Hal Kecil Namun Tak Sepele

Jadi ceritanya sepulang dari UK, desember 2015 lalu, saya mengirim foto2 tulisan dgn latar stadion request teman-teman saya. Mereka adalah fans chelsea. Hari-hari terakhir di UK, saya mengusahakan untuk memenuhi janji saya kepada beberapa teman atau keluarga yang request sesuatu. Sayangnya saya tidak sempat membelikan kaos request sepupu saya. Hiks..

Dua teman saya request untuk dituliskan namanya lalu difotokan di depan stadion chelsea, Stamford Bridge. Honestly, stadion nya agak jauh dr lokasi sy menginap di london dan saat itu uang saya sudah sgt sekarat. Tapi janji tetap janji dan saya tidak ingin mengecewakan atau lebih tepatnya ingin berbagi kebahagiaan. Saya selalu merasa mewakili keberadaan sesiapa pun yg request kepada saya untuk mengunjungi suatu tempat.

Maka saya ke stadion chelsea, seorang diri. Membawa beberapa lembar kertas namun sayangnya lupa membawa pulpen. Alhasil, saya masuk ke dalam toko souvenir chelsea dan membeli pulpen yg paling murah agar bisa menuliskan kata2 di kertas yg sudah sy siapkan. Saya pun membelikan souvenir untuk mereka.

Selepas mengirim foto2 dan mengabarkan bahwa sy membelikan mereka souvenir, respon mereka beyond my expectation. Mereka sangat terharu, surprise, tidak menyangka klo sy willing to do that for them. Ya Allah.. Rasanya sy pun sangat terharu. Padahal sy tidak mengeluarkan effort maksimal dlm memenuhi permintaan mereka itu :(.  Saya ingin sekali membeli banyak souvenir untuk mereka atau paling tidak yg gak seadanya (maklum saat itu uang sy benar2 menipis). Saya tidak menyangka hal kecil yg sy lakukan ternyata sgt tidak sepele dimata mereka.. Huhu

Saya tidak tahu persis apa yg para fans rasakan jika mendapat kiriman foto di dpn stadion club favorit mereka, ato apa yg para fans rasakan ketika mendapat souvenir yg dibeli di toko souvenir resmi club favorit mereka. Itulah mengapa kebahagiaan mereka akan apa yg saya lakukan masih sulit saya percaya. Sebagai orang yg tidak mengerti dunia persepak-bolaan, rasanya berada di stadion2 itu biasa saja.. 😅

Banyak hal yg seringkali kita anggap hal kecil dan sepele tp bernilai besar dimata org lain dan mungkin bernilai besar sebagai pahala di mata Allah. Maka wajar bila Islam selalu mengajarkan untuk berbuat baik walau hanya menyingkirkan duri di jalan.

Jika muncul niatan untuk berbuat suatu kebaikan dalam hati, lakukan jika memang bisa dilakukan, walau ia tak sempurna, walau mungkin berat langkah diayun, walau ragu terbesit, lakukan saja. Dan jika ianya terjadi, itu Allah yg menggerakkan dan Allah yg menakdirkan..

Ya Allah.. Nida senang jika bisa bermanfaat bagi org lain, jika bisa menjadi wasilah munculnya bahagia pada org lain.. Semoga Engkau selalu mempercayai ku untuk mengerjakan proyek2 kebaikan yg walau kecil namun tak sepele.. Aamiin..

Advertisements

Saling Lupa

“Tenang saja, perpisahan tak menyedihkan, yang menyedihkan adalah bila setelah itu saling lupa.” -P-

Baru saja sy membaca sebuah status tmn di fb. Sedih sekali membacanya.. Jleb!!!

Sudah berapa banyak perpisahan yg sy alami sejak kecil.. Utamanya perpisahan dgn sahabat2 karena sy harus pindah tempat tinggal yg jg berarti pindah sekolah..

Berpisah dengan sahabat selalu menyisakan perasaan yang lebih dari sekedar sedih karena tak tahu kapan akan bertemu lagi, tetapi justru yg paling besar adalah ketakutan jika pun nanti kita bertemu lagi, kita sudah SALING lupa.. Kita lupa pernah bersama begitu dekat, dan kita lupa pernah begitu berat meninggalkan satu sama lain..

Sejak SD sy selalu punya sahabat sgt dekat.. Jumlahnya tak satu dua.. Lebih..

