cinTA 3 : First Trimester, The Struggle Was Real

First trimester atau 3 bulan pertama konon katanya adalah masa-masa penuh perjuangan dan yang paling menguji kesabaran. Di masa inilah sebagian besar wanita hamil akan mengalami morning sickness yang ternyata tidak berarti terjadi di pagi hari saja tetapi bahkan bisa terjadi sepanjang hari, pagi siang sore malam.. seperti yang sudah sering kita dengar, morning sickness adalah kondisi dimana wanita hamil akan mengalami mual-mual bahkan sampai muntah-muntah akibat perubahan hormone di dalam tubuh dan ya tentu saja karena ada sesuatu yang ‘asing’ di dalam perutnya yang sedang tumbuh. Saya.. adalah salah satu yang mengalami hal ini.

Saat itu seperti yang sudah saya sebutkan di tulisan sebelumnya, bertepatan dengan bulan Ramadhan.. saya mencoba berpuasa selama 10 hari dan akhirnya harus merelakan untuk tidak berpuasa di sisa waktu Ramadhan (20 hari). Sebenarnya, dari hasil pencarian mengenai fatwa ibu hamil untuk boleh tidak berpuasa dan hasil diskusi dengan ayah juga suami, saya menangkap kesimpulan bahwa tidak masalah bagi ibu hamil untuk berpuasa selama ia merasa kuat dan yakin gizi bayi tetap terpenuhi dengan memaksimalkan asupan pada saat sahur dan buka puasa. Dan, saat berpuasa tetap tidak memaksakan kehendak yaitu dimana tiba-tiba ia merasa tidak kuat segera membatalkan demi kemaslahatan ibu dan bayi. Saya saat itu sudah mengalami mual-mual dan muntah-muntah yang cukup parah.. saya juga sulit makan dalam artian tidak semua makanan bisa masuk walaupun saya merasa lapar dan jikapun memaksakan untuk puasa, saya belum tentu bisa makan pada saat sahur maupun berbuka. Nafsu makan saya menurun, tiba-tiba tidak selera terhadap beberapa makanan, sering membayangkan makanan Indonesia yang sulit didapatkan dan sulit dibuat sendiri, merasa takut makan karena tahu endingnya akan dikeluarkan dan merasa hal itu sangat menyiksa. The struggle was real.. never imagine that kind of things can be happened to me yang soal makanan tidak pernah neko-neko.

Sekedar gambaran, saat terbangun di waktu sahur atau sepertiga malam, saya pasti akan muntah-muntah. During the whole day, saya merasa lemas lesu tak berdaya dan lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur. Untuk ibadah seperti tilawah pun masya Allah rasanya sulit karena nafas terasa pendek dan itu membuat saya lebih nyaman tilawah tidak dengan bersuara. Menjelang buka puasa keinginan untuk muntah benar-benar besar.. kadang justru di saat waktu berbuka tinggal hitungan detik disaat itulah muntahan rasanya sudah di tenggorokan. Allahu Akbar, saya cuma bisa banyak-banyak istighfar dan memohon agar Allah menerima puasa saya dan menguatkan saya.

Saya juga pernah diundang berbuka puasa di rumah teman, dan  karena sudah tidak dibolehkan naik sepeda oleh ummi, maka kemana-mana saya naik bus atau jalan. Saat itu pilihan saya dan suami adalah berjalan kaki karena rute bus pun tidak begitu menguntungkan dari segi waktu dan jarak tempuh. Saat itu, saya betul-betul merasa kepayahan berjalan kaki.. selang 5 menit saya minta untuk istirahat dengan sekedar menyender ke dinding atau jika ada bangku maka saya akan duduk. Ya Allah, saya yang biasanya strong jalan kaki berkilo-kilo bisa tiba-tiba merasa lemah sekali. Total waktu perjalanan menjadi dua kali lipat. Untungnya suami begitu sabar menyamakan langkah kaki dan tidak memaksa saya untuk tergesa-gesa mengejar waktu. Saat saya masih berpuasa dan masih mengendarai sepeda untuk shalat isya dan tarawih di masjid, saya sempat merasa agak ngos-ngosan dan seperti masuk angin. Ya kebetulan memang sudah masuk musim gugur jadi udara pun sudah mulai dingin. Tetapi malam terakhir sebelum saya dilarang naik sepeda dan disarankan untuk shalat di rumah saja, saya sempat merasa ingin sekali muntah dan agak sesak juga kedinginan sampai suami harus meminjamkan jaketnya ketika pulang sehingga dia tidak memakai jaket.. kasian sekali suamiku kala itu, but aku dibuatnya terharu huhu..

Pernah suatu ketika saat saya sudah tidak berpuasa, saya dan suami ke pasar di Den Haag. Pasar ini lumayan besar dan terkenal harnya murah sekali terutama untuk buah-buahan dan sayur-sayuran. Dalam rangka mendukung asupan gizi yang bagus untuk bumil, agenda kami yaitu memborong buah-buahan. Hasil belanja dapat dilihat digambar. Dan kebetulan juga nemu kue halal yang memang sangat saya inginkan walaupun endingnya cua sedikit yang dimakan. Nah saat berbelanja saya sempat merasa lemas, mual, dan agak pusing sampai rasanya ingin pingsan. Saya sempat muntah juga. Akhirnya kala itu suami menyuruh saya melipir mencari tempat duduk dan dia melanjutkan belanja sendiri.

