Nak..

Belakangan ini saya menjadi orang yg sangat detail membaca setiap kata-kata pesan yg terkirim di whatsapp, LINE, dan sejenisnya. Terutama pesan-pesan yg masuk dari Ayah dan Ummi..

Saya kemudian jg baru sadar bahwa setiap kali Ayah dan Ummi ‘berbicara’ di media tersebut, selalu saja ada imbuhan nak.. Terlebih ayah. 

‘Kenapa nak?’

‘Iya nak’

‘Tunggu ya nak’

‘Syafakillah nak’

‘Fii amanillah nak’ dll dst..

Dan entah kenapa saya sukaaa sekali dgn sapaan nak itu. Amat suka..

Dalam pembicaraan langsung, kata-kata nak pun sering terdengar tetapi kalau di tulisan rasanya beda. Saya bisa bayangkan Ayah dan Ummi dgn penuh kasih sayang berbicara dengan saya dan kata ‘nak’ membuat nya menjadi sangat romantis. Setidaknya itu yg ku rasakan. 

Dan saya menjadi sangat suka membaca setiap chat dari Ayah dan Ummi yg ada kata nak nya, terutama jika sedang bosan dan rindu, di baca berulang-ulang, lagi dan lagi..😅

I miss them so bad. 

Advertisements

Aku Memilih Merahasiakan

Aku memilih merahasiakan perkara-perkara penting dalam hidupku..

Dan cukuplah ia mengalir dalam do’a-do’a di sepertiga malam ku, selepas shalat ku, di sujud panjang ku, di perjalanan ku, dalam keterdzaliman, dan di tengah derasnya hujan..

Aku memilih merahasiakan rasa yg nyatanya memang sulit dibahasakan kepada semesta..

Tapi, Allah sangat mengerti setiap rasa yg hadir menyesak dalam dada.. Bahkan bila diri sendiri tak mampu mendeskripsikannya, Allah tahu.. Sangat tahu..

Aku memilih merahasiakan..untuk memperoleh ketenangan..

Aku memilih merahasiakan..lalu sibuk berbenah dan berharap..

Aku memilih merahasiakan hingga takdir yg membuka tabirnya..

Sosok yang menuntun ku meraih SurgaNya

Suatu saat, saya menelepon ummi untuk menyampaikan sesuatu hal penting tentang masa depan, sekaligus ingin mendengar pandangan ummi saat itu karena selama ini kami tidak pernah membicarakn topik masa depan itu.

Sebut saja itu tentang pernikahan. Belum sempat selesai saya berbicara, ummi sudah memotong. hehe.. banyak hal yang ummi jelaskan tentang memilih pasangan hidup. terselip pula beberapa kriteria idaman ummi dan Ayah.. dan saya.. hanya bisa diam dibuatnya.. ku sampaikan juga pendapatku pada ummi. hingga akhirnya kesimpulan ummi sampaikan.. Ummi mau nida dapat suami yang bisa menuntun ke surgaNya, karena sesungguhnya pernikahan itu harus berorientasi pada kehidupan akhirat..

Terlepas dari kriteria yang terkesan duniawi, yang paling utama bagi ummi dan ayah adalah kehadiran sosok yang dapat menuntun ku meraih surgaNya. ah.. siapa yang tidak ingin, saya pun 100% ingin sosok seperti itu.

Jika berbicara tentang orientasi akhirat, maka kita tak akan menemukan celah perbedaan. Saya tak pernah sanggup untuk menolak walau dalam hati karena sesungguhnya saya setuju sepenuhnya akan pendapat ummi tentang hal-hal yang berujung pada akhirat.

Akhir-akhir ini Ayah dan Ummi sedang amat sangat sibuk dengan tugas mulia yg sedang mereka jalankan dengan cinta..  Cinta yg begitu kuat yg juga mempersatukan mereka hingga saat ini… Indah sekali melihat Ayah dan Ummi berjuang di jalan da’wah bersama.. Jalan yg mereka sangat cintai, yg mereka ingin kelak anak-anak mereka juga menjalaninya dengan penuh cinta bersama pasangannya masing-masing..