Tapi jika berbicara kondisi saat ini, hanya satu dua yg masih saling ingat dan dekat. Tentu saja jarak membuat definisi dekat kami berbeda saat kami bersama dalam satu wilayah yg sama..

Alhamdulillah, banyaknya media sosial dan sarana komunikasi yg sangat canggih membuat sy bisa “bertemu” dan “dekat” kembali dengan sahabat jaman SD hingga kuliah. Dan lewat pertemuan itu, kami saling bernostalgia tentang kenangan masa lalu yang sgt indah, yg jika diingat kembali membuat diri begitu bahagia dan bersyukur krn Allah pernah takdirkan diri ini menghabiskan hari-hari mengukir kenangan bersama mereka..

Dalam hidup, kenangan yg tersimpan dalam memori merupakan suatu hal yg sangat berharga bagiku.. Ketika ada yg hilang dan terlupakan rasanya sedih sekali. Tetapi manusia memiliki keterbatasan daya ingat dan memang tak semua kenangan berhasil tersimpan rapi dan dapat dgn cepat diputar kembali.

Saya seringkali takut menjadi yang dilupakan dalam sebuah persahabatan.. Tetapi sy belajar bahwa menjadi yg terlupakan bukan sesuatu yg buruk.. Justru ketika sy melupakan sahabat atau seseorang lah yg patut sy khawatirkan.. Bagaimana mungkin saya mengaku sahabat jika dengan mudah saya melupakan..

Saya akui tak jarang sy pura-pura lupa dengan orang saat misal berpapasan dan dia tidak menyapa. Saya takut dia sudah lupa dengan sy lalu sy pun pura-pura lupa dgn nya dan enggan menyapa.. Sering sekali hal ini terjadi.. Walau sebenernya antara kita terlihat jelas oleh tatapan mata yg menyiratkan keraguan.. Seperti kenal, aduh siapa ya, si itu bukan ya, wah dia.., yg dulu sama-sama di organisasi anu, dsb.. Kita, sebenernya SALING ingat, tapi juga SALING ragu untuk membuktikan ingatan kita..

Sepulang dari Inggris.. Saya kembali tinggal di pelesiran walau di kost yg berbeda.. Tentu banyak yg saya kenal utamanya ibu dan bapak penjual ato penjaga kost yg sudah pasti masih ada di wilayah pelesiran.. Beda hal dgn teman2 yg ntah sudah kemana.

Mereka, bapak dan ibu tersebut masih sangat sy ingat.. Ketika minggu awal sy di bandung selepas dari Inggris, sy bertemu dgn mereka. Ibu penjaga kost dulu, kami bertemu di jalan.. Sy menyapa duluan.. Ibunya kaget dan alhamdulillah mash ingat nama sy.. Lalu ibu penjual bubur, dr dulu memang ibunya gak pernah tau nama sy, tapi ibunya jg masih ingat sy dan seperti dulu masih menyapa sy dengan panggilan sayang :’)

Lalu di kesempatan lain saat sy mengantar laundry ke ibu langganan, sy sengaja tidak menyapa duluan.. Tapi dr balik pintu kaca tempat laundry, ibunya seperti mengenali sy lalu bertanya “nida?” Lalu sy sangat bahagia dibuatnya.. Ternyata ibunya masih ingat, padahal dulu hitungannya sy blm berlangganan lama krn laundry nya baru buka. Lalu ibunya jg ingat perihal kepergian sy ke inggris untuk lanjut kuliah.. Dan mengalirlah obrolan seputar kabar sy dan aktivitas sy skrng.

Atau Bapak dan Ibu pemilik warteg langganan saya, yg kini sudah pindah tempat. Mereka menyapa duluan saat kami bertemu di jalan. saat itu saya tidak menyadari keberadaan mereka. Mungkin jika mereka tidak menyapa kami tak akan berbincang dan saya tak akan tahu kemana mereka pindah.

Hal serupa jg terjadi dgn pertemuan dgn beberapa adik tingkat dan teman juga teteh2. Ternyata banyak jg yg walaupun kami sudah lama tak bertemu dan lalu tak sengaja bertemu, kami masih SALING ingat..

