Derita Janji

Sebuah kata ingin sekali terucap
Tetapi apa daya mulut ini terkunci rapat oleh janjiku

Sebuah kalimat ingin sekali mengalir
Tetapi apa daya kata-kata itu terhalang janji yang kubuat
Tak sanggup keluar terangkai indah menjadi sebuah kalimat

Hah… kenapa harus berakhir begini??

Jika saja kutau, maka akan kutahan semua janji itu
Biarlah sesak di dada.. Biarlah… asalkan tidak menyiksa seluruh tubuhku seperti ini

Jika kata itu tak terucap , jika kalimat itu tak terangkai
Lalu siapakah yang akan memahami inginku
Lalu siapakah yang akan mengerti mauku

Kaukah?? Kaliankah?? Siapa??

Bahkan aku pun tak yakin jika mataku bisa melihat apa yang mulutku hendak katakan
Bahkan aku pun tak yakin jika telingaku bisa mendengar apa yang mulutku hendak sampaikan

Apakah semua karena janji itu??

Janji yang terkurung rapat dalam hatiku
Tak ada celah untuk sekadar melihat cahaya
Cahaya yang mungkin akan melelehkannya, mengalir bersama darahku
Memberontak, menghentak, menerobos rekatan yang dulu pernah ia buat
Memberi mulutku kesempatan untuk bisa tersenyum

Lalu.. lalu perlahan mengeluarkan sebuah kata
Lalu..lalu beberapa kata hingga kau tak sanggup menghitung berapa kata yang telah keluar dan menghasilkan rangkaian kalimat indah yang sudah lama terangkai dalam pikiranku

Apakah kemudian kau akan memahamiku?
Apakah kemudian hilang semua kerut dikeningmu?… (nd)

Advertisements

Perjalanan Waktu

Teman…
Hari ini, kau pasti sedang merindukan waktumu yang dulu…
Hari ini, kau pasti sedang menyesali waktumu yang dulu..
Hari ini, kau pasti sedang mengenang kisahmu yang dulu..
Hari ini, kau sadar semua telah berlalu..
Berlalu bersama setiap kata yang pernah terucap
Terucap lewat lirih do’a dan harapanmu
Harapan akan sebuah perjumpaan
Perjumpaan yang kau awali oleh sebuah kata singkat
Kata perpisahan yang kau lontarkan bertahun-tahun lalu

Aku pun merindukan saat-saat itu kawan..
Rasanya aku ingin berlari sekencang yang kubisa
Hanya untuk mengejar dirimu yang terperangkap dalam kenangan kita..

Tapi.. sanggupkah aku??
Bahkan aku tidak bisa mengejar dirimu sedetik yang lalu..

Aah…
Waktu tak membedakan tempat kawan…
Dimanapun, ia akan cepat berlalu..
Dan kita harus berjalan bersamanya
Bersama perjalanan waktu…

Tapi yakinlah kawan… perjalanan waktu memberimu sejuta hikmah
Yakinlah, perjalanan waktu akan menghapus air matamu
Yakinlah, perjalanan waktu akan menjawab segala tanyamu
Yakinlah, perjalanan waktu akan mengobati lukamu
Yakinlah, perjalanan waktu akan memberimu kekuatan baru
Yakinlah, perjalanan waktu akan mangajarimu kewibawaan
Yakinlah, perjalanan waktu akan membawamu pada rentetan kebahagiaan
Kebahagiaan yang akan berujung pada perjumpaanmu denganNya
Di penghujung waktu yang setelahnya hidup adalah kekal… (nd)

Diselesaikan di Pare, Kediri 17 Juli 2011 jam 13.26

 

Rintik Di Deras Air Mataku

Rintik…..
Rintik….
Rintik….
Deras air mataku membasahi  pipi ini..

Deras…
Deras…
Deras…
Perlahan kurasakan mutiara bergulir dan berhenti

Walau mereka telah pergi
Walau aku kembali sendiri di sini
Aku kini sadar derasnya telah datang menggantikan kehadiran mereka

Mereka yang ramaikan suasana hatiku
Mereka yang sejenak hilangkan gundah gulanaku
Mereka yang warnai hitam putihku

Walau singkat, begitu singkat
Bahkan rasanya  baru saja ku menghitung detik itu berlalu
Ternyata hari berlalu mengabaikan hitunganku…

Andai ku cepat menyadarinya
Andai ku tak pernah lupa
Andai ku lebih peka
Lihatlah…  Aku memang tak pernah sendiri

Rintik itu datang
Mengantar kepergian mereka, hanya itu…
Kini deras telah hadir
Membawa sejuta RahmatNya
Menghapus setiap sisa jejak kesedihanku
Mengaburkan pandanganku dari mereka
Memelukku dengan hawa dinginnya…