Ah.. Bismillah saja dengan urusan pernikahan.. Karena ianya akan terjadi di waktu yang tepat.. Dan berbagai kejadian dan peristiwa yang terjadi belakangan ini kepada saya, saya percaya semuanya bagian dari skenario Allah dalam mempertemukan saya dengan sosok yg kelak akan menuntunku meraih surgaNya..

Kemarin landlady rumah kami datang dan mengecek semua ruangan mulai dari dapur, kamar2, dan tak terkecuali kamar mandi. kondisi kamar mandi kami selalu bersih, saya yg bertanggung jawab akan kebersihannya. karena udara Nottingham dingin, maka sehari-hari kami mandi menggunakan air hangat dan bisa dipastikan uap airnya selalu memenuhi kamar mandi dan membuat dinding kamar mandi basah. ini membuat keramik dinding kamar mandi berlumut dibeberapa sudutnya. setiap bertugas membersihkan kamar mandi, saya selalu berusaha keras membersihkannya namun tetap saja dia sulit hilang.

kemarin landlady kami berkomentar tentang lumut tersebut dan menyalahkan kami karena tidak bisa membuat kamar mandi selalu kering. hikss.. dan karena beberapa hal yang bersangkutan dengan kondisi rumah, maka kami diminta untuk move from the house on Wednesday, 3 days earlier from the day that we suppose to leave.

so, this morning, I tried to clean the bathroom.. saya mencoba membersihkannya menggunakan pembersih harpic and then setelah sekian lama tidak bergelut dengan pembersih yang agak ‘keras’, tadi beberapa bagian di tangan dan jari saya terasa perih terkena cairan harpic. belum lagi yang mengenai luka di sekitar jari. satu jam lebih rasanya saya membersihkan kamar mandi. selepasnya saya kemudian ke kampus. sebelum memulai pekerjaan mengetik di laptop, saya memperhatikan jari-jari saya, rasa perihnya masih terasa. kemudian saya teringat ayah dan ummi.

setiap pulang ke rumah, saya selalu menyempatkan diri membersihkan dua kamar mandi di rumah. sebelum merantau, hal itu sudah menjadi tugasku. setelah merantau dan pulang, kondisi kamar mandi terutama bak selalu dipenuhi lumut yang sulit hilang, ummi selalu membersihkannya cuma dengan kapasitasnya tidak sanggup membuatnya cling seperti baru. Alhamdulillah nya saya mempunyai tekad yang begitu kuat setiap pulang ke rumah untuk membersihkan kamar mandi sampai cling dan ini akan saya lakukan saat ayah dan ummi tidak d rumah. ceritanya mau surprise.

dan ketika ayah dan ummi pulang dan menggunakan kamar mandi, barulah mereka tahu klo saya telah membersihkan kamar mandi. tapi, kalimat yang selalu keluar dari mulut ayah dan ummi setiap menyadari kebersihan kamar mandi adalah “tanganmu gak papa nak?” atau “apa gak lecet2 tanganmu nak?” atau pertanyaan senada yang intinya yang selalu terlintas dalam benak mereka selepas melihat kebersihan kamar mandi hasil jerih payahku adalah kondisi tanganku. mereka tahu betul bahwa saya pasti menggunakan portex dan sudah pasti tangan saya luka2 dan lecet2.

another little thing that reminds me of them :’)

Bila Rindu…

Dua hari yg lalu, Ayah memposting ini di grup whatsapp keluarga:

“Takdir rumah sepanjang sejarah bagi pemilik jiwa pecita-cita adalah lengang dan sepi. Bukan karena tanpa suara dan gerakan.. tapi karena itu bukan oleh kalian anak-anakku. Tangis masa kecilmu sudah lama berlalu, riuh suara rupa-rupa ekspresimu pun tak lagi terdengar live di sini. Itulah takdir sejarah rumah pemilik cita-cita yang mesti ditinggal pergi oleh anggotanya demi cita-cita yang lebih baik dari sang Ayah dan Ibu di rumah. Suatu saat kalian akan punyai rumah seperti itu dan para pemburu cita-cita itu”

Kemudian kemarin ummi juga mengirim hal yg serupa..