IMG-8429

Hasil belanja buah-buahan untuk bumil 🙂

Saat memasuki 10 malam terakhir, saya keukeuh ingin I’tikaf. Pasalnya itu adalah hal rutin yang selalu saya perjuangkan setiap Ramadhan dan telah dibiasakan oleh Ayah Ummi sejak saya kecil. Maka, saya dan suami sempat terlibat diskusi dan sedikit berdebat sebab suami tidak menyarankan saya pergi. Tetapi dasar sayanya keras kepala dan pake nangis, akhirnya suami mengiyakan untuk mengajak saya I’tikaf di masjid di Den Haag, kenapa tidak di Delft? Soalnya masjid di Delft (masjid Maroko dan masjid Turki) sayangnya tidak mengadakan I’tikaf. Jadi kami harus ke kota sebelah. Kami pergi dengan menggunakan bus dan tram. Jarak perjalanan dengan menggunakan bus dari Delft cukup jauh. Biasanya saya yang dalam keadaan sehat saja sering mabok perjalanan darat jika jarak terlalu jauh. Ya bisa ditebak dalam kondisi hamil muda, saat itu di dalam bus saya lebih banyak diam dan menahan diri agar tidak muntah. Sempat di tengah perjalanan rasanya ingin sekali muntah sampai harus menelan ludah berkali-kali dan istighfar yang banyak. Dan saat turun dari bus, saya muntah. Begitu juga dengan saat turun dari tram, saya muntah cukup banyak dan perut terasa sakit. Suami bahkan menyuruh untuk pulang dengan diantar dan nanti dia balik lagi, tapi saya gak mau. Saat itu lagian jarak masjid sudah dekat tinggal jalan kaki. Alhamdulillah akhirnya kami tetap ke masjid dan walaupun kondisi masjid sudah penuh, saya bisa nyempil di ruang utama akhwat. Perjuangan selanjutnya adalah saat shalat dimana saya lagi-lagi keukeuh sebisa mungkin shalat dalam keadaan berdiri yang pada akhirnya nyerah juga pas shalat tarawihnya karena imamnya bacaannya cukup panjang. Kalau tidak salah, saya mulai shalat duduk di rakaat ke empat.

Setelah shalat tarawih ada ceramah dalam Bahasa arab dan para akhwat bisa melihat dari layar. Saya sejujurnya hanya ingin berbaring sambil dzikir-dzikir saja karena saya juga mulai mengantuk. Tetapi, melihat sekeliling, tidak ada satupun ibu-ibu maupun mba-mba yang berbaring. Nampaknya I’tikaf di sini benar-benar tidak untuk tidur karena waktu selesai shalat tarawih ke waktu sahur juga sangat dekat jadi setiap orang benar-benar memanfaatkan waktu dengan baik. Ada sih beberapa ibu-ibu yang ngobrol tapi gak heboh dan nampaknya mereka memang jarang bertemu sehingga I’tikaf jadi ajang silaturahim juga buat mereka. Nah, ditengah kegengsian saya untuk tetap bertahan dengan posisi duduk walaupun sudah menyender ke dinding dengan lemas, saya benar-benar berdo’a agar Allah memberi kekuatan. Tapi perlahan saya refleks juga ambil bantal yang saya bawa dan perlahan membaringkan diri sambil memegang tasbih dan berusaha sekuat tenaga agar tetap terjaga. Saya juga bertekad untuk tidak tidur demi menjaga wudhu agar tidak perlu merasakan dinginnya lantai kamar mandi dan air. Tetapi apa daya, saya tertidur juga walaupun sesekali terbangun. Saya mencoba membuang rasa gengsi dan berusaha cuek tetap tidur karena memang lemas sekali. Oh iya, kebetulan saya juga bertemu teman mahasiswa TU Delft yang sesekali menanyakan kondisi saya dank arena itulah saya merasa sedikit tenang karena setidaknya saya tau harus minta tolong ke siapa jika sesuatu hal terjadi.

Saat waktu qiyamul lail tiba, saya masih tak sanggup bangun dan pada akhirnya saya shalat sendiri dua rakaat saja. Setelah itu, saya ikut ke ruang makan untuk sahur walaupun saya tidak akan puasa. Menu sahur sangat minimalis hanya roti, keju dan selai. Beberapa jama’ah membawa bekal seperti  kurma, buah, atau masakan cemilan khas negara mereka yang beberapa diantaranya ditawarkan kepada jamaah lain. Teman saya malah bawa nasi goreng namun saya yang memang tidak nafsu makan memilih hanya minum teh hangat dan makan roti dengan keju. Setelah sahur, seperti biasa, saya muntah-muntah dan keluarlah semua yang saya makan ketika sahur tadi. Sekuat tenaga saya wudhu dan menunaikan shalat sunnah dengan menggunakan kursi yang sebenarnya disediakan bagi mereka yang lanjut usia yang sudah tidak mampu shalat dalam keadaan berdiri. Selepas shalat Sunnah, ternyata waktu menunggu untuk shalat subuh cukup lama yaitu hampir setengah jam dan itu membuat saya benar-benar harus bersabar di tengah kondisi yang sudah lemas pasca muntah-muntah dan ngantuk berat. Saat shalat subuh, saya sudah agak gak khusyuk dan ingin segera pulang. Masjid pun ternyata harus segera dikosongkan sehingga kami tidak bisa istirahat lama-lama. Bus, tram, maupun kereta belum beroperasi dan itu menjadikan kami (saya suami dan teman tadi) berpikir untuk memesan uber dengan patungan. Alhamdulillah uber cepat didapatkan dan waktu perjalanan ke Delft dengan tujuan rumah saya cuma 15 menit.