Beberapa hari yang lalu, di tempat fitness, sy melihat tmn les snmptn dulu. Sy yakin dia lupa sy krn dia gak menyapa sy, tapi sy kemudian memberanikan diri menyapa, alhamdulillah sy masih ingat jg namanya. Awalnya dia bingung lalu sy jelaskan klo sy tmn les dulu.. Kemudian yg amazing adalah setelah itu dia ingat dan bahkan dia ingat sy dr sulawesi selatan yg mana hal ini biasanya dilupakan orang. Dia bilang “iya aku inget soalnya jauh bgt kmu asalnya”. Lalu kami ngobrol dan mencoba saling mengingat kembali tmn2 yg lain..

Terkadang sebenernya kita tak SALING lupa, kita hanya SALING pura2 lupa dan membiarkan hubungan kita berakhir asing karena kepura2an itu. Ada gengsi karena ingin diingat duluan.. Padahal itulah awal yg membuat akhirnya kita benar2 saling lupa.. Kita sengaja memenangkan ego..

Dari beberapa pengalaman yg sy alami, insya Allah kita tak pernah benar2 lupa dengan seseorang yg pernah hadir dalam hidup kita. Coba saja buka fb dan liat satu per satu list tmn2 kita. Pasti ada yg kita ingat dari mereka..

Tapi memang hidup begini, ada yg datang dan pergi. Saat kita berpisah dengan seseorang, akan ada yg datang menggantikan posisi kita dalam hidupnya..

“Tenang saja, perpisahan tak menyedihkan, yang menyedihkan adalah bila setelah itu saling lupa..”

Sejatinya setiap kata kerja yg diawali oleh kata SALING membutuhkan effort dari diri kita dahulu.. Kita harus memulai dahulu.. Karena ada aksi lalu reaksi dan setelah nya maka muncullah kata SALING.

Saya bersyukur sekali Allah masih mengizinkan saya bertemu kembali dgn banyak orang selepas perpisahan setahun ini. Masih banyak yang ingin saya temui namun nampaknya belum rezeki bertemu mereka. Ada yang memang jauh, tapi ada juga yang sebenarnya dekat namun beberapa kali kami seperti tidak berjodoh untuk bertemu.

 

“Semoga kita bisa menjadi orang yang senantiasa menjaga silaturahim dengan mereka yg Allah takdirkan pernah hadir dalam hidup kita, terlebih mereka yg kehadirannya sgt berarti dalam hidup kita, mereka yang pernah begitu berat kita tinggalkan..

Semoga Allah menguatkan ingatan kita akan mereka sehingga dalam do’a2 kita, ada bayangan wajah mereka dan lantunan nama mereka kita ucapkan.. Dimanapun mereka sekarang berada, semoga kita tak lupa minimal dalam do’a kita.. Dan semoga Allah mempertemukan kita di lain kesempatan dalam kondisi SALING ingat.. Hehe..”

#ntms 🙂

Bila Rindu…

Dua hari yg lalu, Ayah memposting ini di grup whatsapp keluarga:

“Takdir rumah sepanjang sejarah bagi pemilik jiwa pecita-cita adalah lengang dan sepi. Bukan karena tanpa suara dan gerakan.. tapi karena itu bukan oleh kalian anak-anakku. Tangis masa kecilmu sudah lama berlalu, riuh suara rupa-rupa ekspresimu pun tak lagi terdengar live di sini. Itulah takdir sejarah rumah pemilik cita-cita yang mesti ditinggal pergi oleh anggotanya demi cita-cita yang lebih baik dari sang Ayah dan Ibu di rumah. Suatu saat kalian akan punyai rumah seperti itu dan para pemburu cita-cita itu”

Kemudian kemarin ummi juga mengirim hal yg serupa..

“Sepi rumah tanpa kalian anak-anakku, begitulah Allah berkehendak. Terngiang akan sapaan Tikhar juga yang membuat semakin sepi. Raihlah cita-cita semampu kalian. Sukses selalu anak-anakku. Do’a Ummi dan Ayah selalu untuk kalian”

Rupanya adik saya Raji sudah saatnya kembali ke jakarta, menuntut ilmu. Maka.. Rumah kini benar2 sepi, hanya ada Ayah dan ummi. Adek bungsuku Tiar Alhamdulillah Allah takdirkan merantau ke Bandung, menuntut ilmu di kampus gajah.. Tiar yg paling setia menemani hari2 ayah dan ummi pun kini tak lg ada bersama ayah dan ummi.. Tiar pergi ke Bandung sejak 2 Agustus lalu.