“Sepi rumah tanpa kalian anak-anakku, begitulah Allah berkehendak. Terngiang akan sapaan Tikhar juga yang membuat semakin sepi. Raihlah cita-cita semampu kalian. Sukses selalu anak-anakku. Do’a Ummi dan Ayah selalu untuk kalian”

Rupanya adik saya Raji sudah saatnya kembali ke jakarta, menuntut ilmu. Maka.. Rumah kini benar2 sepi, hanya ada Ayah dan ummi. Adek bungsuku Tiar Alhamdulillah Allah takdirkan merantau ke Bandung, menuntut ilmu di kampus gajah.. Tiar yg paling setia menemani hari2 ayah dan ummi pun kini tak lg ada bersama ayah dan ummi.. Tiar pergi ke Bandung sejak 2 Agustus lalu.

Saya tak mampu membendung air mata kala membaca pesan ummi, susah payah menahan agar tangis tak sesegukan. Jurus ampuh memencet hidung berhasil membatalkan niat air mata untuk jatuh deras membasahi pipi. Jika bukan sedang di kampus, sudah berlembar2 tissue kupakai untuk menyeka air mata. Ah.. Sudah sejak lama air mata ini gampang sekali mengalir hanya krn pesan dr ayah dan ummi. Tahun ini rasanya haru sekali ketika menyadari bahwa kami anak2 ayah dan ummi telah meninggalkan ayah dan ummi merantau jauh..

Bila rindu… maka saya akan mengecek satu persatu media sosial kakak dan adik2 ku, mulai dari facebook, line, whatsapp, atau twitter. Blog mereka pun saya kunjungi. Terkadang dgn sekedar membaca status saja sudah cukup, lalu rindu mengalir dalam do’a, yg pasti dan selalu.

Semalam tidak seperti biasa saya mengecek twitter raji. Satu per satu tweet terbarunya saya baca sampai pada tweet ini.

Capture

Ekspresi pertama entah kenapa saya sedih.. Tapi juga bangga.. Lagi2 air mata menetes.. Ya Allah.. Raji ingin sekali rupanya ke Madinah..beberapa saat yg lalu memang ummi bercerita klo raji ikut daurah sekaligus tes masuk madinah lagi.. Yaa.. lagi, karena tahun sebelumnya pun Raji melalui tes masuk universitas Madinah namun takdir Allah belum meluluskannya.

Malu sekali rasanya, menyadari bahwa semangat saya masih sgt jauh dibanding Raji. Dan membaca harapan nya untuk memiliki akhir yg baik, bertambah lah rasa malu saya.. Raji ini selalu mampu mengingatkan saya tentang akhirat..

Kemudian saya juga mengecek facebook Tiar. Untuk adikku yg satu ini, dia selalu mampu membuat saya tertawa.. Tapi belakangan saya sering dibuatnya terharu dan bangga.. Tiar ini sampai sekarang selalu saya anggap adik kecil padahal dia sudah dewasa.. Rajinnya dia ke mesjid, rajinnya dia tilawah, dan besarnya tekad untuk menjadi lebih baik.. Lagi2 saya malu.. Dia bukan lagi Tiar kecil yang dulu bisa saya gendong, saya gandeng tangannya, dan saya cubit pipinya..

Saya merupakan kakak yang paling dekat dengan Tiar. dan karena Tiar juga kini berada di kampus yang sama dengan kampus saya dulu, maka berbagai pertanyaan seputar perantauan di Bandung dan perkuliahan dia tanyakan kepada saya. dan dalam obrolan kami, beberapa pesan saya sampaikan kepadanya. terdengar seperti dia tidak mendengar dengan serius tapi kemudian tindakan yang ia lakukan beberapa hari belakangan menunjukkan klo nasehat saya ia dengar dengan baik.