Sampai di rumah, saya langsung berbaring dan tidur.. pengalaman I’tikaf malam itu menyadarkan saya bhawa saya memang tengah dalam kondisi yang tidak optimal untuk beribadah sebagaimana orang yang sehat sehingga insya Allah keringanan untuk tidak melakukan I’tikaf bisa saya peroleh. Saya tetap berniat dan berharap Allah menghargai usaha saya menjaga janin dengan beristirahat di rumah sebagai jihad dan tetap mempahalai niat saya untuk I’tikaf. Saya juga akhirnya nurut dengan suami untuk tidak pergi I’tikaf lagi. Tapi saya ingin suami tetap I’tikaf jadi dia tetap pergi meninggalkan saya dihampir 10 malam terakhir terutama malam-malam ganjil.

Saat first trimester, saya juga mengalami saat-saat dimana tidur tidak begitu nyenyak dan sering terbangun malam hari. Kepala dan perasaan rasanya gak karuan bahkan saya sering bilang ke suami rasanya ingin jedotin kepala ke dinding yang berakhir dengan jedotin kepala ke dada suami. Saya juga minta Ayah meruqyah dari jauh tetapi Ayah nampaknya paham saya hanya sedang mengalami perubahan hormone yang membuat perasaan gak karuan sehingga Ayah hanya menyarankan untuk perbanyak dzikir dan istighfar sambil bilang bahwa Ayah bantu do’a dari jauh. Saat itu Ayah bilang betapa beliau ingin sekali merawat dan membersamai saya namun apa daya kami terpisah jarak yang jauh. Tetapi hal ini benar-benar menyadarkan saya bahwa kasih orang tua sepanjang masa bahkan saat anaknya sudah tidak menjadi tanggungan mereka lagi.

Di tengah perjuangan yang real, saya melihat pengorbanan suami yang real juga di masa tri semester awal. Saat saya ingin pempek misalnya, suami rela bersepeda ke toko Elysha di Den Haag untuk membelikan saya pempek. Dia rela menempuh jarak hampir 20 km pp demi itu. Juga pengorbanan dia yang rela menjadi pelampiasan kekesalan dan perubahan mood yang gak jelas. Suami juga begitu ikhlas men take over pekerjaan rumah, memasak apapun yang kira-kira bisa saya makan, memijat-mijat saya, dan di tengah semua pengorbanan itu tetap harus memanage waktunya untuk kuliah. Terima kasih untuk semua pengorbanan kala itu hingga sekarang.. semoga Allah mempahalai dan membalas dengan balasan terbaik.

Alhamdulillah, morning sickness berlalu tepat saat usia kehamilan memasuki bulan ke empat. Morning sickness hilang begitu saja, rasanya ajaib sekali. Saya kembali menjadi Nida dengan nafsu makan yang cukup tinggi walaupun sampai sekarang masih ada makanan yang belum bisa saya makan karena teringat masa-masa morning sickness dulu. Satu hal yang saya syukuri adalah setidaknya saya tidak mengalami morning sickness yang berlangsung during the whole pregnancy juga tidak mengalami ngidam seperti ummi yang hanya mau makan kedondong atau rambutan saja.

Jadi itulah sekilas kisah di masa kehamilan trimester awal yang kini menjadi kenangan yang jika diingat lagi saat melihat wajah anak yang sudah lahir, semua ‘penderitaan’ taka da apa-apanya.. tak berbekas dan yaa it was all worth it.. Saya menemukan hikmah bahwa di masa first trimester dimana masa emas bagi janin yang harus disuplai degan asupan gizi yang tinggi, justru saat itulah dimana ibu mengalami morning sickness yang membatasi dirinya dalam memberikan suplai gizi yang memadai. Tapi Allah lah sebaik-baik pemelihara dan penyuplai gizi bagi setiap janin. Allah menitipkan janin dan telah menjamin rezekinya termasuk asupan gizi yang mengalir kepadanya. Maka, janin tetap tumbuh dan berkembang walaupun Ibu tidak bisa makan, walaupun makanan yang ibu makan dikeluarkan.. bahkan saya pernah mendapat cerita dari seorang ibu yang mengalami susah makan selama kehamilannya sampai-sampai ketika bayinya lahir, pihak keluarga langsung mengecek anggota tubuh sang bayi takut jika terlahir tidak normal karena ibunya dulu susah makan dan mereka berpikir hanya sedikit gizi yang mengalir ke tubuh sang bayi. Tapi anak Ibu itu yang bernama Khadijah lahir sehat besar normal dan sekarang sudah besar. Ibunya bercerita bahwa dulu dia benar-benar bersandar pada Allah, merutinkan shalat dhuha dan tilawah dan berdo’a yang banyak.. ya begitulah ajaibnya dan kuasanya Allah menjaga setiap janin hingga tumbuh menjadi seorang bayi mungil.. pun saat bayi terlahir Allah pula yang menjadi sebaik-baik pelindung, penjaga, dan pemelihara bayi kita. Allah yang menjamin rezeki sang bayi melalui asi ibu, melalui nafkah yang suami peroleh dsb.. Subhanallah walhamdulillah walaailahaillallah wallaahu akbar 🙂

Maka di tengah kelemahan saya, saya mencoba menyandarkan diri sekuat tenaga pada Allah dengan memanjatkan do’a-do’a terbaik untuk sang buah hati juga untuk diri sendiri sejak masa kehamilan hingga sekarang di masa menyusui. Semoga saya tidak pernah lupa bahwa Allah lah yang penjagaan dan pemeliharaannya sempurna.

Advertisements

cinTA 2 : Moeders voor Moeders (MvM)

Setelah terdaftar di verloskundig Delvi, di hari yang sama sebuah nomor menelepon dan ternyata dari Moeders voor Moeders. Apa itu Moeders voor Moeders? Jadi.. di Belanda ini ada semacam mekanisme untuk membantu pasangan dengan masalah kesuburan untuk bisa memperoleh keturunan yang dikelola oleh Moeders voor Moeders. Oh iya, Moeders voor Moeders sendiri artinya dalam Bahasa Inggris adalah Mother for Mother. Jadi semacam dari Ibu untuk Ibu..

