sebut saja itu diriku yang sedang kau ejek dalam balutan sinis senyummu..
ah tidak.. kau tidak sekedar mengejekku..
PLAK.. kau menamparku, ratusan kali..
sebut saja itu diriku yang lagi-lagi tak menghiraukan rasa sakit akibat tamparanmu..
dan akhirnya kau menyerah
melenggos pergi masih dengan senyum sinis..
hanya saja aku tak tahu bahwa air matamu menetes dari balik punggungmu yang terlihat olehku..
mengasihani diriku..

Menikmati Diam

Bukan tak mau berbagi cerita..

Hanya saja rasanya kau memang tak mau mendengar ceritaku..

Bukankah dulu hati kita seakan sering bertelepati.. dan kita sering sama-sama memencet tombol-tombol di hp masing-masing, mencari nama kita, kau mencari namaku, aku mencari namamu..

dan sekian detik berikutnya kita sudah saling bertukar cerita.. panjang sekali hingga aku aku tak tahu sudah berapa kali senyum terukir di bibirku atau perasaan ingin memelukmu muncul..

Bukankah dulu sangat mudah bagi kita untuk berbagi rasa dan cerita..

Lalu setelah banyak rangkaian ceritaku yang kau lewatkan kau baru menyalahkanku..

dan kini rasanya tak ada selera untuk menceritakan rangkaian cerita yang sudah berlalu itu..

tapi seingatku aku menyimpannya dalam beberapa memori..

dalam ingatanku.. dalam foto.. dan mungkin nnt dalam tulisan..

jika kau memang ingin tahu, aku tidak memaksamu untuk bertelepati dan meneleponku..

kau cukup “mendengar” ceritaku dalam memori foto dan tulisan..

tapi aku tak pernah memaksamu untuk mencari tahu.. entahlah..

rasanya aku sudah terlalu nyaman bersama diam yang kau ciptakan..

oh ya.. dalam diam aku masih sering “mendengar” ceritamu lewat media apapun yang mungkin.. dalam diam aku juga menyimpan banyak rasa rindu

tapi aku tak pernah tahu apakah dalam diam kau juga berlaku sama??

ah sudahlah.. aku sudah terlanjur menikmati diamnya kita..

kalau memang tak bisa seperti dulu.. mari kita bertelepati dalam do’a, do’a dalam diam..

bukankah lebih indah begitu??

 

Kananmu Bukan Kananku

Teman..
Bagiku awan dilangit cerah begitu mengagumkan
Namun tidak bagimu yang sedang merindukan
Kehadiran pelangi bersama awan yang mendung

Teman..
Bagiku pekatnya langit malam yang bersih begitu menenangkan
Namun tidak bagimu yang tengah merindu
Taburan bintang-bintang tuk temani sepimu

Teman..
Bagiku tiupan angin begitu menyejukkan
Membawa semua masalahku pergi jauh
Namun tidak bagimu yang tengah cemas
Jikalau ia menerbangkan semua harapan emasmu

Teman..
Walau matahari hanya satu
Walau rotasi bumi itu tetap
Kananmu bukan kananku dan
Kirimu bukan kiriku

Walau kau menjelma jadi bayangku di dalam cermin
Walau kau dilahirkan kembar bersamaku
Itu tak akan mengubahnya

Maumu kan tetap jadi maumu bukan mauku
Harapmu bukan harapku
Pandanganmu bukan pandanganku

Tetapi teman..
Tuhanmu juga Tuhanku
Waktu yang kau miliki juga waktuku

Olehnya teman..
Biarlah Dia yang putuskan akhir masalah kita
Dan biarlah waktu yang menyelesaikannya

Teman..
Jangan lagi kita korbankan banyak hal
Tuk jadikan hidupmu menyatu dengan hidupku
Sebab kananmu bukan kananku
Dan kirimu bukan kiriku

ahh.. senja saat itu.. aku merindunya. Bolehkah aku bertemu dengannya di tempatmu?? kapan??

Sketsa (Abu-Abunya Pensil)

Image

abu-abu..
antara hitam dan putih..
saat kau tak tahu harus memilih yang mana..
saat kau menginginkan sebuah kebebasan dalam melukis..
tak terbelenggu definisi hitam dan putih..

abu-abu..
saat kau menyimpan banyak makna yang tak bisa diucapkan..
saat kau mempercayakan semua itu pada goresannya… (nd)

that’s why i love free sketching :D

Untukmu Di Sana

Pernah aku bertanya padamu tentang arti persahabatan
Kau bilang ia seperti ikatan network yang tak akan putus
Aku tak peduli lagi tentang ribuan definisi yang ada
Juga tentang status yang melekat
Semua hanya membuatku larut dalam tanya
Semua hanya membuatku tenggelam dalam rasa
Rasa yang kini menghujam pilu

Aku dahulu berlagak paham akan definisi persahabatan kita
Kini.. Saat kau membuat sekat di antara jarak yang memisahkan kita
Saat kau memaksaku menghapus segala bayangmu
Bahkan untuk sekedar singgah dalam ruang rinduku
Aku mulai bertanya-tanya, bukan sekedar tanya..
Sebab.. ku butuh jawabmu.. bukan diammu

Buat aku mengerti..
Agar tak ada pilu dalam kebiasan
Agar tulisanmu tak lagi membuatku geram dalam lara
Agar hujan tak lagi membuatku sesak saat mengingat kenangan kita.. (nd)

*Dalam balutan rindu terhadap sahabat terkasih di sana..
kita tak seharusnya begini bukan??
kenapa harus berakhir dalam diam dan membiarkan kata tertahan di bibir??

then.. what should i do??