Bila rindu, maka do’a2 mengalir semakin kuat. Saya bercita2 ingin umroh di 10 malam terakhir Ramadhan bersama Ayah, ummi, kak Ehsan, Raji, dan Tiar. Dan semoga yg berangkat dr indo hanya kami berlima kecuali Raji yg berangkatnya dari madinah.. Semoga Allah melindungi dan menyayangi Ayah, Ummi, Kak Ehsan, Raji, Tiar.. Semoga sedikitnya pertemuan kami di dunia terganti dengan kekalnya pertemuan kami di jannahNya.

Nobody cares?

I was walking down the stairs when I saw my friend. We are under the same supervisor. So, I talked to him in his experiment room. He is still preparing all the stuffs for his research experiment. He designed a mini warehouse at the Human Factors simulation room. He prepared all the things alone.

Well, I was upset after meeting my supervisor. It seems like he doesn’t ‘care’ so much about my work. Previously, my friend said the same thing to me. He found out that our supervisor didn’t check the entire work that he sent to him. At first, I didn’t believe it. So far my relationship with my supervisor is just fine. But after I sent him my ethics form with a file containing the detail of my study design, he didn’t read it. He only checked my ethic form which is only 5 pages with almost questions and answers things. But actually, it’s not my point. He ignored important thing that I wrote on my study design document and that made me repeat one step of my questionnaire design which I believe I don’t have to do that if my supervisor read it or at least answer my email in advance. Somehow I feel that he doesn’t consider me seriously.. Or maybe he is just too busy and as a master student I should be more independent (?).

Anyway, Back to my friend… That day, he talked much about his problems, complained about our supervisor, and at the end of his ‘curhatan’, he said “Nobody cares.. What am I gonna do when nobody cares?”. I heard him saying that in a hopeless intonation. This was the first time I saw him talking desperately with head facing down.

At that moment, I really wanna say to him that “yes, it might be true that nobody cares. Our supervisor, our course director, they might be busy. Our colleagues, they all are busy doing their dissertation. But, I know Allah cares. He will never leave you alone, struggling on your own, He will definitely help you”.

But ya.. I couldn’t give him that kind of advise as he doesn’t believe in Allah, the one and only God for me.

I tried to show my empathy and recommend him some solutions even though I know he is already tried those solutions.

So.. Here I am, just 1 month left before the presentation and I am still struggling with my questionnaire. On 29th July, I went to the Network Rail, doing my first visit that supposed to happen on the first week of July.

Based on the interview results and what I observed, I have to restructure my questionnaire. I have to work again and again on my Q. And my spv said it is impossible to get the responses by the end of the first week of August. I know, he pretend to be realistic by saying that. So I give up and ask him if I could extend my dissertation period. He said “I don’t know but I’ll try to speak with Gary (my course director) and ask him if you could be given a couple of weeks after the deadline to finish your work. This is not your fault after all”.

Allah.. I came home with so many things on my mind. Couldn’t create my own spirit and start doing my work again. I just don’t know where to start and what to do next. I kept calm and positive thinking in front of my spv, in front of everyone. But when I am alone, I start crying and negative thinking.

But, as I am thinking after my shalat, I realise that Allah will never put me in a situation that beyond my capacity. And as I always believe, this is the way to make me closer to Him.

Now, I am waiting for all completed questionnaire. I am waiting for an email from survey monkey to say ‘you’ve got a new response’..