Trus gimana tuh cara mereka bekerja? Moeders voor Moeders ini mengumpulkan air seni (urin) wanita hamil. Sebenernya yang mereka butuhkan adalah hormon hCG yag tentu saja dapat diperoleh pada air seni ibu hamil. Hormon hCG yang udah dikumpulin itu nantinya akan dipulihkan dan digunakan oleh perusahaan farmasi untuk pembuatan obat pembantu kesuburan. Pengumpulan urin hanya dilakukan hingga usia kehamilan maksimal 16 minggu. Kenapa? Karena saat itulah kadar hormon hCG berada pada level yang tinggi.. Jadi itulah sebabnya kenapa mereka sangat gercep ketika tau ada ibu hamil baru seperti saya. Mereka bekerja sama dengan verloskundig center di setiap kota sehingga setiap ada ibu hamil baru yang mendaftar, mereka dapat segera menghubunginya. Saat ditelpon, awalnya saya kurang ngeh maksud mereka, sempat berpikir MvM adalah organisasi atau komunitas kumpulan ibu-ibu hamil seperti delft MaMa (apa itu Delft MaMa? Nantinya diceritain di tulisan lain). Maksud dan tujuan telpon pertama sesungguhnya adalah untuk membuat izin (kesediaan) untuk didatangi oleh mereka ke rumah kita untuk diberi penjelasan lebih lanjut mengenai program mereka.

Saat ke rumah, yang pertama kali dilakukan oleh petugas MvM adalah mengecek apakah kita benar-benar hamil atau tidak dengan mengetes urin saya (sudah saya siaokan sebelumnya sesuai instruksi mereka) menggunakan test pack yang mereka sediakan. Hasilnya Alhamdulillah masih positif hehe…

IMG-8565

Petugas MvM jugamembawa beberapa peralatan.. yang kemudian saya tau kalau itu adalah peralatan untuk menampung urin selama seminggu kedepan.. pede juga ya mereka, padahal belum tentu si ibu mau berpatisipasi.. hehe.. oiya, kalau kita bersedia, ada hadiah selimut buat bayi kita nanti.. an early present for the baby ceunah. Selain itu, mereka juga memberikan beberapa majalah dan brosur infprmasi seputar kehamilan namun sayangnya dalam bahasa Belanda.

IMG-8567

Hadiah selimut bayi

IMG-8566

Setelah dijelasin mengenai MvM dan tujuan mereka, baru deh petugas mengkonfirmasi kesediaan kita untuk berpartisipasi. Berhubung ini menarik dan insya Allah bermanfaat, saya iya kan saja..Jadi, tugas saya adalah mengisi setiap botol atau wadah urin dengan urin setiap hari (tidak mesti full tank). Jadi, setiap buang air kecil sebisa mungkin urinnya ditampung dan dimasukkan ke dalam botol. Di dalam semua botol sudah ada cairan sesuatu yang kata orangnya berfungsi untuk mengurangi bau tidak sedap dari urin yang ditampung.  Kalau lagi gak enak badan atau sakit, boleh diskip, katanya sih bukan karena mereka tidak menerima urin ibu hamil yang sakit tapi semata-mata untuk kenyamanan ibu hamil. Realitanya, selama pengumpulan urin, kadang saya suka nakal karena mager dan ujung-ujungnya gak isi botolnya, tapi itu cuma beberapa kali kok..  Nah, jumlah wadah yang dikasih ada 8 untuk seminggu dan setiap hari selasa nanti ada driver yang datang menjemput botol urin yang sudah terisi dan mengantarkan botol urin kosong untuk pengisian minggu selanjutnya.

Seminggu pertama berlalu dan tibalah hari Selasa, driver tidak berhasil menjemput wadah yang terisi, curiganya karena dia bingung rumah kami yang mana (rumah kami memang tidak ada nomornya karena nomor 165 (A-F) merupakan gedung sebelah sedangkan rumah kami berada persis di sebelah gedung itu dan tidak  bernomor). Saya kemudian mengirim email kepada MvM dan mereka menyarankan untuk meletakkan wadah yang terisi setiap Selasa pagi sebelum jam 8 pagi di depan rumah sehingga driver bisa langsung melihat dan mengganti dengan wadah kosong tanpa harus mengganggu kami dengan mengetuk pintu dan bertemu dengan pemilik rumah.

Jika teman-teman ingin mengetahui lebih banyak mengenai MvM bisa mengunjungi website mereka https://www.moedersvoormoeders.nl/

cinTA 1 : I’m Pregnant (???)

Bismillah..

Assalamu’alaikum semuaa.. long time no see ya.. udah lama juga ku tak mengurus blog ini padahal banyak cerita yang ingin dibagi kepada yang berkenan membacanya..

Apa kabar semua? Semoga teman-teman dimanapun berada selalu dilindungi Allah dan berbahagia karena cinta Nya Allah..

Well, jadi dikesempatan kali ini ceritanya saya ingin berbagi cerita serial tentang kehamilan pertama saya, semoga bisa memberi sedikit manfaat atau inspirasi.. harapannya pun yang baca bisa turut merasakan buncahan kabahagiaanku yang somehow sulit diungkapkan.. too miraculous :’)

Kisah tentang perjalanan dan pengalaman kehamilan juga persalinan ini saya masukkan dalam kategori cinTA (cerita cinta Tentang Aku, Tentang Ayahnya Ara, dan Tentang Ara.. hehe maksa ya, pokoknya mah ini kisah dalam hidup yang penuh cinta <3).