Saya tak mampu membendung air mata kala membaca pesan ummi, susah payah menahan agar tangis tak sesegukan. Jurus ampuh memencet hidung berhasil membatalkan niat air mata untuk jatuh deras membasahi pipi. Jika bukan sedang di kampus, sudah berlembar2 tissue kupakai untuk menyeka air mata. Ah.. Sudah sejak lama air mata ini gampang sekali mengalir hanya krn pesan dr ayah dan ummi. Tahun ini rasanya haru sekali ketika menyadari bahwa kami anak2 ayah dan ummi telah meninggalkan ayah dan ummi merantau jauh..

Bila rindu… maka saya akan mengecek satu persatu media sosial kakak dan adik2 ku, mulai dari facebook, line, whatsapp, atau twitter. Blog mereka pun saya kunjungi. Terkadang dgn sekedar membaca status saja sudah cukup, lalu rindu mengalir dalam do’a, yg pasti dan selalu.

Semalam tidak seperti biasa saya mengecek twitter raji. Satu per satu tweet terbarunya saya baca sampai pada tweet ini.

Capture

Ekspresi pertama entah kenapa saya sedih.. Tapi juga bangga.. Lagi2 air mata menetes.. Ya Allah.. Raji ingin sekali rupanya ke Madinah..beberapa saat yg lalu memang ummi bercerita klo raji ikut daurah sekaligus tes masuk madinah lagi.. Yaa.. lagi, karena tahun sebelumnya pun Raji melalui tes masuk universitas Madinah namun takdir Allah belum meluluskannya.

Malu sekali rasanya, menyadari bahwa semangat saya masih sgt jauh dibanding Raji. Dan membaca harapan nya untuk memiliki akhir yg baik, bertambah lah rasa malu saya.. Raji ini selalu mampu mengingatkan saya tentang akhirat..

Kemudian saya juga mengecek facebook Tiar. Untuk adikku yg satu ini, dia selalu mampu membuat saya tertawa.. Tapi belakangan saya sering dibuatnya terharu dan bangga.. Tiar ini sampai sekarang selalu saya anggap adik kecil padahal dia sudah dewasa.. Rajinnya dia ke mesjid, rajinnya dia tilawah, dan besarnya tekad untuk menjadi lebih baik.. Lagi2 saya malu.. Dia bukan lagi Tiar kecil yang dulu bisa saya gendong, saya gandeng tangannya, dan saya cubit pipinya..

Saya merupakan kakak yang paling dekat dengan Tiar. dan karena Tiar juga kini berada di kampus yang sama dengan kampus saya dulu, maka berbagai pertanyaan seputar perantauan di Bandung dan perkuliahan dia tanyakan kepada saya. dan dalam obrolan kami, beberapa pesan saya sampaikan kepadanya. terdengar seperti dia tidak mendengar dengan serius tapi kemudian tindakan yang ia lakukan beberapa hari belakangan menunjukkan klo nasehat saya ia dengar dengan baik.

Bila rindu, maka do’a2 mengalir semakin kuat. Saya bercita2 ingin umroh di 10 malam terakhir Ramadhan bersama Ayah, ummi, kak Ehsan, Raji, dan Tiar. Dan semoga yg berangkat dr indo hanya kami berlima kecuali Raji yg berangkatnya dari madinah.. Semoga Allah melindungi dan menyayangi Ayah, Ummi, Kak Ehsan, Raji, Tiar.. Semoga sedikitnya pertemuan kami di dunia terganti dengan kekalnya pertemuan kami di jannahNya.

Senyum yang Membahagiakan :)

Tabassumuka Fii Wajhi Akhiika Shodaqoh.

“Senyummu di hadapan saudaramu adalah shodaqoh.” (HR. Tirmidzi)Image

Salah satu yang menurut saya paling membahagiakan dalam hidup ini adalah ketika mendapatkan senyuman tulus dari seseorang 🙂

Maafkan jika saya belum bisa memberi senyum tulus yang membahagiakan… tersenyum tulus itu ternyata tak mudah.. beberapa kondisi bisa membuatnya begitu mudah dilakukan tapi banyak kondisi akhirnya membuat senyuman itu tidak sempurna (dipaksakan)…

Tapi yang namanya senyuman tulus itu, sepengalaman saya atau setidaknya yang saya rasakan ialah yang mampu membuat saya juga tersenyum, bahagia, dan terus membayangkan wajah si pemilik senyum.

terima kasih bapak penjual cendol yang sore ini telah membahagiakan saya… andai Bapak tau, senyuman Bapak telah membuat sy lupa akan kekhawatiran perihal TA.. dan andai sy tau, alasan apa yang mampu membuat senyum Bapak begitu tulus di tengah beban hidup yang mungkin terasa berat..

oh ya.. foto Ummi yg sedang tersenyum di depan meja belajarku juga selalu mampu membuatku tersenyum dan bahagia.. Nida tau, Ummi selalu tulus dalam hal apapun.. 🙂

Mari bersemangaaatt kembalii 😀

Selamat Belajar Tiar (Jangan Nyontek!!)