I do hope that I can finish my dissertation on time. Hikss…

Allah.. Guide me.. Help me..🙏

Catching Dream

Bismillahirrahmanirrahim…

Alhamdulillah.. sudah 6 bulan saya berada di Nottingham, UK. Allah menakdirkan salah satu mimpi besar ini menjadi kenyataan. Dengan izinNya, saya berkesempatan melanjutkan studi saya ke jenjang S2 dengan beasiswa full dari LPDP. Mimpi yang tertulis di dinding kamar kost dulu terwujud sebagaimana ia tertulis. Alhamdulillah…

Perjalanan panjang meraih mimpi ini saya lalui selama kurang lebih satu tahun. Dengan banyak pengorbanan, do’a, dan air mata.. dan yang pasti kesabaran dalam setiap langkah proses meraihnya. Perjalanan panjang itu saya namakan “Catching Dream” dengan tagline “go catch your dream nid, Bismillah :)”

Saya akan coba merangkum kisahnya dalam tulisan ini. Semoga bisa menginspirasi dan mengobarkan kembali semangat yang mungkin sedang padam.

Saya merupakan orang yang sangat menikmati proses dengan jerih payah saya sendiri. Dalam proses meraih mimpi-mimpi saya, saya berusaha semaksimal saya, mengerjakan apa yang saya bisa sebagai hambaNya dan menyerahkan selebihnya kepada Allah.

Tepat setelah saya lulus oktober 2013 lalu, saya segera mulai mengumpulkan informasi mengenai universitas yang akan saya daftar. Yang pertama kali saya lakukan adalah mencari melalui google dengan keyword “master of ergonomics in Europe”. Saya berfokus pada jurusan. Sejak lama saya telah menetapkan untuk mengambil jurusan ergonomi. Menurut dosen saya, jurusan ini sangat mudah ditemui hampir di semua universitas di Amerika, beberapa di eropa dan juga Australia. Karena alasan kecenderungan dan restu ortu, saya akhirnya memilih Eropa. Lagipula saat itu saya merasa tidak mampu mendaftar di US yang mana persyaratannya konon katanya lebih susah dan ribet. But.. alasan utama saya tetap restu orang tua yang tidak mengizinkan saya untuk ke US.

Dari pencarian saya di google, saya menemukan 3 universitas namun akhirnya hanya mendaftar di dua universitas yaitu university of Nottingham dan Loughbrough University. Pendaftaran dilakukan secara online. Saya catat semua syarat-syaratnya dan mulai mempersiapkannya.

Saat itu, saya memang sedang menganggur. Alhamdulillah, orang tua mendukung penuh dan mengizinkan saya untuk tetap berada di Bandung demi mempersiapkan segala sesuatu untuk S2 saya.

Langkah pertama yang saya lakukan saat itu adalah les IELTS untuk mempersiapkan diri menghadapi tes IELTS.. Saya mengikuti les intensif 1 bulan.. Di Bandung, ada beberapa alternatif tempat les yang bagus. Saya sendiri membandingkan dua tempat les yaitu IEDUC dan TBI. Pilihan saya akhirnya jatuh pada IEDUC karena budget yang disanggupi ortu dan jam belajar yang lumayan lama (3 jam setiap hari senin-jum’at). Saya sadar uang senilai hampir 3 juta untuk les itu cukup memberatkan orang tua saya. Namun, saya sangat bersyukur karena setiap kali saya meminta maaf karena merepotkan mereka, mereka hanya berkata “gak perlu minta maaf, ini kan sudah menjadi kewajiban kami sebagai orang tua nida, yang penting nida sungguh-sungguh menjalaninya”. Yaa.. orang tua saya adalah orang yang paling mendukungku lahir batin untuk meraih mimpi melanjutkan S2 di luar negeri.

Setelah menyelesaikan les IELTS, saya kemudian mendaftar tes IELTS dengan jadwal 3 minggu setelah les berakhir. Satu minggu setelah les, saya cukup berleha-leha dan tidak belajar. 2 minggu sebelum tes barulah saya mulai kembali mengintensifkan diri belajar. Saya copy semua bahan IELTS dari teman saya, saya print beberapa yang penting, saya kerjakan soal-soal IELTS tahun-tahun sebelumnya. Pagi..siang..sore..malam saya berkutat dengan buku, laptop, dan lembar-lembar kertas yang sudah saya print. Saya selingi dengan aktivitas menelepon ummi untuk memperoleh tambahan semangat dan rasa percaya diri. Saya biasanya menelepon di balkon kost sambil menatap langit.. sambil bercerita progress persiapan saya kepada ummi, saya tak henti2nya berdo’a dalam hati. “Ya Allah.. izinkan saya menatap langitMu di belahan bumi-Mu yang lain” itu salah satu do’a saya.