Baiklah mari kita mulai dengan flashback ke awal mula kehamilanku.. Jadi kan setelah nikah, selang sebulan setengah, suami harus berangkat ke Delft untuk kuliah S2, dimana saya belum bisa ikut dan dengan berat hati kami harus menjalani LDM (Long Distance Marriage) yang ternyata berlangsung selama 6 bulan.. Qadarullahnya Allah belum menakdirkan diriku hamil sebelum suami berangkat dan yap bersabar saja dulu hingga waktunya tiba..

Singkat cerita, saya akhirnya menyusul suami bulan Maret 2017.. Sejak akhirnya bisa bersama suami lagi, tentu harapan untuk bisa segera hamil sangat besar.. waktu itu sempat telat haid klo gak salah 4 hari, kemudian mulai curiga dan beli test pack.. suami juga gak sabar dan ketika bangun tidur langsung mengingatkan untuk segera test (saat itu udah bawa test pack dari indo), tapi qadarullah saat itu hasilnya negatif dan siang harinya ternyata saya haid hehe..

Nah.. bulan berikutnya saya telat haid lagi tapi kali ini gak mau terlalu ge-er dan menunggu hingga 7 hari baru test lagi.. 7 hari berlalu dan haid tak kunjung datang mulai lah agak curiga dan diam-diam beli test pack tanpa sepengetahuan suami.. ceritanya mau surprise eh tapi gagal karena ternyata saya salah beli alat test pack, bukannya yang untuk kehamilan malah beli yang untuk ngecek kesuburan.. baru tau juga lah ada dua jenis test pack begitu.. beli test packnya waktu itu pertimbangannya karena murah dan isinya satu kotak 7 test pack trus asal nebak-nebak aja karena gak ngerti bahasa belanda dan dikemasannya ada gambar bayi ya wis saya pikir itu test pack buat cek kehamilan..

Hasil tes pake test pack kesuburan adalah positif (itu teh tgl 26 Mei), tapi kan karena salah akhirnya minta suami beliin test pack untuk kehamilan.. besoknya (tgl 27 Mei) tes lagi dan alhamdulillah positif walau garis kedua agak samar.. Meskipun hasilnya positif, tapi entah kenapa hati tetap gak yakin dan bilang ke suami bakal tes lagi seminggu kemudian dengan pake merek test pack yang berbeda.. seminggu kemudian (tgl 2 Juni) tes lagi dan positif lagi, tapi lagi-lagi masih pengen diyakinkan dengan tes sekali lagi seminggu kemudian.. the last test (tgl 9 Juni) hasilnya alhamdulillah masih positif dan disitulah hati merasa yakin..

img-8346-e1519394657262.jpg

Hasil tes kesuburan tgl 26 Mei (Bawah), Hasil tes kehamilan tgl 27 Mei (Atas)

IMG-8424

Hasil tes kehamilan tgl 2 Juni

IMG-8479

Hasil tes kehamilan tgl 9 Juni

Oiya, sebenernya tanggal 1 juni pas kebetulan telpon ummi udah cerita tentang hasil positif tes minggu lalu trus sama gejala lemes dan agak mual selama puasa (waktu itu lagi bulan Ramadhan).. trus ummi udah ngelarang buat naik sepeda dan stop shalat tarawih ke masjid (karena naik sepeda).. katanya di rumah aja shalatnya.. kalau ke ibu dan bapak mertua ngabarinnya setelah test yang tgl 2 juni itu.. itupun karena suami keukeuh katanya biar dido’ain walopun kita masih nunggu kepastian dari bidan..

Saya dan suami merasa saya officially hamil itu ya setelah melihat hasil USG pertama. Oiya, sebelum cerita tentang hasil USG pertama, saya ingin cerita sedikit tentang prenatal care di Belanda yang berbeda dengan di Indonesia.

Secara umum, perawatan kehamilan dan persalinan di Belanda (tanpa masalah dan komplikasi) ditangani oleh bidan. Biasanya di negara lain termasuk Indonesia, ibu hamil akan ditangani oleh dokter kandungan atau ginekolog, tapi di Belanda semua proses kontrol selama kehamilan ditangani oleh bidan yang kompeten (insya Allah) dan bersertifikat. Yang mereka lakukan pada dasarnya sama aja dengan yang dilakukan oleh dokter kandungan, kecuali untuk masalah komplikasi kehamilan yang parah yang butuh penanganan dokter kandungan.

Ibu-ibu hamil yang sudah mengetahui perihal kehamilannya melalui test pack, dianjurkan untuk mendaftar ke verloskundig center (midwifery center) terdekat di daerahnya antara minggu ke 8-10 kehamilan atau as soon as kita tau kita hamil. Setelah mendaftar melalui telepon, pertemuan pertama akan dijadwalkan antara minggu ke 8/9-12 kehamilan. Berdasarkan hasil tanya-tanya teman yang lebih dulu hamil, ada dua verloskundig center yang dekat. Yang pertama saya telpon adalah yang jaraknya paling dekat rumah tapi sayangnya pas mereka tau perkiraan due date kelahiran di bulan Januari, mereka gak menyanggupi untuk menerima saya sebagai pasien mereka karena jumlah pasien yang sudah banyak. Alhamdulillah saya bisa mendaftar di Verloskundig kedua yaitu Verloskundig Delvi. Btw, saya mendaftar diusia kehamilan sekitar 5 minggu berdasarkan aplikasi di HP (setelah melakukan 3 kali tes dan merasa yakin), dan kemudian dijadwalkan bertemu bidan di usia kehamilan 8 minggu. Tanggal 14 juni pertama kali ketemu bidan dan USG untuk liat keberadaan janin.