Kini aku berselimut  sepi
Tapi deras hadir di luar sana…
Menemani sepiku…
Entah sampai kapan…

Mungkin sampai rintik kembali datang mengantar kedatangan mereka… (nd)

 

Langit Negeri Sakura

Aku ingin berdiri di bawah langit itu,
Menatap sekeliling yang penuh nuansa lembut sang sakura
Mengukir senyum bahagia dalam rona kebanggaan

Aku ingin berdiri di bawah langit itu,
Menatap lekat gumpalan abu awan-awannya
Mengadu pinta pada sang angin yang bergemuruh

Aku ingin berdiri di bawah langit itu,
Merasakan tiap tetes Rahmat yang Ia turunkan
Menyelami sejuta rasa syukur di hati ini

Aku ingin berdiri di bawah langit itu,
Membentangkan seribu sayap semangat perjuanganku
Mengarungi mimpi yang tak pernah berakhir

Aku ingin berdiri di bawah langit itu,
Meneriakkan riak sungai kehidupanku
Memeriahkan derap langkah dan nyanyian alam

Aku ingin berdiri di bawah langit itu,
Menangis bahagia bersama tangis langit itu
Menggenggam kesejukan warna warni negeri itu

Aku ingin berdiri di bawah langit itu,
Tidak sendiri, tentu saja tidak…
Sebab aku ingin berdiri di bawah langit itu,
bersamamu kawan..

Aku ingin kita berdiri di bawah langit itu,
Menerbangkan janji yang telah terpenuhi
Bersama ratusan guguran bunga sakura
Membawanya pergi mengarungi samudera
Hingga ia menepi dan bersemayam di hati para perindu negeri sakura..

Dan kelak ku ingin mereka juga berdiri di bawah langit itu, mengulang kenangan kita… (nd)

Yang merindu Negeri Sakura
Rewrite,
Bandung, 20 Juli 2010 (20:25 WIB)

 

Untukmu Teman

Dari kejauhan kulihat sosokmu berdiri teguh
Dalam balutan pakaian suci, putih bersih
Kau lambaikan tanganmu, selembut senyum yang menghiasi wajahmu
Kau teriakkan sebuah kata…
Terdengar samar olehku
Apakah namaku yang kau teriakkan??

Kulangkahkan kakiku beberapa langkah
Tanpa menoleh, dengan pasti menghampirimu..

Kau tetap berdiri…
Namun, aku merasa kau telah bergeser selangkah ke kiri
Kakiku ingin sekali bergeser menyamakan posisi kita
Tapi… hati kecilku ragu
Aku tetap berjalan tanpa memedulikan pandangan matamu
Ku dengar derap langkah lain di belakangku
Semakin cepat, seperti berlari..

Aku terhenti, seseorang melewatiku tepat di sebelah kiriku
Aku terdiam dan kau telah berada selangkah dihadapannya
Pandanganmu seolah tak menyadari keberadaanku
Senyummu seolah mengalahkan senyum yang pernah kita ukir bersama
Kau rangkul tangannya dan melupakan segala pondasi yang telah membuatmu berdiri teguh saat kumelihatmu..

Ingin sekali menyapamu lagi, menarikmu ke dalam jalur yang sama-sama kita bangun..
Jalur yang membuat kita saling berbagi dan memotivasi untuk menjadi lebih baik
Tapi kau masih asyik dalam dunia kalian..

Kucoba teriakkan namamu hingga serak kurasa
Lalu kudengar beberapa gema disekitarku yang turut memanggil namamu
Air mataku mulai menetes.. sebuah sentuhan lembut menghapusnya
Menyadarkanku dari keterasingan dalam duniamu..

“Ini dunia kita kawan,” bisik suara itu, “kau tak boleh bergerak sendiri”

Ternyata mereka setia bersamaku sejak pertama aku melihatmu

Ya.. ini dunia kita kawan

Harusnya aku sadar bahwa kita pasti akan berbeda jalur suatu saat nanti…
Tapi mestinya jalur yang kau lewati saat ini tak seharusnya membuatmu melupakan kami
Melupakan ketulusan kami untuk membuat kita tetap berjalan bersama

Jalur kita kini berbeda, kita tak lagi bisa lagi saling menyapa langsung
Tapi aku yakin angin kan berhembus melewati jalur kita
Sehingga dapat kutitipkan rasa rinduku padanya
Agar kau dapat merasakannya kala angin berhembus di jalurmu
Kuharap kau menikmatinya dan melakukan hal yang sama

Tapi sejak seseorang mengisi ruang hatimu
Sejak kau menggeser posisimu
Sejak kau tak lagi menyadari keberadaan ku dan yang lainnya
Aku sama sekali tak pernah merasakan angin kerinduan darimu
Mungkin dia begitu penting bagimu sehingga tak ada lagi ruang di hatimu untuk menampung rasa rinduku, rasa rindu teman-teman kita yang lain terhadap sosokmu yang dulu
Entahlah.. bagimu aku memang tak berhak menentukan arahmu

Aku pun kini mulai lelah kawan.. kau seperti menganggapku ilusi, bayangan yang begitu menghalangi pandanganmu, bayangan yang begitu mengganggu..