Ayah dan Ummi bilang “Kalau nilai IELTS nida belum sampai syarat, tes lagi dan lagi sampai nida berhasil”. Saya saat itu tidak tahu lagi harus berkata apa.. sangat terharu memiliki orang tua yang benar-benar mendukung luar biasa. Kakak saya pun dikesempatan lain melalui telepon mencoba menyemangati dengan statement yang agak berbeda. “Gini aja, nida kan les dan tes pakai uang Ayah Ummi kan. Berarti harus belajar bener2 supaya score IELTS nya bagus. Nanti kalau gagal, tes lagi tapi syaratnya harus pakai uang sendiri” dari mana coba uang sendiri?? “Nah atau sekalian aja lupain tuh S2 ke luar dan langsung daftar S2 di dalam negeri” huaaaa.. jahatnya. Tapi.. kata-kata kakak saya itu salah satu yang memotivasi saya untuk bisa meraih score IELTS sesuai syarat dalam satu kali tes. Bismillah..

Setelah menunggu 2 minggu, hasil IELTS keluar dan rasanya luar biasa deg2an ketika hendak membuka melalui website. Alhamdulillah.. nilai IELTS ku memenuhi syarat daftar univ dan LPDP. Sangat cukup… Allah benar-benar mengabulkan do’aku… Nilai IELTS saya 6.5, syarat univ of Nottingham 6.0, syarat Loughborough univ 6.5, dan syarat LPDP 6.5. Ya Allah.. rasanya begitu Allah mudahkan hingga tahap ini.

Setelah memperoleh nilai IELTS, barulah saya mendaftar di kedua univ secara online.. saya isi setiap data diri yang dibutuhkan dan kemudian meng-upload satu per satu dokumen yang dibutuhkan. Saya bolak balik ke kampus, berurusan dengan tata usaha fakultas, sekretaris lab, dan tentu saja dosen. Saya juga sangat bersyukur karena dosen-dosen sangat baik meluangkan waktu untuk membantu membuatkan surat rekomendasi, menjadi tempat saya untuk berkonsultasi bahkan salah satu dosen bersedia mereview personal statement saya. Alhamdulillah..

Saya kemudian mendapat informasi bahwa deadline submit dokumen LPDP periode saat itu tanggal 19 Mei. Saat saya mendaftar LPDP, belum ada kabar dari kedua univ yang saya daftar. Saya mendaftar LPDP tanpa LoA (Letter of Acceptance). Tepat seminggu setelah penutupan pendaftaran, hasil seleksi administrasi keluar. Alhamdulillah.. nama saya ada di dalamnya. Tahapan selanjutnya adalah seleksi wawancara. Saya memperoleh jadwal wawancara tanggal 10-11 Juni 2014 bertempat di Unpad Dipati Ukur, Bandung.

Tanggal 27 Mei 2014, saya mendapat email dari Loughborough yang menyatakan bahwa saya diterima sebagai mahasiswa di sana dengan syarat saya harus melengkapi satu lagi surat rekomendasi yang memang belum saya upload. Saya cukup lega dan bersyukur menerima email tersebut. Saat menerima email itu, orang tua sedang berada di Jakarta bersama saya, mereka datang menemani saya mengurus persiapan dan kebetulan memang sedang ada urusan juga.

lough

Beberapa jam kemudian, saya memperoleh email dari University of Nottingham yang menyatakan bahwa saya diterima. Alhamdulillah… benar-benar rasanya tidak percaya sehingga saya berkali-kali membaca email tersebut, kata demi kata. Saya begitu takut jikalau saya salah membacanya atau salah menginterpretasikan maksud dari email tersebut. :’)

notts offer

Saya harus segera merespon email dari kedua univ dengan balasan menerima offer mereka, menolak, atau menundanya. Setelah berbicara kepada orang tua dengan mempertimbangkan bahwa Loughborough univ tidak masuk dalam list univ LPDP, maka saya memutuskan untuk “accept offer” dari univ of Nottingham.