Saat diUSG di perut, hasil di monitor gak menunjukkan apapun karena kata bidannya saya datang  gak dalam keadaan full bladder (padahal rasanya udah minum buanyaak bgt haha). Sempet nanya mungkinkah hasil test pack positif tapi gak hamil terus bidannya langsung bilang ya mungkin aja tapi kita bakal liat lewat transvaginal ultrasound. Barulah setelah melakukan transvaginal ultrasound terlihat janin kecilku yang membuat hati senang tak terkira dan legaaaa.. Alhamdulillah janin memang ada di rahimku.. masih sangat kecil tapi (see the pic).

IMG-8538

Well, hasil USG inilah yang membuat kami yakin 100% bahwa saya hamil.. Alhamdulillah..

Insya Allah.. Sebuah Kesungguhan dan Keyakinan


Manusia tempatnya khilaf dan salah, sungguh teramat lemah..

Kita seringkali berniat, berazam, dan berjanji namun tak jarang tidak menanggapinya dengan serius..

Seringkali memang ragu apakah sanggup mewujudkan niat, azam, serta janji itu.. Tetapi bukankah jikapun ragu kita tetap punya pilihan untuk berusaha maksimal seraya memohon pertolongan Allah untuk mewujudkannya.. Atau memang kita memenangkan keraguan dan akhirnya merelakan semua itu untuk tidak terwujud..

Kita seringkali berkata “insya Allah” terlebih jika kita ragu.. Padahal bukankah insya Allah harusnya mengisyaratkan kesungguhan.. Kesungguhan dan keyakinan yang lahir dari kesadaran diri bahwa sebagai hamba yang lemah kita memiliki Allah yang tentu akan menolong hambaNya yg berniat, berazam, serta berjanji dengan hal-hal yang baik?

Kalimat insya Allah merupakan warisan para Nabi. Ia bukan perkara ringan, memiliki makna yang dalam. Kalimat yang dengan mengucapkannya kita menggantungkan harapan padaNya agar semua yang kita inginkan bisa terwujud dengan izinNya, dengan pertolonganNya..

| “Secara harfiah, kalimat insya Allah bermakna “jika Allah menghendaki”. Ucapan ini melambangkan kesadaran hamba akan hakikat dirinya yang serba kekurangan dan jahil. Sekaligus mengiktiraf kekuasaan Allah Swt yang Maha Kuasa dalam menentukan setiap yang berlaku di alam semesta ini.” |

Ya benar adanya kita cuma bisa merancang dan berharap lewat niat yang kita lantunkan, lewat azam yang kita kobarkan, lewat janji yang kita ucapkan.. Pada akhirnya kita harus meyakini bahwa Allah lah penentu terlaksananya semua itu.

Tetapi mengucapkan insya Allah seharusnya lebih dimaknai sebagai pengakuan atas kelemahan diri serta kebergantungan akan kasih sayang Allah dan permohonan agar Allah berkenan membantu kita mewujudkan segala keinginan..

Kenapa justru seringkali muncul rasa aman ketika diri tak mampu mewujudkan niat, azam, dan janji saat sebelumnya melibatkan kata insya Allah.. Kita merasa “ah tak apa, dulu aku telah berucap insya Allah, mungkin memang Allah tidak mengizinkan”..

Ya mungkin saja begitu adanya, tetapi semoga bukan karena kita yang memang sedari awal tak mengerahkan usaha maksimal bukti kesungguhan serta tak melibatkan keyakinan akan pertolonganNya..

Maka saat meniatkan sesuatu dalam rangka ingin menjadi pribadi yang lebih baik, berucaplah insya Allah dengan keyakinan bahwa segala hal baik pasti akan Allah bantu mewujudkannya, buktikan pada Allah kesungguhan kita..

Insya Allah aku ingin bangun shalat tahajjud.. Maka mulailah dengan meniatkan sebelum tidur, berdo’a memohon Allah bangunkan, memasang alarm, membaca keutamaan shalat tahajjud, mengingat-ingat bahwa ia merupakan shalatnya para Nabi, lalu kala terbangun lawanlah sekuat tenaga tiupan syaithan yang hendak menggagalkan niat kita..

| Berkata Imam al-Syafi‘i: “Kelemahan adalah sifat manusia yang paling jelas. Sesiapa yang selalu menyadari sifat ini, dia akan beroleh istiqamah dalam beribadat kepada Allah.” |

Yaa.. Memang nya seberapa hebat kita merasa mampu mewujudkan semua niat dan i’tikad baik lewat kemampuan diri sendiri.. Betapa banyak orang shalih yang istiqomah menjaga amalan yaumiyah nya, terus menerus meningkatkan amalan yaumiyahnya dan itu bukan hal yang mustahil sebab Allah menguatkan dan menolong mereka.. Bukan semata-mata karena diri mereka..

Lalu masalahnya kita masih disini, konsisten dengan grafik yang datar, bermain-main dengan kata insya Allah, terus menerus berniat tapi merasa aman, pasrah dengan makna insya Allah.. Jika Allah berkehandak maka niatku pasti akan terwujud jika tidak maka ya berarti Allah belum berkehendak..

Jika niat seringnya merupakan hubungan kita secara vertikal kepada Allah, lain dengan janji yang melibatkan orang lain. Kita pun sering tidak menyadari ketika kita berjanji kepada orang lain, hakikatnya kita berjanji pada Allah.. Dan janji adalah hutang yang wajib ditunaikan..

Mungkin inilah yang membuat seringkali kita mendengar nasihat untuk tidak mudah berjanji.. Sebab ia perkara berat, butuh keseriusan.. Tapi yakinlah lagi-lagi  jika kita libatkan Allah dengan mengucap insya Allah setelah janji kita, maka apakah Allah tak akan menolong?