Ceritanya barusan aku mengirim sms pada adik bungsuku ingin mengonfirmasi suatu hal padanya.

balasan pun di terima dan pada balasan kedua dia bilang dirinya akan menjalani ujian Fisika besok dan sedang berada di rumah temannya saat ini.

maka, sebagai kakak yang “ceritanya” baik, aku memberinya semangat dan semacam wejangan padanya untuk tidak menyontek, bahkan juga memberinya semangat dan emoticon 🙂 di akhir smsku (hal ini sgt jarang loh kulakukan).

maka harapanku ia pun menjawab dengan santun dan tidak “ngaco” (biasanya suka ngaco, sok2an, dan mengerjai kakaknya)

ini jawabannya : “klo nyontek itu merupakan budaya Indonesia. Jadi, harus dilestarikan”

ckckck.. gak ngerti lagi lah sama ini anak, masih dengan polos mencoba membalas lagi dengan bijak (padahal tau sih sebenernya itu cuma jawaban iseng dia, tapi apa daya kknya ini msh tidak bisa percaya 100% bahwa adiknya sudah dewasa dan pastinya tau mana yg baik dan buruk)

aku pun membalas : “mana ada.. budaya jelek itu bukan untuk dilestarikan, tapi di basmi. jangan ngaco deh, atau pura2 ngaco. pokoknya JANGAN MENYONTEK (titik)”

dan adik yang keukeuh dengan pendapatnya ini membalas lagi

“Budaya yang jelek itu menghasilkan akibat yang jelek. Nah klo nyontek itu menghasilkan nilai yang bagus, kesimpulannya nyontek harus dilestariakan”

ckckckck.. Tiar.. Tiar.. kali ini kau telah berhasil membuat kakakmu ini tertawa dan tidak habis pikir (sambil geleng2 kepala).

my little brother.. you are really turn into a big boy.. balik lagi gih jadi bayi and stop bullying ur sister like this. 🙂

*well, what he said is not really what he mean. i know that and i believe that u ar a good boy..

selamat belajar Tiar.. Ma’an Najah, Insya Allah 🙂

Bersama mereka :)

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Kemarin sore, bukanlah suatu kebetulan aku bisa bertemu dengan para tuna wisma dari jalan asia afrika dan sekitarnya. Allah menakdirkanku bertemu mereka…

Ya.. kami bertemu di sebuah lapangan asrama bumi ganesha cisitu. Pertama kalinya berada di situ, bertemu, berinteraksi dan berbagi rasa dengan mereka. Tadinya ku pikir akan ada banyak anak2 jalanan seperti yang pernah kutemui di rumbel ciroyom, jadi sebelum berangkat aku sudah mempersiapkan berbagai bahan obrolan untuk nanti. Kami (anak2 Gamais 09) memang diminta oleh panitia acara (Kang Ma’mun cs) untuk menemani mereka yang sedang menunggu giliran pemeriksaan kesehatan oleh para mahasiswa FK UNPAD. Maka, saat mereka mulai berdatangan aku sempat kaget, tak seperti yang aku bayangkan, mereka yang datang mayoritas terdiri dari ibu-ibu dan bapak-bapak bahkan beberapa bisa dibilang nenek-kakek. Anak-anak kecilnya bisa dihitung jari, umurnya berkisar 1-15 tahun (mungkin).

Oke.. satu persatu mereka duduk, kami mulai berbaur, aku pun mendekati beberapa ibu-ibu. Kami berkenalan, beberapa nama yang kuingat adalah ibu neneng, ibu komala, ibu nung , ibu… ah seperti biasa aku memang selalu kesulitan menghafal nama seseorang apalagi jika kemudian aku tidak berinteraksi dengannya. 3 nama tadi masih kuingat sebab bersama merekalah aku menghabiskan sore hariku kemarin.