Tanggal 26 Juni saya memperoleh email dari LPDP yang menyatakan bahawa saya terpilih sebagai calon penerima beasiswa dan WAJIB mengikuti Program Kepemimpinan (PK).

Melewati satu demi satu tahapan seperti melewati lorong gelap, perasaan takut dan ingin segera melihat setitik cahaya itu yang saya rasakan. Dan saat saya berhasil keluar dari lorong itu rasanya sangat lega dan bersyukur, namun saya harus kembali fokus untuk bisa melewati tahapan selanjutnya.

Bukan perjuangan namanya tanpa rintangan, pada proses menuju PK inilah beberapa rintangan saya hadapi. Dalam proses ini, Allah menguji saya.. penentuan jadwal PK dilakukan dengan mengisi kuesioner dan jadwal akan ditetapkan oleh panitia LPDP dengan merujuk pada hasil kuesioner. Saya mendapat jadwal PK di bulan November padahal saya mulai kuliah bulan September. Saya mencoba mengganti jadwal dengan mengirim email dan pihak LPDP menyarankan saya untuk menukar jadwal dengan teman atau sesama calon penerima beasiswa lainnya. Saya coba menghubungi beberapa teman, memposting di grup FB LPDP tetapi tidak ada yang bersedia menukar jadwalnya. Saya paham betul semua calon awardee sedang berada di posisi yang sama dengan saya. Mereka semua juga akan segera memulai perkuliahan. Saya akhirnya mencoba menelepon LPDP ke bagian customer service. Saya coba sampaikan kondisi saya, tetapi saya disarankan untuk menunda keberangkatan setahun lagi. Ini ujian bagi saya, karena terus terang mimpi saya bergantung dari beasiswa ini. Saat itu saya sedih luar biasa, Ayah saya bilang “kamu sudah mengorbankan satu tahun demi ini. dan ini harus kamu perjuangkan. Ayah akan bantu juga. tetap berbaik sangka sama Allah ya nak”.

Saya semangat kembali dan saya bertekad untuk tidak menyerah. Saya coba datangi kantor LPDP untuk bertemu langsung dengan PIC PK dan ternyata sangat mudah.. sangat mudah bagi Allah untuk menjadikan semua urusan mudah. Di tengah menjalani rapat, Pak Kamil, PIC PK mau menemui saya dan tanpa basa basi mengganti jadwal PK saya. Saya akhirnya diperbolehkan megikuti PK 16 tanggal 24-30 Oktober. Alhamdulillah…

Setelah urusan jadwal PK selesai, saya benar-benar bias bernafas lega dan mulai melangkah pasti mempersiapkan keberangkatan. Saya mulai disibukkan dengan aktivitas bolak balik Jakarta Bandung, mengurus segala persiapan. Saya harus menjalani tes TB sebagai syarat untuk apply VISA. Saya juga harus kembali ke Jakarta untuk menghadiri briefing yang diadakan oleh University of Nottingham. Saya bolak balik Jakarta seorang diri, menumpang di kost teman, di rumah teman, menumpang di rumah tante.. saat itu saya merepotkan banyak orang tapi Alhamdulillah Allah menggerakkan mereka untuk membantu saya menyelesaikan satu per satu urusan tanpa orang tua di samping saya.