Kita pun harus memposisikan diri kita sebagai orang yang kita beri janji, bagaimana pula perasaannya bila janji itu tak tertunaikan? Bagaimana rasanya jika janji itu tidak diikhtiarkan dengan serius untuk ditepati? Tentu ada kecewa disitu..

| “Sebaliknya, insya Allah lebih sesuai difahami sebagai kata-kata jaminan bahwa janji yang telah terucap akan terlaksana dengan baik. Sebab siapa yang berjanji dengan niat sungguh-sungguh untuk melaksanakannya, sambil menyerahkan perkara itu kepada Allah, bantuan dari Allah akan datang untuk mewujudkan janji Tersebut.”

Berkata Ibn Battal Al-Maliki dalam Syarh Al-Bukhari: “Hadis ini mengandung pengajaran bahwa sesiapa yang mengucapkan insya Allah, sambil menyadari kelemahan dirinya dan meminta bantuan dari Allah, maka besar kemungkinan ia akan memperolehi apa yang diharapkannya.” |

Seorang muslim memang tak boleh puas dengan amalan-amalannya saat ini, kita harus senantiasa harap dan takut.. Dengan begitu kita akan terus berusaha meningkatkan amalan-amalan kita.. Dan semua memang bermula dari niat, dari azam, dari janji kita pada Allah utamanya..

Berislam itu tidak sulit, namun juga tidak mudah.. Kita harus berusaha mewujudkan taqwa dengan usaha serta do’a yang maksimal.. Jika kita mampu profesional dalam perkara duniawi, kenapa tak bisa profesional dalam urusan keislaman kita, dalam perkara akhirat kita? Hadirkan selalu keinginan untuk berislam secara kaffah dan yakinlah Allah pasti akan menolong.. Ingat-ingatlah dan teladani para nabi dan rasul maka bukankah itu cukup membuat kita bersemangat menjalankan islam seperti yang mereka jalankan dahulu? Lihat-lihatlah sekeliling kita dimana banyak sekali orang shalih yang mampu membuat Allah cinta pada mereka.. Tak inginkah kita seperti mereka?

Semoga Allah selalu bimbing kita mewujudkan segala ingin yang tertuang dalam niat, azam, cita-cita, dan janji..

Semoga kita termasuk orang-orang yang memaknai “insya Allah” dengan tepat.. Sebuah kata powerful yang begitu sarat makna..

Semoga semangat menjadi lebih baik selalu hadir dalam diri kita, selemah apapun kita dan sungguh memang kita lemah sekali dan kita butuh Allah..

Aamiin.. Aamiin.. Aamiin..

Tulisan ini merupakan hasil perenungan diri untuk mengingatkan diri yang lemah ini.. Semoga Allah berkenan mengampuni segala khilaf dan salah terutama atas segala niat, azam, dan janji yang sengaja tak terwujud karena bodohnya diri ini..

Referensi : http://umarmnoor.blogspot.co.id/2012/09/keliru-makna-insya-allah.html?m=1

Rasaku Padamu DariNya

“Putriku, engkau akan meninggalkan suasana yang telah melahirkanmu, dan engkau pun akan berpisah dengan kehidupan yang selama ini membesarkanmu. Seandainya seorang wanita tidak membutuhkan seorang suami karena kekayaan kedua orangtuanya dan kebutuhan mereka terhadapnya, maka engkau adalah orang yang paling tidak membutuhkan suami. Namun, kenyataan menyatakan bahwa wanita itu diciptakan untuk laki-laki dan kaum laki-laki diciptakan untuknya” -Nasihat Umamah binti Harits kepada putrinya, Ummi Iyas binti Auf pada malam pernikahannya-

Sudah seminggu aku berpisah sementara dengan suamiku. And now we are having a Long Distance Marriage relationship. Aku mulai merindukan kehadirannya sesaat setelah aku membalikkan badan meninggalkan ia di bandara. Dan hari-hari berlalu, rindu terus menghampiri, dalam sepi, dalam ramai.  It really is tough and it really is a daily struggle for me.

It’s strange.. untuk aku yang baru mengenalnya, yang baru bersamanya selama 5 minggu dan kemudian berpisah lalu sendiri.. sangat aneh memiliki rasa rindu semacam itu. Pasalnya, aku sudah terbiasa merantau, hidup sendiri, jauh dari keluarga. Tapi kali ini rasanya beda sekali.. mungkin aku lebay pikirku.. lalu aku nampaknya perlu mengkonfirmasi kelebay-an ku pada ummi karena sepenglihatanku ummi selalu tegar jika ditinggal ayah ke luar kota atau luar negeri.

N : Ummi klo ditinggal ayah pergi suka kangen gak?

U: Iyalah nid.. ikatan batin suami istri justru melebihi ke ortu. beda lagi ikatan batin ortu ke anak.

N : kenapa bisa gtu ya mi? padahal kita sama ortu lebih lamaa, sama suami baru kenal.

U : Allah tegaskan dalam ayatNya “Wa min aayaatihii ankhalaqalakum……” Klo hubungan ortu dan anak itu beda lagi. Nanti Nida rasakan klo sudah punya anak.

N : Hoo gtu ya mi..

U : Begitulah cara Allah mengatur perasaan hambaNya.

“Di antara tanda-tanda kebesaran Nya ialah Allah menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, serta Allah jadikan rasa kasih dan sayang diantaramu. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir” (QS. Ar-Ruum :21)

Ini rupanya maksud ayat yang ummi sampaikan. Aku sepertinya lupa bahwa perasaan yang muncul terhadap pasangan seperti yang tengah kurasakan merupakan bagian dari kebesaran Allah.. Masya Allah :’)

Dan seperti nasihat di atas, nyatanya aku diciptakan untuknya dan dia diciptakan untukku, maka Allah pasti anugerahkan rasa kasih dan sayang diantara kami, yang salah satu bentuknya adalah rindu..