Ibu nung, aku sedikit ragu apakah benar namanya seperti itu, sebab belakangan aku melihat nama yang tertulis di obat yang ia peroleh, ibu hur.. beliau berumur 54 tahun, tertulis di obatnya. Tubuhnya kurus, dibalut baju bercorak batik lengan panjang mirip gamis atau lebih tepatnya mirip daster. Sebuah jilbab menutupi kepalanya, wajahnya penuh senyuman sejak pertama kali kami saling menyapa. Awalnya beliau terlihat sedikit malu-malu namun selanjutnya banyak cerita mengalir dari mulutnya. Aku lupa asal beliau yang jelas masih di Jawa Barat. Dulunya beliau bekerja sebagai TKW di Malaysia selama 4 tahun. Sebelumnya, beliau pergi diam-diam karena ibunya tidak mengizinkan. Selama 4 tahun tanpa kabar membuat ibunya berpikir bahwa beliau telah meninggal. Sampai akhirnya ia kembali ke Indonesia diantar oleh majikannya sampai Jakarta (baik sekali kan majikannya). Dari cerita bu nung, beliau di Malaysia diperlakukan sangat baik, layaknya anggota keluarga majikannya. Setelah kembali ke Indonesia pun beliau masih sering ditelepon dan diminta kembali. Tapi beliau menolak dan memilih tinggal di Indonesia menemani ibunya. Oh iya, yang menarik bu nung ini memiliki anak kembar laki-laki dan perempuan, saat ini tinggal di rumahnya dikampung sana dan di rawat oleh adik beliau. Beliau sendiri juga memiliki saudara kembar laki-laki tetapi Allah telah memanggilnya, beliau bercerita klo saudara kembarnya meninggal karena sakit, demam tinggi, ntah apa penyakitnya. “dulu, saudara ibu sakit panas, ibu juga ngerasain tapi dia meninggal ibu mah nggak” begitulah kata bu nung. Ibu nung pergi ke bandung mencari kerja, namun karena sulit maka ia pun menjadi tuna wisma. Sehari-hari tinggal di masjid Agung, klo siang beliau menjadi pengemis dan malamnya tidur di pelataran masjid karena katanya masjid di kunci dimalam hari. Aku sangat salut dengan bu nung, beliau tidak pernah meninggalkan shalat 5 waktu. Shalat tahajjud dan dhuha pun rajin. “klo malam ibu bangun jam 4, trus mandi baru shalat sebelum subuh, nanti klo jam 9 shalat dhuha”. Beliau memang memanfaatkan waktu subuh untuk mandi soalnya klo udah siang bakal di pungut biaya, tapi untungnya penjaga kamar mandi nya sering menggratiskan ibu nung. Ibu nung gak punya mukena, beliau memanfaatkan fasilitas masjid tapi sayangnya lagi-lagi dikenakan biaya untuk shalat dzuhur, ashar, dan magrib. Seribu rupiah untuk 3 waktu shalat tadi. Masya Allah… memang bukan nominal yang besar tapi untuk beliau segitu sangat berarti.. sepanjang bercerita senyum di wajah beliau selalu hadir, betapa beliau sangat mensyukuri hidupnya. Sebuah tas pemberian orang selalu ia bawa kemana-mana. Sebelumnya, beberapa kali beliau kehilangan tasnya, kali ini tas itu tidak pernah beliau biarkan jauh-jauh darinya. Tas itu berisi baju-baju yang juga pemberian orang, termasuk baju yang beliau kenakan juga pemberian orang. Itulah harta yang beliau miliki di sini. Ibu nung pernah dipukuli orang gila, dan karena itu diwajahnya muncul bintik-bintik kecil berair. Setiap malam beliau tidur beralaskan Koran dan berbalut sarung tipis. “ibu mah sering sakit sininya neng, tadi juga ke sini sambil di pencet biar gak sakit, klo malam juga panas tiris, dingin pisan neng” keluh bu nung sambil menunjuk bagian bawah dadanya tepat di tengah. Rasa sakit itu sudah lama beliau derita. “ya gak tau neng, mungkin udah tua” jawabnya saat kutanyakan penyebab rasa sakitnya. Bagiku beliau begitu mengagumkan… “ibu seneng banget neng, Alhamdulillah.. ada yang ngasih2. Itu tu.. yang sering dateng malam-malam ngasih celana, ngasih baju” sambil nunjuk2 Kang Ma’mun dan teman2nya. “ibu seneng neng ketemu sama neng, sama semuanya.. nanti klo ketemu di jalan sapa ya neng”.. Entah kenapa aku sangat bahagia. “Iya Bu, insya Allah..”