Lab RSKE, TI ITB.. Sore yang mendung 23 Des 2012

Kanvas..

Dihadapanku terbentang sebuah kanvas hitam..
Dibeberapa bagiannya tampak titik-titik putih
Tak begitu besar hingga ku bisa melihatnya dari jarak 1 meter
Tak begitu kecil hingga hidungku harus menyentuh kanvas itu

Dulu.. 21 tahun yang lalu…
Saat pertama kali kuhirup nikmat terbesarNya
Saat pertama kali mataku dapat melihat cahaya matahariNya
Aku tau, semua orangpun tau.. kanvas itu begitu bersih
Putih tanpa sedikitpun tinta yang menghiasinya
Apapun yang kulakukan saat itu terhadapnya,
Ia tetap saja putih..
Setiap saat kugoreskan kuasku diatasnya
Tapi tetap saja.. semua warna itu lenyap diserap olehnya
Aku tak pernah mengerti
Sebab saat itu aku terlalu polos untuk mengerti

Dan waktupun menjawabnya
Saat Dia tetapkan diriku untuk mengerti makna kata baik dan buruk
Saat Dia tetapkan diriku untuk menanggung semua dosaku seorang diri
Saat semua hanya antara aku dan Dia

Semua yang kulukiskan tak lagi lenyap, warna2 itu begitu nyata menyatu
Diatas kasarnya permukaan kanvas itu
Kadang kugoreskan kebaikan diatasnya
Tapi seringkali goresan keburukan yang kutorehkan
Hingga warna-warna saling menutupi

Dan detik demi detik berlalu
Menit demi menit berlalu
Hari demi hari berlalu..
Begitu sulit mengembalikan putihnya
Kini warnanya begitu gelap dan tebal
Hingga ku tak tau berapa waktu yang kubutuhkan untuk menggerusnya

Kini kanvasnya tak lagi seindah dan sebersih dulu
Kini aku hanya mampu memandanginya penuh sesal
Betapa kesempatan yang Ia berikan tak kumanfaatkan  untuk Terus menorehkan tinta kebaikan diatasnya
Betapa egoku begitu liar hingga tanganku tak mampu Melukiskan keindahan yang Ia tunjukkan di sekelilingku

Ya.. hatiku kini bak kanvas itu
Hitam… kotor… hanya sedikit ruang yang belum tersentuh
Dan kefanaan dunia ini mungkin saja akan menggerakkan tangan ku tuk menutup titik-titik putih itu
dengan berbagai warna tak tentu arah

Dan aku berharap tanganNya mampu membimbingku untuk tetap istiqomah meracik
warna-warnaNya hingga ia bermuara pada 1 warna di mana semua warna berasal

Dan hingga tiba saatku menutup mata..
Kuingin noda-noda di putihnya kanvasku tak lagi mendominasi.. (nd)

Inilah Jawaban Pintaku

Dulu aku pernah meminta padaNya agar aku bisa melihat kilau cahaya emas
Lalu datang kepadaku seberkas cahaya kuning mentari dan aku tak sanggup melihatnya
Sangat silau dan menyakitkan mata
Aku tertegun dan bergumam “kalau begitu berikan aku kilau cahaya yang terbaik”
Tak lama seseorang datang padaku, menyinariku dengan cahaya islam yang begitu indah, begitu terang tapi sama sekali tak menyakitkan mata, cahaya itu bersinar dari hati-hati orang yang padanya hidayah itu ditanamkan dalam hatinya..

Dan aku sadar pintaku hanya sebatas dunia, padahal akhirat menjanjikan lebih dari itu…

Aku pun pernah meminta padaNya untuk diperdengarkan nyanyian alam, alunan musik klasik bersama hari-hari yang indah di sebuah istana megah bertabur nada…
Lalu datang kepadaku seorang anak menangis dan menjerit kelaparan, ditengah gemerisik hujan dan dentuman petir….
Sangat menganggu dan menyakitkan telinga…
Tak lama suara adzan memecah gemuruh, menghiasi  gema alam yang bersenandung dzikir nan hening..
Samar-samar kudengar lantunan ayat-ayat suci, ku mendekat.. bibir mungil itu begitu fasih.. air matanya tetap mengalir namun jeritannya telah berganti menjadi sebuah mukjizat kecil bagi hatiku..

Hati ini bergetar, seketika bayang-bayang istana yang kuciptakan runtuh, tak ada lagi taburan nada yang ada hanya taburan bintang-bintang bersama lantunan merdu Al Qur’an..
Begitu tenang, damai..
Angin berhembus dan menyadarkanku..

Lagi-lagi pintaku hanya sebatas dunia, padahal akhirat menjanjikan lebih dari itu dan gadis itu sedang meminta kehidupan akhirat yang indah lewat bibir mungilnya.. (nd)

Bandung, 11 Juni 2011 8:41