Tapi jika kau mau mengingat, jika kau mau merenung..
Kita pernah bersama, saling menasehati, saling berbagi suka duka, saling memotivasi
Kita pernah berjanji untuk saling menjaga dalam naunganNya

Suaraku telah habis untuk menyuarakan rasa rinduku
Tapi insya Allah hatiku tak kan lelah tuk menyuarakannya lewat do’a

Aku dan yang lainnya sungguh tak ingin kau melupakan jati dirimu
Setidaknya jangan pernah lupakan keberadaan hati kecilmu
Tanyakan padanya, sebab aku yakin dia tak akan membohongimu
Tanyakan tanpa campur tangan egomu..
Renungkan jawabannya…
Kumohon jangan pernah berhenti menyuarakan perasaanmu padaNya
Jika kau bersedia.. do’akanlah kami juga

Mungkin kami terlalu angkuh, terlalu lancang..
Maafkanlah..
Kami hanya masih menganggap dunia kita sama
Walau jalur kita telah berbeda
Itu tak masalah kawan.. yang penting jalur itu masih berada dalam pengawasanNya
Yang penting kita masih menjadikanNya sebagai penuntun langkah kita… (nd)

untukmu teman… tidak semua yang tertulis mungkin benar, tapi itulah yang kurasakan. Hati kecilku ingin aku tidak menyerah.. kumohon padamu untuk tidak menyerah. Aku yakin kau bisa, kita bisa!!!

Kita bisa mempertahankan jati diri kita, kita bisa menjaga diri dalam pakaian taqwa kita… kita bisa meraih ridhoNya bersama dan insya Allah segalanya akan berakhir indah nantinya kawan… Segalanya akan berakhir jaaaauh lebih indah pada waktunya..

Bandung, 02 september 2010

Ceritakan Padaku

Kisahmu yang tak pernah habis termakan waktu
Ceritakan padaku…
Keluh kesahmu yang telah lama kau simpan
Ceritakan padaku…
Anganmu yang selalu membuatku tersenyum kala mendengarnya
Ceritakan padaku…
Semua yang kini tak pernah kau perdengarkan lagi padaku
Ceritakan padaku…
Karena aku tahu ada banyak cerita yang kau punya
Ceritakan padaku…
Karena itu kan membuat jiwaku lepas, lepas dari segala beban yang kau punya

Ceritakan padaku wahai hati…
Aku tak ingin kau terluka sendiri
Aku tak ingin kau menangis sendiri
Aku juga tak mau kau bahagia sendiri
Jiwaku dan dirimu adalah satu, bukankah begitu??
Kenapa tak pernah kau ceritakan lagi padaku??
Aku hampa di sini, haus akan air mata.. resah akan banyak hal yang tak lagi menyatu bersamamu..
Aku hampa di sini, tak dapat merasakan apa yang sebenarnya kau rasakan…

Ada apa wahai hati??
Tidakkah kau rindu saat-saat kau berbagi padaku??
Tidakkah kau rindu saat-saat kau merasa begitu tenang setelah menumpahkan semuanya padaku??
Lalu kenapa?? Aku sangat sangat ingin mendengarnya…
Dan kumohon perdengarkanlah suaramu…
Dan ku mohon ceritakanlah padaku, pada jiwaku ini…
Sebab yang ku tahu dan ku yakin kau bukanlah batu…

Kau adalah kapas bagiku…
Kau putih dan selalu dapat menyerap segala hitam yang ku berikan..
Lalu dengan air mataku kuhapus semua hitam itu..
Tapi aku tahu, itu saja tak pernah cukup..
Dan yang ada kau semakin keruh oleh semua yang telah kulakukan..
Maafkanlah aku… dan ku mohon biarkan aku menebusnya dengan menjadi pendengar setiamu..
Yang selalu siap mendengar semua ceritamu kapan saja kau menginginkannya… (nd)

Pangkep…Ahad, 20 juni 2010 (14:56 WITA)

Sepi.. Ingatanku

Sepi mengingatkanku akan sesuatu
Sesuatu yang ternyata masih setia menyinggahi pikiranku
Yang perlahan mulai dipenuhi hal-hal lain
Dan ketika ia telah mendominasi
Hati ini hanya sanggup bergumam
“ Ya Allah berikan aku ganti yang jaaaaauh lebih baik”
Bersama helaan nafasku
Tenggelam bersama sesak di dadaku
Dan butir-butir airmata tak sanggup terbendung lagi…

Hufft…

22 Januari 2010, 17:35