Si Garong :)

Namanya Garong..

Entah siapa yang pertama kali memberinya nama itu, saya lupa..

Yang unik dari Garong adalah tingkahnya yang sangat “merdeka”

Kalau berjalan sangat lambat, jika kami (atau salah satu dari kami) mencoba mengusirnya dengan senjata andalan (sapu), dia tak pernah merasa terancam, apalagi hanya dengan kata “hush..hush..” yang seakan menggertak..

Garong tetap berlenggok seperti tidak terjadi apa-apa di sekeliling nya.. padahal kami sudah seringkali ramai meneriakinya, membicarakannya, menertawainya, dan kadang dengan sedikit kesal memakinya.. tapi Garong tak pernah peduli.. dia tetap berlaku sesuka hatinya..

Jika sedang beruntung, maka dia akan menanggapi dengan menoleh sebentar, bergumam dengan suara serak khas Garong, lalu kembali berjalan..

Pernah Garong kami usir dengan sapu, karena dia tidak bergeming, maka saya dorong dia dengan sapu tersebut. Tubuhnya lumayan berat.. saya sedikit kesulitan di buatnya.. Garong juga tampak pasrah di dorong, tanpa perlawanan.. tapi kemudian secara tak terduga Garong bergerak berbalik dan menunjukkan tampang seperti menantang saya “Apa lo? Mau ngapain?” , spontan saya melangkahkan kaki mundur menajuhinya.. takut jika tiba-tiba Garong menyerang..

Saya yang masih kaget kemudian malah kesal dibuatnya. Maka, saya menyerah dan kembali masuk kamar.. tapi di kamar saya tak berhenti tersenyum membayangkan tingkah Garong tadi..

Pintu kost 21 selalu di kunci.. sebenarnya jika saja Garong ingin melompat, maka dia bisa saja masuk dengan cara itu melewati ruang di antara teralis pintu.. tapi sesungguhnya bukan tidak ingin, Garong nampaknya tidak sanggup mengingat tubuh tambunnya dan sifat “malas” nya yang luar biasa.. Maka, yang dilakukannya adalah menunggu seseorang membuka pintu dan dia menerobos masuk. Dengan cari itu pun, saya curiga Garong sering gagal masuk karena geraknya yang sangat lambat.

Setelah memasuki kost, yang akan dilakukan Garong adalah memulai tingkah normal kucingnya yaitu apalagi kalau bukan mengendus-endus, berjalan ke arah sumber bau (tempat sampah), dan melompat ke arah nya dan bisa kau tebak.. suasana kost yang sepi sejenak ramai oleh bunyi tempat sampah yang jatuh.. seluruh isinya tumpah dan mulailah Garong mengubrak-abrik isinya.. plastik hitam di cakar-cakarnya demi mendapatkan tulang ayam maupun ikan sisa makan anak-anak kost. Aktivitasnya ini dilakukan dari lantai satu hingga lantai 3. Mungkin juga ke lantai 4 dan menyeberang ke kost 23 yang terhubung lewat lantai 3 kost 21.

Jika sudah kenyang, maka Garong akan mengantuk.. Garong akan mulai berjalan mencari tempat untuk tidur..

Garong ini kucing yang cukup elit, harus tidur beralas “kasur” empuk.. daaannn entah sejak kapan dia seringnya memilih keset depan kamarku.. mungkin karena kesetku ada tiga lapis hingga terasa begitu empuk.. mungkin juga dia menangkap aura kepasrahan diriku setiap kali melihatnya tidur pulas di atas kesetku, ya dia berpikir saya mengizinkannya..

Lama-lama memang saya tak peduli dan meresmikannya sebagai alas tidur garong (dan saya tak akan memakainya lagi sebelum mencucinya)..

Image      Image

Maka, hari-hari berikutnya dia akan tidur di kesetku lagi.. ujug-ujug, tanpa sama sekali kusadari.. seringkali teman-teman lantai 3 (nisa, fira, hera, marini atau teh ica) yang menyadari keberadaan Garong saat mereka hendak ke kamar mandi.. dan mereka akan berteriak

“kak nidaaa… anaknya tuh tidur di depan kamar”

Saya yang sedang asik dengan tugas hanya akan bersuara lirih “he eh..”

Jika sudah penat berada di depan laptop maka pelan-pelan saya membuka pintu kamar dan mengamati wajah Garong yang tertidur pulas.. beneran pulas lah dia.. bahkan saya melangkahinya untuk ke kamar mandi, Garong tidak terusik..