Saya juga harus mengosongkan dan pindah dari kost di Bandung. Ayah yang kebetulan sedang ada dinas di Jakarta, mampir ke Bandung untuk membantu pindahan saya. Semua barang saya di bawa ke Jakarta, dititip di rumah tante. Ayah bilang beliau sedih sepanjang perjalanan dari Bandung ke Jakarta. Ayah teringat beberapa kenangan sejak pertama kali puterinya merantau ke Bandung hingga kini harus meninggalkan Bandung. Bandung menyisakan kenangan mendalam juga bagi Ayah.. :’) Saya pun sedih luar biasa harus meninggalkan Bandung. Rasanya saya akan menulis episode khusus untuk ini.

Tsaaah… Alhamdulillah dengan meninggalkan Bandung, artinya semua urusan beres dan akhirnya saya bisa pulang ke rumah, di Pangkep, Sul-Sel. Pulang kali ini adalah kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga dan teman sebelum berangkat. Ini juga kesempatan untuk meminta do’a restu dari semua orang. Sebulan sebelum PK saya habiskan di rumah dan juga disibukkan dengan tugas-tugas pra PK.

Saya kembali lagi ke Jakarta untuk menjalani PK. Setelah PK, saya hanya punya waktu 2 minggu untuk mempersiapkan keberangkatan saya. Ayah dan Ummi datang kembali ke Jakarta menemani saya menyelesaikan urusan yang belum selesai seperti berbelanja kebutuhan keberangkatan dan packing. Ayah, Ummi, adik saya yang kuliah di Jakarta, serta Om dan Tante mengantar saya ke bandara tanggal 14 September 2014. Rasanya campur aduk sekali.. Pesawat terbang, kami tiba dan naik kereta dari Birmingham menuju Nottingham. Masih tidak percaya saat itu kalau saya telah berada di negeri orang. Sampai akhirnya tiba di Nottingham dan di sambut dengan tulisan Nottingham di stasiun juga delamat datang dari Univ of Nottingham. 😀

notts station

birmi

Alhamdulillah.. saat ini sudah 6 bulan lebih saya berada di Nottingham, UK. Hari demi hari, saat saya bangun tidur, berjalan ke kampus, dan berkelana, sering terbesit dalam hati “apakah ini nyata? Atau hanya mimpi?”

Yaa.. ini mimpi, mimpi yang menjadi kenyataan. Mimpi yang dengan izinNya, hanya dengan izinNya menjadi nyata. Hari demi hari selepas mimpi itu menjadi kenyataan, Allah tak pernah berhenti mengaruniakan nikmat yang membuat haru diri ini. Saya sadar betul bahwa mimpi-mimpi ini terwujud sebagian besar karena do’a orang-orang tercinta, orang tua, teman, kerabat, dan semesta.. Semesta mendukung jika mimpi itu memang ditakdirkan untuk menjadi kenyataan 🙂

oh yaa.. saya pernah menulis ini https://indispira.wordpress.com/2013/01/11/my-dreams-soon-come-true-aamiin/.

Alhamdulillah, saya lulus dan wisuda S1 bulan oktober 2013. Saya juga sempat les biola dan ikut dalam konser tahunan komunitas Biola Bandung (ini langkah awal untuk mencoret mimpi menjadi violist..hehe), merajut pun saya telah lakukan dan hasilnya berupa syal sudah saya hadiahi ke dua orang sahabat. Mimpi S2 di Eropa beasiswa full alhamdulilah juga terkabul.. sebelum berangkat ke UK, saya pun telah membeli kamera dengan uang sendiri.. jelajah dunia pelan-pelan saya jalani dengan diawali dari UK, Turki (alhamdulillah ini impian sejak SMA dan telah terealisasi bulan Desember 2014 lalu), dan insya Allah selepas kuliah selesai saya ingin menjelajah Eropa.. mimpi bisa main angklung saya ganti dengan bisa tampil tari saman dan insya Allah saya bersama teman2 di sini akan menampilkan tari saman pada acara Indofest bulan Juni nanti.. semoga Allah berkenan mengabulkan mimpi-mimpi lain saya dan juga teman-teman semua 🙂