangga selanjutnya, terus iringi langkah ini Ya Rabb.. 🙂

Bandung, 17 September 2013..

Nida Asma Amaniy, S.T 🙂