Mengelola hati tidak mudah, tapi bersama Allah akan mudah bukan? Bukankah Allah yang Maha Mengatur segala rasa.. Semoga Allah menguatkan aku menjalani hari-hari being ‘single’.. Bismillah..

Untuk kamu yang disana, tenang saja, Allah menjagaku disini dan insya Allah aku baik-baik saja 🙂

Do’aku menyertaimu dan kuyakin engkau pun dalam penjagaan Nya 🙂

 

Tik Tok

Aku terbangun pagi ini dengan rasa yang sulit diterjemahkan,

Semalam sudah kutekadkan untuk menanggapi rindu dengan dingin..

Tapi kau hadir dalam mimpiku, dan membuatku terbangun dengan rasa rindu yang justru semakin membuncah..

Ku aktifkan koneksi internet hp ku, sebuah notifikasi darimu membuat jariku bergegas membuka pesan darimu..

Entah seperti apa rindu yang kurasa setelah membaca pesanmu, yang jelas air mata tak berhenti mengalir..

Tapi kau berpesan padaku untuk kuat, juga menguatkanmu..

Aku bisa apa sekarang selain memohon padaNya agar aku disini kuat juga engkau disana kuat..

Aku bisa apa sekarang selain memohon padaNya agar rindu menjelma menjadi semangat untuk berlari mendekat padaNya, meminta kekuatan padaNya..

Maka, aku berharap kita sama-sama menguatkan diri kita, menguatkan do’a-do’a kita, menguatkan kesabaran kita..

Mari menjadi cahaya yang menembus langit di sepertiga malam agar Rabb kita memudahkan segala urusan dan mempersingkat waktu perpisahan kita..

Mari memohon ampun sebanyak-banyaknya agar segala permohonan Allah ridhoi..

Mari berbenah diri bersama agar saat kita bertemu lagi, kita dalam keadaan yang lebih baik..

Sementara ini, mari bertemu dalam do’a, dalam mimpi, dalam koneksi hati dan dunia maya..

Hal Kecil Namun Tak Sepele

Jadi ceritanya sepulang dari UK, desember 2015 lalu, saya mengirim foto2 tulisan dgn latar stadion request teman-teman saya. Mereka adalah fans chelsea. Hari-hari terakhir di UK, saya mengusahakan untuk memenuhi janji saya kepada beberapa teman atau keluarga yang request sesuatu. Sayangnya saya tidak sempat membelikan kaos request sepupu saya. Hiks..

Dua teman saya request untuk dituliskan namanya lalu difotokan di depan stadion chelsea, Stamford Bridge. Honestly, stadion nya agak jauh dr lokasi sy menginap di london dan saat itu uang saya sudah sgt sekarat. Tapi janji tetap janji dan saya tidak ingin mengecewakan atau lebih tepatnya ingin berbagi kebahagiaan. Saya selalu merasa mewakili keberadaan sesiapa pun yg request kepada saya untuk mengunjungi suatu tempat.

Maka saya ke stadion chelsea, seorang diri. Membawa beberapa lembar kertas namun sayangnya lupa membawa pulpen. Alhasil, saya masuk ke dalam toko souvenir chelsea dan membeli pulpen yg paling murah agar bisa menuliskan kata2 di kertas yg sudah sy siapkan. Saya pun membelikan souvenir untuk mereka.

Selepas mengirim foto2 dan mengabarkan bahwa sy membelikan mereka souvenir, respon mereka beyond my expectation. Mereka sangat terharu, surprise, tidak menyangka klo sy willing to do that for them. Ya Allah.. Rasanya sy pun sangat terharu. Padahal sy tidak mengeluarkan effort maksimal dlm memenuhi permintaan mereka itu :(.  Saya ingin sekali membeli banyak souvenir untuk mereka atau paling tidak yg gak seadanya (maklum saat itu uang sy benar2 menipis). Saya tidak menyangka hal kecil yg sy lakukan ternyata sgt tidak sepele dimata mereka.. Huhu

Saya tidak tahu persis apa yg para fans rasakan jika mendapat kiriman foto di dpn stadion club favorit mereka, ato apa yg para fans rasakan ketika mendapat souvenir yg dibeli di toko souvenir resmi club favorit mereka. Itulah mengapa kebahagiaan mereka akan apa yg saya lakukan masih sulit saya percaya. Sebagai orang yg tidak mengerti dunia persepak-bolaan, rasanya berada di stadion2 itu biasa saja.. 😅

Banyak hal yg seringkali kita anggap hal kecil dan sepele tp bernilai besar dimata org lain dan mungkin bernilai besar sebagai pahala di mata Allah. Maka wajar bila Islam selalu mengajarkan untuk berbuat baik walau hanya menyingkirkan duri di jalan.

Jika muncul niatan untuk berbuat suatu kebaikan dalam hati, lakukan jika memang bisa dilakukan, walau ia tak sempurna, walau mungkin berat langkah diayun, walau ragu terbesit, lakukan saja. Dan jika ianya terjadi, itu Allah yg menggerakkan dan Allah yg menakdirkan..

Ya Allah.. Nida senang jika bisa bermanfaat bagi org lain, jika bisa menjadi wasilah munculnya bahagia pada org lain.. Semoga Engkau selalu mempercayai ku untuk mengerjakan proyek2 kebaikan yg walau kecil namun tak sepele.. Aamiin..