Pernah suatu kali teman-teman heboh berbisik-bisik di luar kamar.. memanggilku untuk keluar sebentar melihat Garong..

Ahhh.. Garong tidur dengan posisi yang lucu.. kepalanya berada di salah satu tangannya (ikut sunnah Rasul ya Garong.. 🙂 ), mulutnya sedikit terbuka.. tampak sangat lelah.. pasti Garong habis keliling Pelesiran mencari makan.

Tidak lama dia berganti posisi, tangannya menjulur ke depan.. lucu banget pokoknya.. kayak manusia aja Garong.. menikmati sekali.. sampai di colek pakai sendal pun Garong tidak bangun..

Garong juga suka nakal.. jalan lalu tiba-tiba pipis di kanan kiri lorong kost seenaknya, dimana beberapa kardus, barang, dan koper diletakkan. Untungnya, beberapa barang kami bungkus plastik, jadi pipis Garong tidak mengenai barang kami secara langsung.. tapi tetap sajaaa.. hal ini sungguh nggak banget bagi kami.. was-was kami dibuatnya.. jangan-jangan hampir setiap sudut sudah dipipisi Garong. Heuuu…

Sudah beberapa bulan dia tidak main ke kost kami.. tapi kami masih menemuinya di sekitar jalan Pelesiran, berjalan lambat dan santai, menikmati hidup…

Suatu saat saya menemuinya sedang terlelap di kedai kecil penjual nasi kuning dekat kost. Garong sedang tertidur.. saya berjalan saja, tapi sesuatu di kepalanya membuat langkahku berbalik kembali padanya..

Kulit kepala dekat matanya terkelupas dengan bekas darah yang sudah mengering.. Astaghfirullah..

Karena sedang terburu-buru, maka ku teruskan langkahku sambil terus memikirkan Garong.. sedih banget rasanya.. setelah sekian lama tak melihat Garong, tiba-tiba bertemu dengan kondisi Garong yang seperti itu.. beberapa hari berikutnya saya kembali bertemu dan Garong sedang berjalan dengan langkah seperti biasa.. lukanya sudah lumayan berangsur lebih baik, bulu dan kulitnya sudah sedikit menempel lagi dengan kulit kepalanya..

Saya kini sungguh merindukan kehadiran Garong di kost..

Menyaksikannya mengunyah tulang dann sisa makanan dengan sampah yang berhamburan di sekelilingnya..

Menatap wajahnya yang sedang tidur pulas di atas keset.. dan kemudian membuat bibirku tersenyum bahagia.. sesekali ku bisikkan “selamat tidur” padanya dan kadang-kadang juga ke ajaknya berbicara (satu arah tentunya).. kadang yang terucap adalah “Garong, do’ain yaa.. besok mau ujian, tugas belum beres, dsb.. kamu enak bgt ya udah tidur pulas gini, saya masih harus begadang buat belajar atau nugas”

Saya juga rindu suara khas Garong yang dari lantai 1 sudah terdengar.. teman-teman sering iseng berteriak “kak nidaaa.. anaknya manggil tuh..“ “Kak nidaaa.. anaknya dateng tuh…” 🙂

Juga wajah polosnya menanti saya membuka pintu kost.. dan saat pintu terbuka maka dia berjalan dengan lambat ke dalam. Jika bukan saya, mungkin Garong tak berhasil masuk karena orang lain akan sangat cepat menutup kembali pintu agar ia tak masuk.. tapi saya tak pernah tega melakukannya kecuali jika Garong sendiri tak ingin masuk dan memilih duduk di atas keset depan kost..

Image

Saya juga rindu mengelus kepalanya yang sama sekali tak halus ketika ia sedang tidur..

Ah.. kucing ini sungguh ngangenin..

Unik.. langka.. belum pernah saya menemui kucing dengan karakter seperti Garong.. saya amat terkesan dan belajar banyak dari tingkah laku Garong.

Semoga bukan karena trauma atau takut hingga Garong tak pernah lagi “main” ke kost..

Garoooong.. Be strong!! Hiduplah dengan bahagia di luar sana.

Semoga Allah melindungi semua kucing di dunia ini.

Camera 360

Foto ini kuambil seminggu yang lalu. Garong sedang telelap di siang terik di bawah mobil yang sedang parkir di dekat kost. Lukanya belum sembuh 100%.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ditulis pada : 22 Februari 2014 (baru sempat di post di sini)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s