Selanjutnya Ibu neneng, beliau nampaknya kurang bisa berbahasa Indonesia. Maka aku sedikit berkonsentrasi penuh untuk mengerti pembicaraannya. Di awal aku sempat mengatakan klo aq bukan berasal dari bandung. Jadi bu neneng pun akhirnya menyelipkan beberapa kata dalam bahasa Indonesia, ya hanya beberapa… ibu neneng lebih banyak diam dan baru akan menjawab seadanya klo di Tanya. Beliau berasal dari cileunyi (dimana y itu??) punya anak juga tapi lupa berapa. Bu neneng juga berjilbab, di tangannya tepasang gelang yang biasa di pake anak remaja, dari besi berbentuk seperti rantai dengan hiasan berwarna pink. Di jarinya juga ada cincin warna perak dengan hiasan pink. Dari balik jilbabnya sempat terlihat sebuah kalung berhias batu-batu entah apa namanya. Bu neneng ternyata modis juga (pikirku). Bu neneng juga tinggal di masjid agung. Kehidupannya hampir sama dengan  bu nung, ia seringkali mengiyakan apa yang bu nung katakan. Yang berbeda adalah keluhan yang beliau rasakan, beliau sering merasa pusing, batuk-batuk, dan tubuhnya sakit (ya mungkin akibat tidur beralaskan Koran dengan selimut seadanya di tengah dinginnya kota BANDUNG, kebayang kan y?). dinginnya kebayang, tapi aku tidak bisa membayangkan jika aku yang berada di kondisi itu. Saat aku bertanya tentang makannya, inilah jawaban bu neneng dan bu nung hampir bersamaan “ya Alhamdulillah neng, ada sedikit-sedikit mah”. Alhamdulillah… lagi-lagi kata itu membuatku tersenyum sekaligus malu, malu pada diri sendiri yang bahkan dengan ketersediaan makanan yang banyak, jarang sekali bersyukur. Jarang sekali terpikirkan bahwa di luar sana banyak orang yang sedang memegang perutnya menahan rasa lapar, sedang kita di sini terlalu sering memegang perut karena kekenyangan. Maafkan aku ya Allah… Saat itu juga aku tak henti-hentinya berucap “Alhamdulillah, terima kasih ya Allah Engkau pertemukan aku dengan mereka…” ku tatap wajah mereka, senyum mereka meluluhkan hatiku.

Yang terakhir adalah ibu Komala, kami hanya mengobrol sebentar. Tetapi dari nya aku bisa merasakan betapa berat hidup yang mereka jalani. Ibu komala mungkin berumur sekitar 35 an. Berasal dari Garut klo tidak salah. Dulunya bu Komala jualan bakso di kampung. Beliau terlibat hutang, tapi dibagian ini aku kurang bisa menangkap maksudnya, apakah ia yang berhutang atau orang lain yang berhutang padanya. Sebab beliau sempat mengatakan “utangnya banyak, cape juga ngomongnya jadi aja turun ke jalan (ke bandung dan cari kerja)”. Ibu komala punya anak juga, masih kecil-kecil nampaknya. Sayangnya aku lagi-lagi lupa berapa jumlahnya. Beliau berkata “sedih banget neng, klo malam-malam suka keinget anak, kangen sama anak, pengen pulang tapi uangnya gak ada, kerjaan juga gak dapet, hidup gak jelas di jalan, padahal tadinya ke sini pengen kerja tapi susaah banget dapet kerja. Yang paling sedih mah klo udah kangen rumah, kangen keluarga”. Jlep..jlep.. jlep.. mata bu komala berkaca-kaca Ya Allah… Aku juga jauh dari rumah, jauh dari orang tua, jauh dari kakak dan adik2. Kangen..pastinya, apalagi aku hanya bisa pulang sekali setahun. Tetapi rasanya kesedihan yang beliau tampakkan melebihi kesedihan yang pernah kurasakan. Mungkin karena perbedaan nasib yang kami rasakan, walaupun jauh, aku masih bisa sering2 menelepon orang tuaku, hidupku juga sangat berkecukupan. Tidur enak, makan enak, ibadah enak, semuanya serba enak, tak harus memikirkan besok makan apa, malam ini gelar Koran di mana?? Besok nyari duit d mana?? Keluarga dan anak-anak d sana gmana keadaannya?? Itulah yang membedakannya. Dan aku hanya bisa mematung, tak tau harus berkata apa. Aku hanya terdiam meresapi kata-kata beliau. Ya Allah…

Apa yang mereka ungkapkan mewakili jeritan hati ratusan tunawisma yang ada di Bandung. Aku sedikit menyesal karena aku tak dapat berbuat banyak untuk mereka, sore itu, walaupun aku hanya menjadi teman ngobrol mereka tetapi semoga itu bisa menghibur mereka. Allah sungguh tidak pernah menyia-nyiakan hambaNya.. lewat tangan-tangan para dermawan, Allah menunjukkan kasih sayangNya kepada bu nung, bu neneng, bu komala, dan yang lainnya. Dan walaupun ada sejuta keluhan, tetapi mereka masih bisa bersyukur dan bahkan melebihi rasa syukur kita yang hidup serba enak ini.

Aku sangat bahagia melihat senyum mereka apalagi melihat senyum dan tawa girang Dila dan Aulia, 2 anak kecil berumur sekitar 4 tahun. Apalagi saat mereka menerima jilbab pemberiaan panitia. Saat jibab itu telah terpasang mereka melompat-lompat, berjingkrak-jingkrak kegirangan. Sempat terharu juga ketika keduanya duduk di sampingku, kupeluk Dila, lalu Aulia nampaknya juga ingin dipeluk, mereka kemudian berebutan posisi duduk, dorong2an dengan tawa yang masih terdengar riang. Kuminta dila duduk dipangkuanku. Dila juga berkali-kali menanyakan kepadaku “teteh nanti di bagi apa lagi?? itu di bagi gak?? (sambil nunjuk kardus berisi mukena yang bahkan ia sendiri gak tau itu isinya apa)” berikutnya ia menunjuk bros yang kukenakan “teteh mau ini, ini di bagi juga gak nanti teh??”, andai saja aku membawa bros lebih pasti sudah kuberikan. Aku hanya tersenyum dan berkata “gak di bagi, nanti yang itu (sambil nunjuk kardus) di bagi”. Ocehannya tentu saja tidak serius toh sedetik kemudian dia berlalu dan asik bermain kembali bersama aulia. Lucunya mereka… ”Ya Allah.. apakah mereka mengerti tentang hidup yang sedang mereka alami??

Adik Dila lucu sekali, gak bisa diem, mulutnya terus menyeracau… kayaknya udah gak sabar ingin berbicara. Ada lagi Andre, anak laki-laki yang sangat pemalu.. saat di sapa ia langsung memeluk ibunya, menelungkupkan kepalanya di pangkuan ibunya, sesekali mengintipku. Dan seorang gadis bernama Ani, entah apa yang ada di balik senyumnya. Mungkin ketakutan atau kerinduan… saat shalat isya, Ani berada di sampingku, ia sangat sabar mengikuti setiap gerakan shalat. Dan setelah selesai mukenanya segera di buka, tapi kuminta ia berdoa, ia mengangkat tangannya, menundukkan kepalanya, sesekali menengok ke arahku mungkin menunggu aba-aba apakah berdoanya sudah atau belum. Saat kubilang udah, ternyata tangannya tetap terangkat. Hmm..

Wajah mereka semua merindukan kehidupan yang layak…

Senyum mereka mengisyaratkan keteguhan dan rasa syukur…

Lihatlah.. betapa pertemuan yang singkat ini menghasilkan cerita yang panjang. Kami saling bercerita, shalat dan makan bersama. Berbagi apa yang bisa kami berikan, berbagi senyuman yang mungkin tidak setiap saat dapat terukir di wajah mereka. Aku dan teman-teman yang lain kembali mendapat pelajaran hidup yang sangat berharga. Aku hanya berharap suatu saat aku bisa berbagi lebih banyak lagi untuk mereka. Dan sebelum aku meninggalkan mereka bersama pekatnya langit malam berhias bintang, aku memohon padaNya untuk mengabulkan do’a-do’a mereka, untuk selalu melindungi mereka, untuk selalu menyelimuti mereka dengan kasih sayangNya.

Bandung, 18 Juni 2011, 21.00 WIB